Advertisement
Palestina
Home » Inggris Menjanjikan Rp2,08 Triliun untuk Gaza, Sasar Air Bersih hingga Anak Korban Ledakan

Inggris Menjanjikan Rp2,08 Triliun untuk Gaza, Sasar Air Bersih hingga Anak Korban Ledakan

NEW YORK, UBN NEWSROOM — Jumat, 13 Rabiul Akhir 1448 H / 25 September 2026 M.

Pemerintah Inggris mengumumkan paket bantuan kemanusiaan dan pemulihan awal senilai lebih dari 88 juta pound sterling atau sekitar Rp2,08 triliun untuk warga Palestina. Bantuan tersebut diarahkan untuk menopang layanan kesehatan, penyediaan air bersih, sanitasi, pengelolaan limbah hingga dukungan psikologis bagi masyarakat di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Paket bantuan diumumkan Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband di sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Kamis (24/9/2026), sebagaimana diberitakan Al Arabiya. Pengumuman itu bertepatan dengan pertemuan yang digelar Inggris bersama Yordania dan Qatar untuk mendorong percepatan akses kemanusiaan, layanan kesehatan, serta pemulihan Gaza.

Pemerintah Inggris menyatakan paket tersebut diharapkan dapat membantu menyediakan konsultasi medis bagi hingga 900 ribu warga Palestina melalui fasilitas kesehatan yang didukung London. Bantuan juga akan membiayai rehabilitasi dan perawatan prostetik bagi sekitar 1.000 anak yang mengalami cedera akibat ledakan.

Dukungan Inggris tidak berhenti pada sektor kesehatan. Program tersebut ditargetkan menyediakan air bersih melalui pengiriman darurat menggunakan truk bagi sekitar 150 ribu orang serta layanan pengelolaan sampah padat yang menjangkau hingga 900 ribu warga.

Partai Hijau Inggris Sebut Zionisme sebagai Rasisme, Israel Murka dan Larang Pemimpinnya Masuk

Sebanyak 21 ribu orang juga ditargetkan memperoleh layanan kesehatan mental dan dukungan psikososial. Program tersebut menjadi penting ketika konflik berkepanjangan, pengungsian berulang, kehilangan anggota keluarga, serta kerusakan lingkungan tempat tinggal terus memberikan tekanan terhadap kehidupan masyarakat Gaza.

BANTUAN RP2,08 TRILIUN

Nilai lebih dari 88 juta pound sterling yang dialokasikan Inggris untuk bantuan kemanusiaan dan pemulihan awal Palestina setara sekitar Rp2,08 triliun. Perhitungan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia per 24 September 2026 sebesar sekitar Rp23.681,57 untuk satu pound sterling.

Pemerintah Inggris menjelaskan jumlah tersebut mencakup pendanaan baru sekaligus bantuan yang telah diumumkan sebelumnya. Di antaranya adalah dukungan melalui Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) serta UN Horizon Fund.

Secara keseluruhan, Inggris mengalokasikan anggaran bantuan pembangunan bilateral atau Official Development Assistance (ODA) bagi Palestina pada tahun fiskal 2026/2027 sebesar 127 juta pound sterling. Dengan kurs yang sama, jumlah tersebut setara sekitar Rp3,01 triliun.

Gaza Memecah Politik Jerman, Tokoh Partai Kiri Dikaitkan dengan Peringatan 7 Oktober

Miliband menegaskan warga sipil di Gaza harus memperoleh akses terhadap bantuan kemanusiaan tanpa hambatan. Ia mengatakan paket baru tersebut ditujukan untuk menyediakan dukungan kesehatan bagi masyarakat yang sangat membutuhkannya.

“Sangat penting bahwa warga sipil di Gaza memiliki akses tanpa hambatan terhadap bantuan,” kata Miliband.

Inggris juga mendesak Pemerintah Israel mengurangi hambatan terhadap masuknya bantuan kemanusiaan. London menilai pembatasan tersebut menghambat upaya internasional memenuhi kebutuhan dasar penduduk Gaza.

Sejak Oktober 2023, menurut Pemerintah Inggris, dukungan kemanusiaannya telah membantu menyediakan bantuan pangan berkelanjutan bagi lebih dari 1,4 juta orang di wilayah Palestina. Program yang didukung Inggris juga disebut telah meningkatkan akses terhadap air, sanitasi, dan layanan kebersihan bagi lebih dari 830 ribu orang.

KEBUTUHAN MASIH SANGAT BESAR

Greta Thunberg Turun ke Jalan Bela Palestina Pada 7 Oktober

Besarnya paket bantuan tersebut berhadapan dengan skala krisis kemanusiaan Gaza yang masih sangat luas. PBB menyatakan sebagian besar dari sekitar 2,1 juta penduduk Gaza masih berada dalam pengungsian.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada awal September mengatakan sebagian besar penduduk bahkan terkonsentrasi di wilayah yang luasnya kurang dari 40 persen Jalur Gaza. Pembatasan akses juga terus memengaruhi kemampuan organisasi kemanusiaan membawa barang tertentu, memasuki sejumlah kawasan, dan menjalankan operasinya.

Masalah pendanaan semakin memperberat keadaan. Menurut OCHA, hingga awal September, baru sekitar 40 persen kebutuhan pendanaan kemanusiaan tahunan untuk wilayah Palestina yang berhasil dipenuhi.

Kondisi tempat tinggal juga menjadi persoalan besar. Dalam laporan kepada komite PBB pada September, sekitar 1,98 juta orang atau sekitar 90 persen penduduk Gaza diperkirakan membutuhkan bantuan tempat tinggal. Namun, hanya sekitar 10 persen yang disebut telah menerima suatu bentuk dukungan tempat tinggal dalam beberapa bulan sebelumnya.

Krisis tersebut menjadi semakin mendesak menjelang perubahan musim. OCHA memperingatkan keterbatasan alat berat, bahan bakar, oli mesin, suku cadang, dan berbagai kebutuhan lainnya menghambat operasi pencarian dan penyelamatan maupun perbaikan bangunan yang rusak.

AIR BERSIH MENJADI PERSOALAN

Air dan sanitasi menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian dalam paket bantuan Inggris. Persoalan tersebut krusial karena kerusakan infrastruktur dan pembatasan terhadap sejumlah barang telah mengganggu kemampuan sistem air dan sanitasi Gaza beroperasi secara normal.

PBB mengatakan mitra kemanusiaannya telah memperbaiki 19 fasilitas air dan pembuangan limbah antara Juni hingga Agustus 2026. Namun, fasilitas yang secara teknis telah dapat beroperasi tersebut masih bekerja dengan kapasitas terbatas karena persoalan sumber energi.

PBB menyebut peningkatan kapasitas pemulihan membutuhkan masuknya alat berat, peralatan khusus, oli mesin, suku cadang, dan berbagai kebutuhan esensial lainnya. Pendanaan tambahan juga diperlukan untuk mengoperasikan kendaraan serta generator cadangan yang menopang operasi kemanusiaan.

Situasi itu menjelaskan mengapa bantuan Inggris tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan darurat seperti air minum dan layanan medis. Sebagian pendanaan mulai diarahkan kepada pemulihan awal agar infrastruktur dan layanan dasar dapat kembali berfungsi.

DARI DARURAT MENUJU PEMULIHAN

Pertemuan yang digelar Inggris, Yordania, dan Qatar di New York berusaha mempertemukan dua agenda tersebut: menangani kebutuhan kemanusiaan yang mendesak sekaligus mulai membangun fondasi pemulihan Gaza.

Pertemuan menghadirkan negara-negara kawasan, PBB, organisasi masyarakat sipil, perwakilan Palestina, serta donor internasional. Pembahasan diarahkan pada langkah praktis untuk memperbaiki distribusi bantuan penyelamat jiwa sekaligus mendukung pemulihan Gaza.

Negara-negara kawasan juga meningkatkan tekanan agar bantuan dapat masuk tanpa hambatan. Dalam pertemuan terpisah di New York pada 21 September, para menteri luar negeri Qatar, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, Pakistan, Turki, dan Arab Saudi menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap penderitaan kemanusiaan yang masih berlangsung di Gaza.

Mereka menyerukan pengiriman bantuan kemanusiaan dan kebutuhan pemulihan awal secara segera, aman, dan tanpa hambatan. Mereka juga menyerukan agar rehabilitasi infrastruktur penting dapat difasilitasi.

Upaya pemulihan menghadapi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar ketersediaan dana. Laporan UNRWA pada Agustus menggambarkan sistem kesehatan Gaza mengalami keruntuhan sistemik setelah bertahun-tahun konflik, kerusakan luas infrastruktur sipil, pengungsian berulang, pembatasan akses kemanusiaan, serta kekurangan obat-obatan, peralatan medis, dan bahan bakar.

Karena itu, paket Inggris senilai sekitar Rp2,08 triliun berada pada persimpangan antara bantuan darurat dan kebutuhan rekonstruksi jangka panjang. Air bersih, layanan kesehatan, pengelolaan sampah, rehabilitasi anak korban ledakan, dan kesehatan mental merupakan kebutuhan yang harus ditangani segera, tetapi keberlanjutannya sangat bergantung pada terbukanya akses kemanusiaan dan pulihnya infrastruktur.

Bagi ribuan anak yang mengalami cedera akibat konflik, persoalannya bahkan lebih panjang. Prostetik dan rehabilitasi bukan sekadar tindakan medis sesaat, melainkan bagian dari proses bertahun-tahun agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari.

Di tengah kebutuhan tersebut, angka-angka bantuan menunjukkan dua wajah krisis Gaza. Inggris menyiapkan miliaran rupiah untuk air, kesehatan, sanitasi dan pemulihan, tetapi PBB pada saat bersamaan masih melaporkan sebagian besar penduduk Gaza mengungsi dan operasi kemanusiaan terkendala akses serta kekurangan pendanaan.

Karena itu, tantangan berikutnya bukan hanya berapa besar dana yang dijanjikan masyarakat internasional. Persoalan yang menentukan adalah seberapa cepat bantuan tersebut dapat berubah menjadi air yang bisa diminum, pengobatan yang dapat dijangkau, anggota tubuh prostetik bagi anak-anak yang terluka, serta layanan dasar yang benar-benar kembali bekerja di Gaza.

PERSPEKTIF UBN NEWSROOM

BANTUAN KEMANUSIAAN DAN TANTANGAN AKSES

Paket bantuan Inggris memperlihatkan bahwa kebutuhan masyarakat Gaza mencakup kebutuhan yang sangat mendasar sekaligus kebutuhan pemulihan jangka panjang. Air bersih, layanan kesehatan, sanitasi, kesehatan mental, dan rehabilitasi anak merupakan bagian dari kebutuhan sipil yang harus ditangani secara berkelanjutan.

Besarnya dana yang dialokasikan juga berhadapan dengan persoalan akses dan kapasitas infrastruktur. Karena itu, efektivitas bantuan tidak hanya bergantung pada jumlah dana, tetapi juga pada kemampuan memastikan bantuan dapat mencapai masyarakat yang membutuhkan serta digunakan untuk memulihkan layanan dasar.

AMANAH DALAM MENJAGA KEHIDUPAN DAN KEMANUSIAAN

Islam menempatkan penjagaan kehidupan dan pemenuhan hak manusia sebagai bagian dari amanah. Dalam keadaan konflik dan bencana kemanusiaan, bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan perlu diarahkan kepada kebutuhan nyata dan diberikan tanpa menghilangkan hak mereka untuk memperoleh pertolongan.

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَاءِ وَٱلْوِلْدَٰنِ ٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ ٱلْقَرْيَةِ ٱلظَّالِمِ أَهْلُهَا وَٱجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَٱجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا

“Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.’”

(Q.S. An-Nisa [4]: 75)

Dalam konteks kemanusiaan, amanah berarti memastikan pertolongan benar-benar menjangkau mereka yang membutuhkan, terutama ketika kehidupan, kesehatan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar masyarakat berada dalam kondisi yang rentan.

CATATAN REDAKSI

Sumber: Al Arabiya, Pemerintah Inggris, PBB/OCHA, dan UNRWA sebagaimana dirujuk dalam naskah.

DUKUNGAN OPERASIONAL DAKWAH & JURNALISME PERADABAN

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Keberlangsungan kerja dakwah dan jurnalisme membutuhkan dukungan bersama. Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom serta dukungan tanggap bencana dapat disalurkan melalui:

BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement