Advertisement
Timur Tengah
Home » Presiden Macron Ingin Hormuz Dipisahkan dari Isu Nuklir Iran

Presiden Macron Ingin Hormuz Dipisahkan dari Isu Nuklir Iran

JAKARTA, UBN NEWSROOM — Jumat, 13 Rabiul Akhir 1448 H / 25 September 2026 M.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan agar persoalan pembukaan kembali Selat Hormuz dipisahkan dari perundingan mengenai program nuklir Iran. Paris menilai pemisahan kedua isu tersebut diperlukan agar jalur pelayaran strategis itu dapat kembali berfungsi tanpa harus menunggu tercapainya kesepakatan besar antara Washington dan Teheran.

Macron menyampaikan pandangan itu dalam wawancara bersama stasiun televisi Prancis TF1 dan France 2, Kamis (24/9/2026). Menurut dia, perundingan mengenai program nuklir Iran tetap penting bagi keamanan internasional, tetapi penyelesaian persoalan Hormuz perlu ditempatkan dalam jalur diplomatik tersendiri.

“Ada konflik dengan Iran, itu satu hal. Ada pembicaraan mengenai nuklir Iran yang harus dilakukan karena menyangkut keamanan dunia, tetapi kita harus mencoba menempatkan persoalan Hormuz secara terpisah,” kata Macron. “Itulah yang saya perjuangkan.”

PERHATIAN EROPA TERHADAP SELAT HORMUZ

Sudarnoto Abdul Hakim: “Menghentikan Israel Itu Harus dengan Militer”

Pernyataan Macron memperlihatkan semakin besarnya perhatian Eropa terhadap Selat Hormuz bukan hanya sebagai bagian dari konflik Amerika Serikat-Iran, melainkan juga sebagai persoalan keamanan energi dunia. Macron mengatakan gangguan di Hormuz merupakan penyebab utama lonjakan harga bahan bakar yang kini dirasakan masyarakat Prancis.

Pemerintah Prancis, kata Macron, berupaya mencegah kelangkaan bahan bakar sekaligus mendorong langkah terkoordinasi negara-negara maju untuk meredam tekanan harga. Salah satu pilihan yang dibicarakan adalah pelepasan cadangan minyak strategis secara terkoordinasi guna menambah pasokan ke pasar.

SERUAN 80 NEGARA UNTUK MEMBUKA HORMUZ

Krisis Hormuz kini memang bergerak melampaui persoalan bilateral Washington dan Teheran. Sekitar 80 negara pada Kamis menyerukan pembukaan kembali selat tersebut dengan segera serta mengecam serangan Iran dan kelompok Houthi yang dinilai mengganggu perdagangan internasional dan keamanan energi.

“Tindakan Iran di Selat Hormuz terus mengancam keamanan internasional serta hak dan kebebasan navigasi,” demikian pernyataan bersama yang dibacakan Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid Al Zayani di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Houthi Klaim Serang Bandara Riyadh, Koalisi Saudi Cegat Tiga Rudal

Seruan puluhan negara itu memperlihatkan posisi strategis Hormuz bagi perekonomian global. Selat sempit yang menghubungkan Teluk dengan Laut Arab tersebut merupakan salah satu jalur terpenting bagi perdagangan minyak dan gas dunia.

SEKITAR 125 KAPAL PER HARI SEBELUM PERANG

Sebelum perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari 2026, sekitar 125 kapal komersial besar rata-rata melintasi Hormuz setiap hari. Kapal-kapal itu mencakup tanker minyak, pengangkut gas, kapal kargo curah hingga kapal kontainer, sementara jalur tersebut menangani sekitar seperlima pasokan harian minyak mentah dan gas alam cair dunia.

Associated Press (AP) sebelumnya menggambarkan betapa belum stabilnya jalur tersebut. AP melaporkan arus kapal sempat meningkat dari kurang dari 10 persen kondisi normal menjadi sekitar separuh tingkat sebelum perang setelah tercapainya kesepakatan sementara AS-Iran, tetapi serangan terhadap kapal kembali menghambat pemulihan lalu lintas.

KLAIM SERANGAN TERHADAP TANKER

Biaya Haji Tahun 2027 Turun Sedikit Menjadi Rata-Rata Rp 54,6 Juta

Ketegangan itu belum sepenuhnya mereda. AP pada 18 September melaporkan Iran mengklaim menyerang tanker minyak berbendera Togo, Trend, setelah kapal tersebut dituduh mencoba melintasi Hormuz secara ilegal. AP menyatakan ketika itu belum dapat mengonfirmasi secara independen klaim Iran tersebut.

Namun, tanda-tanda peningkatan aktivitas pelayaran mulai terlihat. Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa sekitar 60 kapal komersial melintasi Selat Hormuz pada Rabu (23/9/2026), membawa volume minyak mentah harian terbesar melalui selat tersebut sejak awal Juli.

Menurut pejabat yang berbicara tanpa disebutkan namanya itu, sekitar 40 dari 60 kapal tersebut berkoordinasi dengan militer AS untuk memperoleh perlindungan. Sekitar 22 juta barel minyak disebut berhasil keluar melalui jalur tersebut dalam satu hari. Reuters menegaskan belum dapat memverifikasi secara independen angka yang disampaikan pejabat AS tersebut.

Meski menunjukkan peningkatan, jumlah sekitar 60 kapal itu masih hanya sekitar separuh dari rata-rata 125 kapal komersial besar per hari sebelum perang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan lalu lintas di Hormuz masih jauh dari normal dan tetap sangat bergantung pada perkembangan keamanan serta diplomasi AS-Iran.

JALUR DIPLOMASI AS-IRAN KEMBALI BERGERAK

Pada saat yang sama, jalur diplomasi kembali bergerak di New York. Reuters melaporkan para perunding AS dan Iran sedang menjajaki penyelesaian bertahap yang dapat mencakup pembukaan kembali Hormuz oleh Teheran dan pencabutan blokade ekonomi AS terhadap Iran. Informasi itu berasal dari sumber-sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut.

Iran sebelumnya juga menyatakan kesediaan membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu sekitar satu pekan apabila Amerika Serikat mengurangi tekanan militernya dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Delegasi Iran yang berada di New York disebut memiliki kewenangan untuk menjajaki jalan diplomatik tersebut.

Washington pada sisi lain terus menempatkan kebebasan navigasi sebagai salah satu tuntutan utamanya. Presiden AS Donald Trump dalam pidatonya di Majelis Umum PBB menyerukan agar Iran membuka kembali Hormuz dan kembali ke meja perundingan untuk mencari penyelesaian konflik.

YANBU MENJADI JALUR ALTERNATIF ENERGI

Persoalan Hormuz bahkan mulai mengubah konfigurasi keamanan energi di kawasan. Arab Saudi semakin mengandalkan terminal Yanbu di Laut Merah sebagai jalur alternatif bagi ekspor minyak ketika pelayaran melalui Hormuz terganggu.

AFP melaporkan Macron mengumumkan Prancis akan mengirim personel militer, radar, dan sistem pertahanan untuk membantu melindungi terminal minyak strategis Yanbu dari serangan Houthi. “Kami akan mengirim aset militer, yakni tentara, radar, dan sistem pertahanan untuk melindungi lokasi ini,” kata Macron.

Macron menegaskan pengerahan tersebut bersifat defensif dan bukan dimaksudkan membawa Prancis masuk ke dalam konflik. Langkah Paris menunjukkan bahwa krisis Hormuz kini berkelindan dengan keamanan Bab al-Mandab dan jalur ekspor energi melalui Laut Merah.

MACRON BANTAH LAPORAN PERINGATAN CIA

Di tengah krisis energi itu, Macron juga membantah laporan bahwa Badan Intelijen Pusat AS (CIA) telah memperingatkan Paris mengenai kemungkinan operasi pesawat nirawak Rusia yang dapat menyasar Eropa selatan, termasuk Prancis.

“Saya dapat membantahnya. CIA tidak memberi tahu dinas Prancis,” ujar Macron dalam wawancara yang sama. Euronews juga melaporkan bantahan tersebut dan mencatat Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto menyampaikan bantahan serupa terhadap laporan mengenai dugaan peringatan intelijen itu.

Meski membantah adanya peringatan CIA, Macron mengatakan Prancis tetap memperhatikan peningkatan tindakan yang dinilainya bermusuhan dari Rusia di Eropa. Ia mengatakan kemungkinan serangan serupa dengan insiden yang terjadi di Leipzig tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan.

HORMUZ DAN TEKANAN HARGA ENERGI

Bagi Paris, tekanan paling langsung terhadap masyarakat Prancis saat ini tetap datang dari krisis energi. Karena itu, Macron mendorong agar persoalan Hormuz tidak tersandera oleh keseluruhan sengketa Washington-Teheran, terutama perdebatan mengenai program nuklir Iran.

Gagasan tersebut sekaligus menempatkan Hormuz sebagai jalur negosiasi tersendiri: membuka kembali pelayaran dapat meredakan tekanan harga energi global, sedangkan persoalan nuklir dan penyelesaian perang dapat terus dinegosiasikan melalui jalur diplomatik yang lebih luas.

Dengan hampir 80 negara kini menyerukan pembukaan kembali selat, tekanan diplomatik terhadap Teheran meningkat. Namun, fakta bahwa lalu lintas baru mencapai sekitar separuh kondisi sebelum perang memperlihatkan bahwa Hormuz belum kembali menjadi jalur perdagangan yang normal.

Selat sempit itu kini bukan sekadar jalur bagi tanker minyak. Hormuz telah berubah menjadi salah satu kartu tawar terpenting dalam upaya mengakhiri perang AS-Iran: Teheran menginginkan pelonggaran tekanan ekonomi, sementara Washington menuntut kebebasan navigasi di salah satu urat nadi energi terpenting dunia.

PERSPEKTIF UBN NEWSROOM

HORMUZ SEBAGAI PERSOALAN KEAMANAN GLOBAL

Perkembangan di Selat Hormuz menunjukkan bahwa gangguan terhadap satu jalur pelayaran strategis dapat berdampak jauh melampaui kawasan Timur Tengah. Harga energi, perdagangan internasional, keamanan pelayaran, dan stabilitas ekonomi negara-negara lain ikut terdampak.

AMANAH DALAM MENJAGA JALUR PERDAGANGAN

Islam mengajarkan agar hubungan antarmanusia dan antarbangsa diarahkan pada perdamaian ketika terdapat kesempatan untuk mencapainya.

فَإِن جَنَحُوا۟ لِلسَّلْمِ فَٱجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

(Q.S. Al-Anfal [8]: 61)

Jalur perdagangan dan energi yang menyangkut kepentingan banyak negara membutuhkan keamanan dan kebebasan navigasi. Karena itu, upaya diplomasi untuk membuka ruang perdagangan sekaligus mencegah perluasan konflik menjadi bagian dari tanggung jawab menjaga kemaslahatan yang lebih luas.

CATATAN REDAKSI

Sumber: Reuters, Associated Press (AP), AFP, Euronews, dan laporan wawancara Emmanuel Macron dengan TF1 dan France 2 pada 24 September 2026.

DUKUNGAN OPERASIONAL DAKWAH & JURNALISME PERADABAN

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Keberlangsungan kerja dakwah dan jurnalisme membutuhkan dukungan bersama. Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom serta dukungan tanggap bencana dapat disalurkan melalui:

BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement