JAKARTA, UBN NEWSROOM — Jumat, 20 Rabiul Akhir 1448 H / 2 Oktober 2026 M
Sebanyak 27 mahasiswi Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor melakukan kunjungan studi ke AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Kunjungan ini menjadi bagian dari studi lapangan sekaligus momentum silaturahim dan pendalaman ilmu Al-Qur’an.
Rombongan berasal dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir semester VI kelas C1 kampus putri UNIDA Gontor. Mereka didampingi Ustaz Taufik Akhyar, M.Ag., dan Ustazah Dr. Nindiya Ayomi Dirahara, M.Pd., serta diterima langsung Pembina AQL Islamic Center, Ustaz Bachtiar Nasir (UBN).
BELAJAR TADABUR BERSAMA UBN
Perwakilan UNIDA Gontor, Ustaz Mahmud, menyampaikan apresiasi atas kesempatan tersebut sekaligus menyampaikan salam dari pimpinan Pondok Modern Gontor, Rektor UNIDA Gontor KH Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi, dan Dekan Fakultas Ushuluddin Ustaz Syamsul Hadi Untung.
Menurut Ustaz Mahmud, kunjungan tersebut memiliki dua tujuan utama, yakni mempererat silaturahim dan menuntut ilmu bersama UBN mengenai tadabur Al-Qur’an.

Dalam kuliah umum, UBN menekankan bahwa mempelajari tafsir merupakan bagian penting untuk memahami Al-Qur’an. Namun, proses tersebut tidak seharusnya berhenti pada pemahaman akademik karena Al-Qur’an juga perlu ditadaburi agar pesan-pesannya dapat menjadi pelajaran dalam kehidupan.
“Kalian di jurusan khusus dan tafsir sudah bagus, karena kan untuk bertadabur harus pakai tafsir. Enggak mungkin bertadabur enggak pakai tafsir. Tapi, harus mentadaburinya,” ujar UBN.
TADABUR BUKAN SEKADAR MEMAHAMI
UBN menjelaskan, tadabur berarti melihat sesuatu hingga memahami apa yang ada di baliknya serta akibat yang dapat ditimbulkan. Proses tersebut dilakukan dengan merenungkan makna secara mendalam sehingga seseorang mampu mengambil pelajaran dari ayat-ayat Al-Qur’an.

Ia juga mengutip pandangan sejumlah ulama mengenai tadabur. Imam At-Thabari menjelaskan tadabur sebagai perenungan terhadap hujah Allah dan syariat dalam Al-Qur’an hingga seseorang memperoleh nasihat dan mengamalkannya, sementara Ibnu Katsir dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah memberikan penekanan pada pemahaman makna serta penghayatan terhadap pesan Al-Qur’an.
DARI ILMU MENUJU PEMBENTUKAN MANUSIA
UBN mengajak para mahasiswi agar kajian Al-Qur’an tidak hanya menghasilkan karya akademik, tetapi juga membentuk karakter dan cara seseorang menjalani kehidupan.
“Saya tidak fokus pada isinya, saya fokus kepada pembinaan manusianya lewat tadabur. Walaupun kita punya karya-karya akademik,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya memahami nama, sifat, dan fungsi Al-Qur’an. Beberapa nama yang disebut antara lain Al-Qur’an, Al-Kitab, At-Tanzil, dan Al-Furqan, yang menurutnya dapat membantu seseorang membangun pola interaksi yang lebih mendalam dengan kitab suci.

AL-QUR’AN UNTUK DIBACA, DIPAHAMI, DAN DIHAYATI
Kunjungan tersebut tidak hanya menjadi ruang pertukaran wawasan antara lingkungan akademik dan lembaga dakwah, tetapi juga menjadi pengingat bahwa ilmu Al-Qur’an memiliki dimensi praktis dalam kehidupan.
Bagi para mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, proses belajar diharapkan tidak berhenti ketika kajian selesai. Pengetahuan tentang Al-Qur’an perlu dilanjutkan dengan tadabur, penghayatan, dan upaya menghadirkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.


Comment