JAKARTA, UBN NEWSROOM — Rabu, 18 Rabiul Akhir 1448 H / 30 September 2026 M.
Rencana konser Israel & New Breed di Jakarta pada Oktober 2026 menghadapi seruan boikot dari sejumlah figur publik. Konser grup musik gospel dan worship yang dipimpin musisi Amerika Serikat Israel Houghton tersebut dijadwalkan berlangsung di The Kasablanka Hall, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 24 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB.
Seruan boikot yang berkembang di ruang publik berkaitan dengan sikap Israel Houghton terhadap Israel yang pernah disampaikan melalui media sosial setelah pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023. Di sisi lain, acara yang akan digelar merupakan konser musik rohani Kristen, sehingga perdebatan publik juga menyentuh persoalan kebebasan beragama, sikap politik seorang figur publik, dan pilihan konsumen.
RENCANA KONSER ISRAEL & NEW BREED DI JAKARTA
Israel & New Breed dijadwalkan membawa tur dunia bertajuk “’Til The Whole World Knows Tour 2026” ke Jakarta.
Berdasarkan sejumlah listing acara yang masih tersedia, konser dijadwalkan berlangsung pada:
Tanggal: Sabtu, 24 Oktober 2026
Waktu: 20.00 WIB
Tempat: The Kasablanka Hall, Kota Kasablanka Lt. 3, Jakarta Selatan
Listing Bandsintown dan Apple Music sama-sama mencantumkan tanggal 24 Oktober 2026 sebagai jadwal penampilan Israel & New Breed di Jakarta.
Konser tersebut juga masih tercantum dalam sejumlah platform penjualan atau listing acara menjelang akhir September 2026.
ISRAEL HOUGHTON, BUKAN NAMA NEGARA
Nama “Israel” dalam Israel & New Breed merujuk kepada Israel Houghton, seorang musisi gospel dan worship asal Amerika Serikat. New Breed merupakan kelompok musik yang menjadi bagian dari proyek musik dan pelayanan Houghton.
Houghton dikenal melalui karya-karya musik gospel dan worship serta keterlibatannya dalam berbagai kegiatan musik gereja. Ia juga pernah tampil di Indonesia dalam Indonesia Gospel Festival 2018 di ICE BSD, Tangerang.
Dengan demikian, penyebutan “konser Israel & New Breed” perlu ditempatkan secara tepat. Israel dalam nama tersebut merupakan nama pribadi Israel Houghton, bukan merujuk pada negara Israel.
AKAR SERUAN BOIKOT
Kontroversi menjelang konser Jakarta berkaitan dengan sikap Houghton terhadap Israel yang kembali menjadi sorotan publik.
Sejumlah pemberitaan nasional melaporkan adanya seruan boikot dari beberapa figur publik Indonesia, di antaranya Chiki Fawzi, Annisa Theresia Maqdisia, Wanda Hamidah, dan seniman pantomim Wanggi Hoed. Seruan tersebut dikaitkan dengan unggahan Houghton pada Oktober 2023 yang berisi doa bagi perdamaian Yerusalem dan pernyataan solidaritasnya kepada Israel.
Republika melaporkan bahwa seruan boikot tersebut muncul menjelang rencana konser pada 24 Oktober 2026 dan bahwa tiket masih tersedia pada 29 September 2026.
Seruan tersebut merupakan sikap dari pihak-pihak yang menyampaikannya dan tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh masyarakat Indonesia memiliki pandangan yang sama.
KONTROVERSI BERADA PADA SIKAP POLITIK, BUKAN IDENTITAS AGAMA
Perdebatan mengenai konser ini perlu dibedakan antara identitas keagamaan sang musisi dengan sikap politik atau pernyataan publiknya.
Israel & New Breed merupakan kelompok musik yang membawa genre gospel dan worship Kristen. Karena itu, kritik terhadap sikap seorang musisi terkait isu politik dan konflik internasional perlu dibedakan dari penilaian terhadap agama Kristen atau umat Kristiani secara keseluruhan.
Di Indonesia, kebebasan beragama dan menjalankan ibadah merupakan bagian dari hak konstitusional warga negara. Karena itu, perbedaan sikap terhadap konflik Israel-Palestina tidak seharusnya berkembang menjadi permusuhan terhadap kelompok agama tertentu.
FATWA MUI DAN PILIHAN TRANSAKSI
Dalam konteks Indonesia, persoalan pilihan konsumen juga pernah dibahas secara khusus oleh Majelis Ulama Indonesia melalui Fatwa MUI Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina.
MUI menyatakan bahwa mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina atas agresi Israel hukumnya wajib. Fatwa tersebut juga memuat imbauan agar umat Islam semaksimal mungkin menghindari transaksi dan penggunaan produk yang terafiliasi dengan Israel serta yang mendukung penjajahan dan zionisme.
Namun, penerapan fatwa tersebut terhadap suatu acara tertentu tetap membutuhkan kejelasan mengenai hubungan antara penyelenggara, artis, produk, transaksi, dan pihak yang dimaksud dalam ketentuan fatwa.
Karena itu, tidak tepat menyamakan secara otomatis setiap individu, perusahaan, atau acara yang memiliki keterkaitan tertentu dengan seorang figur dengan pihak yang secara langsung dimaksud dalam suatu ketentuan, tanpa verifikasi hubungan dan fakta yang memadai.
PERSPEKTIF UBN NEWSROOM
KEBEBASAN BERAGAMA DAN KRITIK TERHADAP SIKAP PUBLIK
Perdebatan mengenai konser Israel & New Breed memperlihatkan pentingnya membedakan antara kebebasan beragama dengan kebebasan masyarakat dalam menyampaikan kritik terhadap sikap publik seorang figur.
Islam mengakui keberadaan perbedaan keyakinan dan melarang pemaksaan dalam beragama. Allah SWT berfirman:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama. Sungguh, telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, sungguh, dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 256)
Karena itu, sikap kritis terhadap pernyataan politik seorang figur tidak semestinya berubah menjadi serangan terhadap agama, rumah ibadah, atau komunitas keagamaan yang tidak terkait dengan persoalan tersebut.
AMANAH DALAM MENYIKAPI KONFLIK DAN PERBEDAAN
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki ruang untuk menentukan sikap terhadap suatu produk, acara, atau figur berdasarkan informasi dan pertimbangan moral yang diyakininya. Pilihan tersebut perlu dilakukan secara damai, tanpa intimidasi, kekerasan, fitnah, maupun generalisasi terhadap kelompok tertentu.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(Q.S. Al-Ma’idah [5]: 8)
Ayat tersebut memberikan batas penting dalam menyikapi konflik dan perbedaan. Keberpihakan pada nilai kemanusiaan tidak boleh menghilangkan keadilan dalam menilai fakta. Kritik terhadap sikap politik seorang tokoh juga tidak boleh berubah menjadi kebencian terhadap identitas agama atau kelompok masyarakat yang lebih luas.
Dalam konteks konser ini, ruang publik membutuhkan dua hal sekaligus: kebebasan untuk menyampaikan sikap dan tanggung jawab untuk memastikan bahwa sikap tersebut didasarkan pada informasi yang benar serta tidak melahirkan intimidasi terhadap pihak lain.
DUKUNGAN OPERASIONAL DAKWAH & JURNALISME PERADABAN
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Keberlangsungan kerja dakwah dan jurnalisme membutuhkan dukungan bersama. Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom serta dukungan tanggap bencana dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.
UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment