JAKARTA, UBN NEWSROOM — Senin, 16 Rabiul Akhir 1448 H / 28 September 2026 M.
International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 resmi menyepakati pembentukan The International Assembly of Mosque Imams (IAMI) atau Majelis Grand Imam Internasional. Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, dipercaya menjadi presiden pertama organisasi tersebut dalam konferensi yang berlangsung di Jakarta pada 25–27 September 2026.
Selain pembentukan IAMI, konferensi yang diikuti para imam besar, mufti, dan delegasi dari 46 negara tersebut menghasilkan kesepakatan bersama bertajuk Jakarta Understanding. Deklarasi ini menegaskan peran strategis imam masjid dalam diplomasi keagamaan, perdamaian global, pemberdayaan masyarakat, dan perlindungan hak-hak kemanusiaan.
Terpilihnya Nasaruddin Umar disambut oleh para imam besar dan delegasi negara yang hadir. Menag menyampaikan terima kasih atas kepercayaan tersebut sekaligus mengharapkan dukungan para imam besar dunia dalam menjalankan amanah kepemimpinan IAMI.
“Saya merasa tidak pantas untuk dipilih menjadi pimpinan imam besar; saya takut mengecewakan harapan dari sini. Karena itu, jika ini memang kehendak-Nya memilih saya sebagai pimpinan, saya harap agar dapat memahami kelemahan saya dan membantu saya mengatasi kelemahan itu,” ungkap Nasaruddin di Jakarta, Minggu (27/9/2026).
Ia menegaskan kesiapannya untuk mengabdikan tenaga, pikiran, dan waktu demi kemaslahatan umat serta menjalankan tugas kepemimpinan dengan sebaik-baiknya.
IAMI DIBENTUK UNTUK PERKUAT PERAN IMAM MASJID DUNIA
Pembentukan IAMI merupakan respons atas berbagai masukan dari para imam, mufti, dan delegasi negara yang mengikuti IGIC 2026. Organisasi ini dirancang sebagai platform internasional permanen yang mempertemukan para imam dan pemimpin agama untuk memperkuat kerja sama, pertukaran pengetahuan, serta kontribusi terhadap kesejahteraan umat manusia.
IAMI menempatkan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga pusat pendidikan, pembangunan masyarakat, solidaritas sosial, bimbingan moral, dan pembangunan perdamaian.
Organisasi ini hadir di tengah berbagai tantangan global yang dihadapi para pemimpin agama, mulai dari intoleransi beragama, fragmentasi sosial, kemiskinan, krisis kemanusiaan, persoalan lingkungan, isu kepemudaan, hingga penyebaran misinformasi.
Melalui IAMI, para imam diharapkan dapat memperkuat wacana keagamaan yang damai, membangun dialog konstruktif, serta berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan lintas negara.
Visi IAMI adalah menjadi platform global terkemuka yang menyatukan para imam dalam mempromosikan komunitas harmonis, kepemimpinan keagamaan yang bertanggung jawab, martabat manusia, dan perdamaian abadi.
Presiden IAMI akan bertindak sebagai perwakilan utama organisasi di tingkat internasional, memimpin Dewan Tertinggi, mengoordinasikan keterlibatan diplomatik dan keagamaan internasional, serta memperkuat hubungan dengan lembaga-lembaga keagamaan dunia.
Masa jabatan presiden ditetapkan selama tiga tahun dan dapat diperpanjang satu kali.
LIMA PILAR STRATEGIS DAN SEKRETARIAT IAMI DI JAKARTA
IAMI menetapkan lima pilar dan program strategis sebagai landasan pelaksanaan misinya, yakni Keharmonisan Masjid, Kepemimpinan Imam, Diplomasi Keagamaan, Perdamaian Global dan Aksi Kemanusiaan, serta Masjid dan Komunitas yang Berkelanjutan.
Sekretariat permanen dan pusat administrasi IAMI berkedudukan di Jakarta. Organisasi ini juga merencanakan kantor wilayah di sejumlah kawasan dunia, meliputi Kuala Lumpur untuk Asia, Kairo untuk Timur Tengah, Nairobi untuk Afrika, London untuk Eropa, New York untuk Amerika Utara, Rio de Janeiro untuk Amerika Selatan, serta Canberra untuk Australia dan Pasifik.
Sebagai bagian dari penguatan komunikasi global, IAMI akan menyelenggarakan pertemuan virtual bulanan para imam besar dunia. Pertemuan tersebut dirancang menjadi ruang diskusi bersama untuk membahas persoalan keumatan dan tantangan kemanusiaan lintas negara.
Menag Nasaruddin Umar juga berharap forum tersebut dapat berkembang dengan melibatkan pemimpin rumah ibadah lain, seperti gereja, sinagoge, dan vihara, untuk membicarakan persoalan kemanusiaan dan lingkungan hidup.
“Kita tidak akan berbicara politik praktis atau hal-hal yang mengganggu kenyamanan bersama, melainkan menyamakan wawasan bahwa kemanusiaan itu satu. Kita mencontoh Nabi Muhammad SAW yang semasa hidupnya mampu menjembatani semua perbedaan sehingga konflik hilang,” tuturnya.
MENAG DORONG MASJID KEMBALI BERDAYAKAN UMAT
Dalam konferensi tersebut, Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid harus kembali memainkan peran strategis dalam kehidupan masyarakat. Menurutnya, masjid tidak semestinya hanya dipandang sebagai tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga harus menjadi ruang pemberdayaan, pendidikan, dan pelayanan sosial.
“Masjid itu kita harus mengubah. Selama ini umat yang memberdayakan masjid, tetapi kita harus membalik, masjidlah yang harus memberdayakan umat,” ujar Menag.
Ia menjelaskan bahwa masjid pada masa Rasulullah SAW memiliki fungsi yang luas, mulai dari pendidikan, konsultasi, pertemuan masyarakat, hingga pengelolaan kesejahteraan umat.
“Masjid itu bukan hanya tempat, tetapi juga tempat pemberdayaan umat, masjid itu sekretariat Negara, sekretariat memberdayaan Imam, Masjid juga baitul Mal, pada zamannya,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menekankan pentingnya mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Melalui IAMI, peran imam diharapkan tidak hanya terbatas pada kepemimpinan ritual keagamaan, tetapi juga mencakup pendampingan sosial, pendidikan karakter, penyelesaian konflik, dan penguatan solidaritas kemanusiaan.
JAKARTA UNDERSTANDING TEGASKAN PERAN IMAM DALAM PERDAMAIAN GLOBAL
IGIC 2026 menghasilkan deklarasi Jakarta Understanding on Mosque Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace yang disampaikan pada penutupan konferensi, Minggu (27/9/2026).
Deklarasi tersebut memuat tujuh kesepakatan yang mengajak para imam masjid di seluruh dunia untuk memperkuat peran keagamaan dan kemanusiaan dalam menghadapi berbagai persoalan global.
Menag Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa deklarasi ini membawa pesan bahwa perdamaian merupakan tanggung jawab bersama umat manusia dan masjid dapat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai perbedaan.
“Melalui Jakarta Understanding, para Imam Besar menyampaikan pesan bahwa perdamaian adalah tanggung jawab bersama umat manusia dan masjid bisa menjadi jembatang yang menghubungkan perbedaan,” ujar Menag.
Ia juga menegaskan bahwa diplomasi keagamaan dapat memperkuat hubungan antarbangsa serta menempatkan persoalan kemanusiaan sebagai perhatian bersama.
“Jakarta Understanding juga menggarisbawahi bahwa diplomasi keagamaan dapat memperkuat diplomasi antarbangsa, serta menegaskan dukungan penuh terhadap hak rakyat Palestina,” sambungnya.
Dalam deklarasi tersebut, para imam besar mengajak seluruh imam masjid untuk menjalankan tujuh komitmen utama.
- Memperkuat peran strategis imam masjid. Imam diharapkan tidak hanya menjadi pemimpin ibadah, tetapi juga mediator konflik, pemersatu keberagaman, dan penuntun moral masyarakat. Masjid didorong menjadi ruang komunitas yang terbuka, inklusif, serta berorientasi pada kemanusiaan dan peradaban.
- Menjadi penggerak perdamaian dunia. Para imam berkomitmen melindungi martabat manusia tanpa membedakan etnis, agama, bangsa, maupun gender. Mereka juga didorong memelopori pendidikan karakter, menanamkan moderasi, toleransi, cinta, kasih sayang, penghormatan terhadap perbedaan, serta memperkuat literasi digital.
- Memperjuangkan keadilan sosial dan perlindungan kemanusiaan. Deklarasi mengajak para imam menciptakan lingkungan yang aman, adil, dan ramah bagi anak-anak, perempuan, penyandang disabilitas, kelompok minoritas, serta kelompok rentan lainnya, sekaligus mendukung ketahanan keluarga.
- Menggerakkan diplomasi keagamaan dan dialog lintas iman. Imam masjid diharapkan aktif mencegah konflik, membangun kepercayaan, dan memperkuat rekonsiliasi global. Mereka juga didorong menolak ekstremisme, kekerasan, penyalahgunaan agama, hoaks, dan ujaran kebencian.
- Membangun kesadaran ekoteologis. Para imam berkomitmen menjaga keseimbangan alam, menghentikan perusakan lingkungan, serta mendorong masjid dan umat beragama menjadi pelopor keberlanjutan bumi bagi generasi mendatang.
- Memperkuat kolaborasi global. Deklarasi mengajak para imam bekerja sama dengan lembaga internasional, pemerintah, dan masyarakat sipil untuk mewujudkan dunia yang adil, bermartabat, dan damai bagi seluruh umat manusia.
- Menegaskan dukungan terhadap hak rakyat Palestina. Para imam menyatakan dukungan terhadap hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, perlindungan warga sipil, penegakan hukum internasional, serta terwujudnya kemerdekaan, keadilan, perdamaian, dan martabat yang berkelanjutan bagi Palestina.
Deklarasi Jakarta Understanding ditetapkan di Jakarta, Indonesia, pada 27 September 2026 sebagai hasil kesepakatan para imam besar yang menghadiri IGIC 2026.
MASJID SEBAGAI PUSAT PERADABAN DAN KEMANUSIAAN
Pembentukan IAMI dan lahirnya Jakarta Understanding menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi institusi keagamaan dalam menjawab persoalan masyarakat dunia.
Melalui kolaborasi lintas negara, para imam diharapkan dapat membangun jaringan kerja sama yang tidak hanya memperkuat kehidupan keagamaan, tetapi juga menghadirkan solusi terhadap persoalan sosial, kemanusiaan, dan lingkungan.
Kedudukan sekretariat IAMI di Jakarta sekaligus menempatkan Indonesia sebagai pusat administrasi organisasi internasional tersebut. Peran ini membuka ruang bagi penguatan diplomasi keagamaan Indonesia melalui kerja sama para pemimpin masjid dan tokoh agama dunia.
Dengan lima pilar strategis dan tujuh komitmen dalam Jakarta Understanding, IAMI diharapkan dapat menjadi wadah berkelanjutan bagi penguatan kepemimpinan imam, pemberdayaan masjid, dan pembangunan perdamaian global.
PERSPEKTIF UBN NEWSROOM
MASJID SEBAGAI PUSAT PERADABAN, IMAM SEBAGAI PENUNTUN UMAT
Pembentukan The International Assembly of Mosque Imams (IAMI) dan lahirnya Jakarta Understanding menghadirkan pengingat bahwa masjid memiliki kedudukan yang luas dalam kehidupan umat Islam. Masjid bukan sekadar tempat menunaikan ibadah, melainkan juga ruang pembinaan iman, pendidikan, penguatan persaudaraan, dan pelayanan kemanusiaan.
Dalam perspektif Islam, kepemimpinan seorang imam merupakan amanah yang menuntut ilmu, keteladanan, keadilan, dan tanggung jawab terhadap umat yang dipimpinnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ
“Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.”
QS. Al-Anbiya [21]: 73.
Ayat ini menggambarkan kepemimpinan yang tidak berhenti pada kedudukan, tetapi diwujudkan melalui petunjuk, amal kebaikan, ibadah, dan pengabdian kepada Allah SWT.
Dalam konteks IAMI, amanah kepemimpinan para imam besar dunia perlu diterjemahkan menjadi program nyata yang memperkuat kualitas umat, memperluas manfaat masjid, serta menghadirkan solusi terhadap persoalan masyarakat.
Masjid yang hidup bukan hanya masjid yang ramai dalam pelaksanaan ibadah ritual, melainkan juga masjid yang mampu membina generasi, menguatkan keluarga, membantu masyarakat yang membutuhkan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
DIPLOMASI KEAGAMAAN BERLANDASKAN TA’ARUF DAN KEADILAN
Islam mengajarkan bahwa perbedaan bangsa dan kelompok merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT agar manusia saling mengenal, membangun hubungan yang baik, dan berlomba dalam ketakwaan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”
QS. Al-Hujurat [49]: 13.
Prinsip ta’aruf menjadi landasan penting bagi diplomasi keagamaan yang dibangun melalui dialog, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kerja sama dalam urusan kemanusiaan.
Namun, membangun hubungan yang harmonis tidak berarti mengabaikan prinsip keadilan. Islam memerintahkan umatnya untuk tetap berdiri teguh dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, termasuk ketika berhadapan dengan persoalan yang melibatkan perbedaan kepentingan.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu.”
QS. An-Nisa [4]: 135.
Karena itu, diplomasi keagamaan perlu berjalan beriringan dengan keberanian membela keadilan, melindungi masyarakat yang tertindas, serta menolak kekerasan dan penyalahgunaan agama.
Dukungan terhadap hak rakyat Palestina sebagaimana ditegaskan dalam Jakarta Understanding menjadi bagian dari komitmen kemanusiaan yang perlu diwujudkan melalui langkah-langkah yang bertanggung jawab, perlindungan warga sipil, dan penghormatan terhadap keadilan.
DARI DEKLARASI MENUJU AMAL NYATA
Deklarasi internasional memiliki arti penting sebagai landasan bersama, tetapi nilai strategisnya akan semakin terasa ketika diterjemahkan menjadi program yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata.
Lima pilar IAMI, mulai dari keharmonisan masjid hingga keberlanjutan komunitas, perlu diwujudkan melalui penguatan pendidikan imam, pemberdayaan ekonomi umat, pelayanan sosial, literasi digital, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
QS. Al-Ma’idah [5]: 2.
Ayat tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi dalam kebaikan sebagai fondasi membangun kemaslahatan bersama.
Bagi para imam dan pengelola masjid, amanah ini merupakan panggilan untuk menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan arah tauhid dan tuntunan wahyu.
Pada akhirnya, keberhasilan IAMI tidak hanya diukur dari terbentuknya organisasi, terpilihnya kepemimpinan, atau terselenggaranya pertemuan internasional, tetapi juga dari sejauh mana masjid semakin bermanfaat bagi umat, keadilan semakin ditegakkan, dan perdamaian semakin nyata dirasakan oleh masyarakat.
Dari Jakarta, ikhtiar membangun persaudaraan dan peradaban Islam diharapkan dapat tumbuh menjadi kerja bersama yang melampaui batas negara, memperkuat kemanusiaan, serta menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
CATATAN REDAKSI
Laporan ini disusun berdasarkan materi dan keterangan mengenai penyelenggaraan International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Jakarta pada 25–27 September 2026, termasuk keterangan Menteri Agama Nasaruddin Umar dan naskah Jakarta Understanding yang disampaikan pada penutupan konferensi.
Informasi mengenai pembentukan IAMI, penetapan presiden, masa jabatan, lima pilar strategis, serta rencana sekretariat dan kantor wilayah disajikan berdasarkan materi konferensi yang diterima redaksi.
UBN Newsroom mengedepankan prinsip verifikasi informasi, keberimbangan, serta penyampaian perspektif Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan nilai-nilai kemaslahatan umat.
DUKUNGAN OPERASIONAL DAKWAH & JURNALISME PERADABAN
UBN Newsroom hadir sebagai bagian dari ikhtiar dakwah dan jurnalisme peradaban untuk menyampaikan informasi yang teruji, mencerdaskan umat, serta menghadirkan perspektif Islam dalam membaca berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat dan dunia.
Keberlangsungan kerja dakwah dan jurnalisme membutuhkan dukungan bersama. Setiap dukungan yang diberikan menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga keberlanjutan produksi konten, peliputan, riset, verifikasi informasi, dan penyebaran narasi yang membawa kemaslahatan bagi umat.
Dukungan operasional dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Comment