BERLIN, UBN NEWSROOM — Kamis, 26 Rabiul Akhir 1448 H / 8 Oktober 2026.
Aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg, kembali menunjukkan solidaritasnya kepada rakyat Palestina dengan mengikuti demonstrasi di Berlin, Jerman, Rabu (7/10/2026). Perempuan berusia 23 tahun yang dikenal dunia melalui gerakan melawan perubahan iklim itu bergabung dengan ratusan demonstran yang mengecam perang Israel di Jalur Gaza. Kehadirannya menjadi sorotan karena aksi berlangsung tepat tiga tahun setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, yang kemudian diikuti operasi militer Israel berkepanjangan di Gaza.
Menurut laporan kantor berita Jerman dpa yang diterbitkan Tagesspiegel dan t-online, Thunberg terlihat di tengah kerumunan demonstran yang berkumpul di Oranienplatz, kawasan Kreuzberg, Berlin. Para peserta, yang sebagian besar terdiri atas anak muda, membawa bendera Palestina, membentangkan poster, dan meneriakkan slogan solidaritas bagi rakyat Palestina. Juru bicara Kepolisian Berlin Florian Nath menyebut jumlah peserta mencapai sekitar 700 orang.
Demonstrasi tersebut merupakan bagian dari rangkaian aksi yang digelar di berbagai kota Jerman untuk menyoroti penderitaan rakyat Palestina. Dalam aksi di Berlin, para peserta menyuarakan tuntutan penghentian kekerasan di Gaza serta perlindungan hak-hak rakyat Palestina. Kehadiran Thunberg memperlihatkan bahwa isu Palestina tetap menjadi perhatian aktivis internasional, termasuk mereka yang sebelumnya lebih dikenal melalui gerakan lingkungan hidup.
Anadolu Agency dalam laporan pada Rabu (7/10/2026) menyebut demonstran juga menuntut pertanggungjawaban atas dugaan kejahatan perang Israel dan penghentian pengiriman persenjataan Jerman kepada Israel. Para peserta meneriakkan slogan “Viva, viva Palestina” dan “Free, free Palestine” sepanjang aksi. Sebuah poster besar bertuliskan “One genocide does not justify another”, yang berarti satu genosida tidak membenarkan genosida lainnya, turut terlihat di antara massa.
Pesan tersebut menggambarkan sikap para peserta yang menolak penderitaan warga sipil Palestina dijadikan konsekuensi yang dapat dibenarkan atas serangan Hamas pada 2023. Namun, penggunaan istilah genosida dalam demonstrasi merupakan pernyataan politik peserta aksi dan tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya putusan akhir pengadilan internasional mengenai tuduhan tersebut.
GRETA DAN PERJUANGAN UNTUK GAZA
Keikutsertaan Thunberg dalam demonstrasi Berlin bukan tindakan solidaritas pertamanya terhadap Palestina. Dalam dua tahun terakhir, aktivis yang mulai dikenal dunia melalui gerakan Fridays for Future itu semakin aktif mengikuti kampanye internasional menentang perang Gaza. Aktivitas tersebut mencakup demonstrasi, aksi langsung terhadap perusahaan persenjataan, hingga pelayaran kemanusiaan untuk menentang blokade Israel.
Pada Juni 2025, Thunberg menjadi salah satu penumpang kapal Madleen yang dioperasikan Freedom Flotilla Coalition. Kapal tersebut berlayar menuju Gaza dengan membawa bantuan kemanusiaan dalam jumlah terbatas, termasuk makanan dan perlengkapan untuk anak-anak. Misi itu juga dimaksudkan untuk menarik perhatian internasional terhadap pembatasan akses bantuan ke wilayah Palestina.
Namun, perjalanan Madleen terhenti setelah pasukan Israel mencegat kapal tersebut pada 9 Juni 2025. Thunberg bersama aktivis lain kemudian dibawa ke Israel sebelum menjalani proses deportasi. Pemerintah Israel menyatakan kapal tersebut berusaha menembus blokade laut yang diberlakukan terhadap Gaza dan menawarkan penyaluran bantuan melalui jalur yang diizinkan otoritasnya.
Thunberg kembali terlibat dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla pada Oktober 2025. Armada yang terdiri atas puluhan kapal itu berupaya mencapai Jalur Gaza untuk menyalurkan bantuan sekaligus menentang blokade Israel. Namun, angkatan laut Israel mencegat kapal-kapal tersebut dan menahan ratusan aktivis dari berbagai negara.
Menurut Reuters, Thunberg termasuk di antara peserta yang akhirnya dideportasi Israel. Setelah kembali ke Stockholm pada 7 Oktober 2025, ia mengungkapkan tuduhan perlakuan buruk selama berada dalam tahanan Israel. Thunberg menyatakan dirinya dan sejumlah aktivis lain mengalami penyiksaan, termasuk persoalan akses air bersih dan kebutuhan medis.
Pemerintah Israel membantah tuduhan perlakuan buruk terhadap para aktivis yang ditahan. Kementerian Luar Negeri Israel sebelumnya menyatakan hak-hak para tahanan telah dipenuhi dan menolak laporan mengenai penyiksaan. Tuduhan Thunberg tersebut belum dapat diperlakukan sebagai fakta yang telah diputuskan melalui proses hukum independen.
Menariknya, dalam konferensi pers di Stockholm setahun sebelum demonstrasi Berlin, Thunberg justru menolak menjadikan pengalaman pribadinya sebagai pusat perhatian pemberitaan. Ia menegaskan bahwa penderitaan yang dialaminya tidak sebanding dengan keadaan yang dihadapi rakyat Palestina setiap hari. Sikap itu menunjukkan bagaimana ia berusaha mengarahkan perhatian publik dari pengalaman seorang aktivis terkenal kepada krisis kemanusiaan yang menjadi alasan gerakannya.
DARI PERUBAHAN IKLIM KE INDUSTRI SENJATA
Aktivisme Thunberg untuk Palestina juga berkembang menjadi kritik terhadap industri persenjataan Eropa. Pada 13 Juli 2026, ia mengikuti demonstrasi di dekat kantor perusahaan pertahanan Rheinmetall di Berlin. Aksi tersebut menyoroti hubungan perdagangan persenjataan dengan Israel dan keterlibatan perusahaan militer dalam konflik internasional.
Bloomberg melaporkan sekitar 40 demonstran melakukan aksi dengan merekatkan diri ke permukaan jalan di dekat kantor Rheinmetall, tidak jauh dari Gerbang Brandenburg. Para peserta mengenakan sejumlah atribut Palestina, termasuk syal keffiyeh, sambil meneriakkan tuntutan pembebasan Palestina. Mereka menuduh perdagangan senjata berkontribusi terhadap kekerasan yang menimpa warga sipil Gaza.
Rangkaian aksi serupa berlanjut di kawasan Wedding, Berlin, tempat fasilitas industri Rheinmetall menjadi sasaran protes kelompok antimiliterisasi. Media lokal The Berliner pada September 2026 mencatat keikutsertaan Thunberg dalam gerakan yang menentang perluasan produksi persenjataan. Demonstran menyatakan kebijakan peningkatan produksi senjata perlu dipertanyakan ketika berbagai wilayah dunia menghadapi perang dan krisis kemanusiaan.
Keterlibatan tersebut memperluas perhatian publik terhadap perjalanan aktivisme Thunberg. Ia tidak lagi hanya berbicara mengenai emisi karbon dan perubahan iklim, tetapi juga mengaitkan persoalan lingkungan dengan perang, industri militer, dan hak asasi manusia. Namun, pandangan tersebut tetap merupakan posisi politik dan moral yang diperjuangkan Thunberg bersama jaringan aktivisnya, bukan kesimpulan yang diterima secara universal.
TIGA TAHUN GAZA DAN PULUHAN RIBU KORBAN
Demonstrasi Berlin berlangsung ketika perang Gaza telah memasuki tahun ketiga sejak serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Dalam serangan tersebut, sekitar 1.200 orang tewas dan 251 lainnya disandera ke Gaza. Israel kemudian melancarkan operasi militer besar-besaran yang mengakibatkan kehancuran luas serta jatuhnya puluhan ribu korban jiwa di wilayah Palestina tersebut.
Reuters dalam laporan pada Rabu (7/10/2026) menyebut lebih dari 74 ribu warga Palestina telah tewas akibat operasi militer Israel sejak Oktober 2023, berdasarkan data otoritas kesehatan Gaza. Perang juga menyebabkan sebagian besar penduduk wilayah itu kehilangan tempat tinggal dan mengungsi berulang kali. Banyak keluarga hingga kini masih bertahan di tenda darurat atau bangunan yang rusak akibat serangan.
Kondisi tersebut belum sepenuhnya berubah meskipun kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Reuters melaporkan operasi militer dan serangan Israel masih berlangsung setelah kesepakatan itu, dengan sedikitnya 1.400 warga Palestina tewas dalam satu tahun berikutnya. Israel menyatakan sebagian operasinya ditujukan kepada anggota kelompok bersenjata, sementara otoritas kesehatan Gaza terus melaporkan korban jiwa akibat serangan.
Persoalan kemanusiaan juga belum terselesaikan. Berdasarkan laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada 25 September 2026, berbagai pembatasan masih menghambat penyaluran bantuan dan pemulihan kehidupan penduduk Gaza. PBB memperingatkan bahwa kebutuhan tempat tinggal, air bersih, layanan kesehatan, dan pangan tetap sangat besar.
Reuters menyebut sekitar dua juta penduduk Gaza kini terkonsentrasi di wilayah yang semakin terbatas. Israel masih mengendalikan sekitar dua pertiga wilayah tersebut, sedangkan Hamas menguasai bagian pesisir yang tersisa. Situasi itu memperumit rencana rekonstruksi karena penarikan pasukan Israel dan pelucutan senjata Hamas belum mencapai penyelesaian politik.
Pada peringatan tiga tahun serangan 7 Oktober, sejumlah keluarga Palestina kembali mengenang kehidupan mereka sebelum perang. Reuters mewawancarai seorang ibu pengungsi yang dikenal sebagai Umm Mohammad, yang kini tinggal bersama keluarganya di tenda pengungsian di Deir al-Balah. Ia menggambarkan bagaimana perang memisahkan anggota keluarganya dan menghancurkan kehidupan yang sebelumnya mereka bangun.
Penderitaan warga sipil menjadi salah satu alasan mengapa gerakan solidaritas Palestina terus berlangsung di berbagai negara. Bagi para peserta demonstrasi Berlin, persoalan Gaza belum selesai hanya karena pertempuran berskala besar telah berkurang dibandingkan masa awal perang. Mereka menuntut penghentian kekerasan serta perubahan kebijakan negara-negara yang dinilai berperan dalam mempertahankan konflik.
BERLIN DALAM DUA PERINGATAN
Tanggal 7 Oktober memiliki makna yang berbeda bagi kelompok-kelompok masyarakat yang berkumpul di Berlin. Sebagian warga memperingati korban serangan Hamas terhadap Israel pada 2023, sementara kelompok lain menggelar aksi solidaritas terhadap rakyat Palestina yang mengalami dampak perang berkepanjangan. Kedua kegiatan berlangsung pada hari yang sama, tetapi membawa tuntutan dan pesan yang berbeda.
Di Bebelplatz, Berlin, sekitar 1.700 orang menghadiri kegiatan mengenang korban serangan Hamas. Berdasarkan laporan ARD/Tagesschau, acara tersebut dihadiri Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrindt serta Duta Besar Israel untuk Jerman Ron Prosor. Para peserta menyampaikan solidaritas kepada keluarga korban dan memperingatkan meningkatnya ancaman antisemitisme.
Dobrindt menegaskan bahwa memerangi antisemitisme merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat Jerman. Pemerintah Kanselir Friedrich Merz juga kembali menyatakan komitmen melindungi kehidupan masyarakat Yahudi dan menentang segala bentuk kebencian terhadap mereka. Pernyataan tersebut sejalan dengan kebijakan Jerman yang menempatkan keamanan Israel sebagai bagian penting tanggung jawab historis negaranya setelah Holocaust.
Namun, kebijakan pemerintah Jerman terhadap Israel juga menghadapi kritik dari kelompok pendukung Palestina. Mereka mempertanyakan kelanjutan hubungan persenjataan dan kerja sama militer di tengah tingginya korban sipil Gaza. Perdebatan itu mencerminkan ketegangan antara dukungan pemerintah terhadap keamanan Israel, hak menyampaikan protes politik, dan tuntutan perlindungan masyarakat Palestina.
Kehadiran Thunberg dalam demonstrasi di Kreuzberg memperlihatkan bagaimana persoalan tersebut juga menarik keterlibatan generasi muda internasional. Aktivis yang dahulu menggerakkan aksi iklim pelajar itu kini menggunakan pengaruh publiknya untuk mengangkat penderitaan warga Palestina. Namun, kehadirannya dalam satu demonstrasi tidak berarti setiap pernyataan seluruh peserta aksi dapat diatribusikan kepadanya.

Comment