GAZA, UBN NEWSROOM — Ahad, 22 Rabiul Akhir 1448 H / 4 Oktober 2026 M.
Memasuki tahun ketiga sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023, warga Palestina masih menghadapi dampak kemanusiaan yang berat. Meski gencatan senjata telah diumumkan pada Oktober 2025, serangan masih dilaporkan terjadi dan proses pemulihan kehidupan warga serta pembangunan kembali Gaza menghadapi tantangan besar.
Pada awal Oktober 2026, jenazah warga Palestina yang tewas dalam serangan pada 2023 kembali ditemukan dari bawah reruntuhan. Peristiwa tersebut menjadi gambaran bagaimana kehancuran akibat perang masih menyisakan keluarga yang menunggu kepastian mengenai anggota keluarganya yang hilang.
105 JENAZAH DITEMUKAN SETELAH HAMPIR TIGA TAHUN
Pada 1 Oktober 2026, sebanyak 105 jenazah warga Palestina dimakamkan secara massal di Gaza setelah berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan bangunan di kawasan Yarmouk, Kota Gaza.
Para korban tewas dalam serangkaian serangan udara pada 25 Oktober 2023 yang menghancurkan gedung Al-Taj 3 dan sejumlah bangunan tempat tinggal di sekitarnya. Operasi pencarian dan evakuasi dilakukan hampir tiga tahun setelah serangan tersebut.
Pertahanan Sipil Gaza menyebut proses evakuasi sebelumnya sulit dilakukan karena keterbatasan alat berat dan kondisi reruntuhan. Pemakaman tersebut kemudian dihadiri keluarga korban dan masyarakat yang mengiringi jenazah menuju pemakaman di Sheikh Radwan.
Peristiwa itu menunjukkan bahwa bagi sebagian keluarga di Gaza, perang belum benar-benar berakhir bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.
RIBUAN ANAK MENJADI KORBAN
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak selama konflik.
UNICEF mencatat sedikitnya 21.700 anak telah dilaporkan tewas di Gaza hingga 30 Juni 2026. UNICEF juga melaporkan bahwa lebih dari 45.000 anak mengalami luka, termasuk lebih dari 11.000 anak dengan cedera yang mengubah kehidupan mereka.
Sementara itu, Pusat Perlindungan Hak Asasi Manusia Palestina atau Himaya Center dalam lembar fakta yang diterbitkan 3 Oktober 2026 mencatat angka 21.745 anak di bawah usia 18 tahun yang disebut telah terbunuh sejak 7 Oktober 2023. Angka tersebut merupakan catatan lembaga tersebut dan bukan angka yang telah diverifikasi secara independen oleh PBB.
UNICEF juga mencatat bahwa sedikitnya 300 anak dilaporkan tewas dalam 300 hari setelah gencatan senjata Oktober 2025 diumumkan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa anak-anak Gaza masih menghadapi risiko meskipun status gencatan senjata telah diberlakukan.
SERANGAN MASIH TERJADI
Situasi keamanan di Gaza juga belum sepenuhnya stabil.
Pada 3 Oktober 2026, serangan udara Israel menghantam sebuah gedung apartemen di kawasan Rimal, Kota Gaza. Sedikitnya lima warga Palestina tewas dan enam lainnya mengalami luka, menurut petugas medis dan pertahanan sipil Gaza. Reuters melaporkan bahwa empat dari lima korban merupakan perempuan.
Militer Israel menyatakan serangan tersebut menargetkan seorang tokoh Hamas, Ali al-Amoudi, tetapi tidak memastikan apakah serangan tersebut merupakan serangan yang sama yang menyebabkan korban sipil di gedung tersebut.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kekerasan masih menjadi ancaman bagi warga sipil di tengah upaya mempertahankan gencatan senjata dan memulai proses pemulihan Gaza.
WARGA GAZA MASIH MENUNGGU UNTUK PULANG
Selain korban jiwa, perang juga meninggalkan persoalan pengungsian yang panjang.
Reuters melaporkan masih banyak warga Palestina yang berada di luar Gaza dan menunggu kondisi yang memungkinkan mereka kembali. Sebagian warga yang mengungsi ke Mesir, misalnya, masih menghadapi ketidakpastian mengenai keamanan, tempat tinggal, dan masa depan di Gaza.
Dalam laporan kemanusiaan PBB, sekitar 1,9 juta orang di Gaza telah mengalami pengungsian, sering kali lebih dari satu kali. Lebih dari 60 persen penduduk juga dilaporkan kehilangan rumah mereka.
KERUSAKAN INFRASTRUKTUR MENCAPAI SKALA BESAR
Kehancuran fisik Gaza juga menjadi salah satu tantangan terbesar dalam proses pemulihan.
Penilaian berbasis citra satelit UNOSAT hingga 16 Juni 2026 menunjukkan sekitar 201.290 bangunan di Gaza, atau sekitar 82 persen dari seluruh struktur, telah mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, sekitar 134.422 bangunan dinilai hancur.
Penilaian bersama PBB, Uni Eropa, dan Bank Dunia memperkirakan kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi Gaza mencapai sekitar US$71,4 miliar dalam satu dekade. Lebih dari 371.888 unit rumah dilaporkan hancur atau rusak, lebih dari separuh rumah sakit tidak berfungsi, dan hampir seluruh sekolah mengalami kerusakan atau kehancuran.
Artinya, persoalan Gaza tidak berhenti pada penghentian serangan. Pemulihan tempat tinggal, rumah sakit, sekolah, air, sanitasi, dan berbagai fasilitas dasar membutuhkan waktu serta sumber daya yang sangat besar.

Comment