Advertisement
Agama
Home » Tiga Tahun Genosida Gaza: “Batas Antara Manusia & Monyet”

Tiga Tahun Genosida Gaza: “Batas Antara Manusia & Monyet”

MTHQ Bersama KH. Bachtiar Nasir Mengajak Umat Merefleksikan Kemanusiaan dan Penyakit Al-Wahn

JAKARTA, UBN NEWSROOM — Selasa, 24 Rabiul Akhir 1448 H / 6 Oktober 2026 M.

Tepat pada 7 Oktober 2026, tiga tahun telah berlalu sejak tragedi kemanusiaan di Gaza memasuki babak panjang yang telah menelan begitu banyak korban jiwa. Momentum tersebut menjadi bahan refleksi dalam Majelis Tadabbur & Hidayah Qur’an (MTHQ) bersama KH. Bachtiar Nasir, dengan mengangkat tema “3 Tahun Genosida Gaza: Batas Antara Manusia & Monyet.”

Tema tersebut berangkat dari renungan terhadap penggunaan diksi “monyet” dalam Al-Qur’an, yang disebut dalam tiga ayat: QS. Al-Baqarah ayat 65, QS. Al-Ma’idah ayat 60, dan QS. Al-A’raf ayat 166.

Dalam Al-Qur’an, kisah tersebut berkaitan dengan kaum yang melanggar ketentuan Allah dan melampaui batas. Dua ayat, yakni QS. Al-Baqarah: 65 dan QS. Al-A’raf: 166, secara khusus menggambarkan hukuman terhadap mereka yang terus-menerus melanggar batas yang telah ditetapkan.

Partai Hijau Inggris Sebut Zionisme sebagai Rasisme, Israel Murka dan Larang Pemimpinnya Masuk

Dari sinilah tema “Batas Antara Manusia & Monyet” menjadi sebuah pertanyaan moral: di mana batas kemanusiaan ketika manusia tidak lagi mampu menghargai kehidupan manusia lainnya?

KETIKA MELAMPAUI BATAS KEMANUSIAAN

Dalam refleksi yang disampaikan pada MTHQ, tragedi Gaza dipandang bukan hanya sebagai persoalan politik atau konflik bersenjata, tetapi juga sebagai ujian terhadap kemanusiaan.

Jika pembunuhan terhadap puluhan ribu manusia, penghancuran rumah dan fasilitas sipil, serta penderitaan masyarakat terus berlangsung, maka pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya “apa yang terjadi di Gaza?”, tetapi juga “apa yang terjadi dengan kemanusiaan kita?”

Diksi “monyet” dalam tema ini tidak dimaksudkan untuk menyamakan suatu bangsa atau kelompok manusia dengan hewan, tetapi menjadi metafora reflektif yang bersumber dari kisah Al-Qur’an tentang manusia yang melampaui batas ketentuan Allah.

Gaza Memecah Politik Jerman, Tokoh Partai Kiri Dikaitkan dengan Peringatan 7 Oktober

Al-Qur’an menggambarkan bahwa persoalan manusia bukan hanya bentuk fisik, tetapi juga pilihan moralnya. Manusia dapat kehilangan kemuliaan ketika akal, hati, dan nuraninya ditundukkan oleh keserakahan, kekuasaan, kebencian, dan kezaliman.

Karena itu, tragedi Gaza juga menghadirkan pertanyaan kepada masyarakat dunia: ketika genosida berlangsung, di sisi mana kemanusiaan kita berdiri?

BUKAN HANYA MEREKA YANG MEMBUNUH, TETAPI JUGA KITA YANG DIAM

Refleksi tersebut kemudian diarahkan kepada mereka yang menyaksikan penderitaan Gaza tetapi memilih untuk diam.

Ketika kemungkaran dan kezaliman berlangsung, diam bukan selalu berarti netral. Dalam tradisi Islam, terdapat kritik keras terhadap sikap membiarkan kemungkaran ketika seseorang memiliki kemampuan untuk mencegah atau menyuarakan kebenaran.

Greta Thunberg Turun ke Jalan Bela Palestina Pada 7 Oktober

Karena itu muncul istilah “setan bisu”, sebuah ungkapan yang sering digunakan dalam khazanah dakwah untuk menggambarkan orang yang mengetahui kebenaran tetapi memilih diam terhadap kebatilan.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih dalam:

Apakah kita masih mempertahankan kemanusiaan kita ketika melihat penderitaan manusia lain, tetapi hati kita tidak lagi tergerak?

PENYAKIT YANG LEBIH HALUS: AL-WAHN

Selain persoalan kemanusiaan, MTHQ juga mengajak umat melakukan evaluasi terhadap kondisi internal umat Islam.

Umat tidak selalu lemah karena tidak memiliki kekuatan. Bisa jadi mereka memiliki kemampuan, tetapi takut menggunakannya. Mereka mampu melangkah, tetapi menyerah sebelum memulai. Mereka mengetahui kebenaran, tetapi memilih diam karena khawatir kehilangan kenyamanan.

Kondisi inilah yang dikaitkan dengan al-wahn, sebagaimana disebut dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ:

“…وَحُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ”

“…cinta dunia dan takut mati.”

(HR. Abu Dawud)

Lemah secara fisik bukanlah kehinaan. Manusia memang diciptakan dalam keadaan lemah. Namun, persoalan menjadi berbeda ketika kelemahan hati membuat seseorang kehilangan keberanian untuk membela kebenaran.

Al-wahn bukan sekadar persoalan individu. Jika penyakit tersebut menyebar di tengah umat, seseorang bisa memiliki kekuatan tetapi tidak berani bergerak, memiliki suara tetapi tidak berani berbicara, memiliki kemampuan tetapi memilih menyerah sebelum berjuang.

TIGA TAHUN GAZA, SAATNYA MENJAGA KEMANUSIAAN

Karena itu, tiga tahun tragedi Gaza tidak semestinya hanya menjadi angka dalam kalender.

Ia harus menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri:

Apakah kemanusiaan kita masih utuh?

Apakah hati kita masih peka terhadap penderitaan?

Apakah iman kita masih mendorong kita untuk berpihak kepada kebenaran?

Dan yang paling penting:

Apakah kita sedang membiarkan penyakit al-wahn menguasai diri kita?

Melalui MTHQ, KH. Bachtiar Nasir mengajak umat untuk tidak berhenti pada kesedihan dan kemarahan, tetapi menjadikannya sebagai momentum kebangkitan kesadaran, penguatan iman, dan keberanian untuk mengambil sikap terhadap kezaliman.

Tiga tahun genosida Gaza menjadi cermin.

Di satu sisi ada manusia yang masih menjaga kehidupan, kehormatan, dan kemanusiaan. Di sisi lain, ada manusia yang ketika dikuasai keserakahan, kebencian, dan kezaliman dapat melampaui batas-batas kemanusiaan.

Dan di antara keduanya, ada kita yang menyaksikan.

Maka pertanyaannya bukan hanya: apa yang terjadi di Gaza?

Tetapi: masihkah kemanusiaan itu hidup di dalam diri kita?

Tiga Tahun Genosida Gaza.

Batas Antara Manusia & Monyet.

TENTANG MTHQ

Majelis Tadabbur & Hidayah Qur’an (MTHQ)

Tema: 3 Tahun Genosida Gaza: Batas Antara Manusia & Monyet

Hari/Tanggal: Rabu, 7 Oktober 2026

Waktu: 09.00–18.00 WIB

Tempat: Maqdisi AQL, Jl. Tebet Utara I No. 40, Jakarta Selatan

Pembicara: KH. Bachtiar Nasir dan sejumlah tokoh, aktivis, jurnalis serta pegiat Palestina.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian refleksi tiga tahun Gaza dan momentum penguatan kepedulian terhadap Palestina serta Al-Aqsa.

Pages: 1 2

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement