Advertisement
Hukum

Yang Diuji Bukan Hanya Selembar Ijazah Gibran

DUA GODAAN YANG HARUS DITOLAK

Dalam perkara seperti ini, umat menghadapi dua godaan.

Godaan pertama adalah vonis dini: menyebut ijazah “palsu” sebelum ada pembuktian. Al-Qur’an melarangnya dengan tegas:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”

Partai Hijau Inggris Sebut Zionisme sebagai Rasisme, Israel Murka dan Larang Pemimpinnya Masuk

(QS. Al-Isra’ 17:36)

Godaan kedua adalah pembelaan buta: menepis setiap pertanyaan dengan tuduhan “motif politik”, seolah mempertanyakan syarat jabatan adalah makar. Padahal perintah tabayyun berlaku justru ketika kabar datang dan ragu belum terjawab:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti.”

(QS. Al-Hujurat 49:6)

Gaza Memecah Politik Jerman, Tokoh Partai Kiri Dikaitkan dengan Peringatan 7 Oktober

Tabayyun berlaku dua arah. Ia wajib bagi publik sebelum menuduh, dan wajib pula bagi penyelenggara sebelum meloloskan.

Timbangan itu tidak boleh bergeser oleh suka atau benci politik:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”

(QS. Al-Ma’idah 5:8)

Greta Thunberg Turun ke Jalan Bela Palestina Pada 7 Oktober

SYARAT JABATAN ADALAH PAGAR AMANAH

Syarat pendidikan bagi pemimpin bukan sekadar urusan administrasi. Ia adalah pagar agar amanah jatuh kepada ahlinya:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada ahlinya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”

(QS. An-Nisa’ 4:58)

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Apabila urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”

(HR. Al-Bukhari no. 59)

Hadits ini tidak berbicara tentang satu orang. Ia berbicara tentang sistem yang memastikan kelayakan. Ketika sistem verifikasi rapuh, yang terancam bukan hanya satu jabatan, tetapi kepercayaan rakyat kepada seluruh bangunan negara.

Imam Al-Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sulthaniyyah meletakkan tanggung jawab memastikan kelayakan pemegang wilayah pada pihak yang mengangkatnya. Dalam bahasa hari ini, itulah penyelenggara pemilu.

Dan kami tegaskan standar otokritik kami: ukuran yang sama wajib berlaku seandainya persoalan serupa menimpa tokoh yang dicintai umat.

SIKAP REDAKSI

Berdasarkan itu, Redaksi UBN menyampaikan empat seruan:

Kepada Mahkamah Konstitusi: apa pun amar putusannya, sampaikan pertimbangan yang terang tentang kualitas verifikasi pencalonan. Rakyat berhak mendapat pelajaran, bukan sekadar ketetapan prosedural.

Kepada KPU: buka berita acara dan risalah pembahasan internal tentang verifikasi syarat pendidikan, sebagaimana diminta hakim. Transparansi adalah jalan tercepat memulihkan kepercayaan.

Kepada DPR dan pemerintah: revisi UU Pemilu sebelum 2029. Rumuskan makna “sederajat” untuk pendidikan luar negeri di tingkat undang-undang. Wajibkan klarifikasi faktual. Sediakan jalur sengketa syarat calon yang cepat dan tuntas sebelum hari pencoblosan, bukan dua tahun sesudah pelantikan.

Kepada umat dan publik: tahan lisan dan jari. Kawal proses, bukan menyebarkan vonis. Kebenaran tidak membutuhkan fitnah untuk menang.

PENUTUP

Di akhir sidang, Hakim Arsul Sani mengutip firman Allah:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّأُولِي الْأَبْصَارِ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.”

(QS. Ali ‘Imran 3:13)

Pelajaran terbesar pekan ini bukan tentang siapa yang menang di Mahkamah. Pelajarannya adalah bahwa sebuah bangsa dinilai dari kesungguhannya menjaga syarat-syarat yang ia tetapkan sendiri.

Jika pagar itu kita biarkan longgar hari ini, kita sedang mewariskan sengketa kepada generasi berikutnya.

Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnattiba’ah, wa arinal bathila bathilan warzuqnajtinabah.

Ya Allah, tampakkanlah kepada kami yang benar itu benar dan berilah kami kekuatan mengikutinya; tampakkanlah yang batil itu batil dan berilah kami kekuatan menjauhinya.

Pages: 1 2

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement