Technology
Home » MUI Ingatkan AI Bukan Pengganti Guru, Sanad Ilmu Harus Tetap Terjaga

MUI Ingatkan AI Bukan Pengganti Guru, Sanad Ilmu Harus Tetap Terjaga

JAKARTA | UBN Newsroom — Jumat, 17 Safar 1448 H / 31 Juli 2026 M–Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara masyarakat mengakses berbagai informasi, termasuk pengetahuan keagamaan. Di tengah transformasi digital tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan bahwa kemudahan memperoleh jawaban melalui teknologi tidak boleh menggeser tradisi sanad ilmu, yang selama ini menjadi fondasi pendidikan Islam dan hubungan antara guru dengan murid.

Peringatan itu disampaikan Ketua MUI Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi), Masduki Baidlowi, saat membuka Workshop “Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI” yang digelar Komisi Infokomdigi MUI bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI di Kantor MUI Pusat, Jakarta, pada Rabu, 29 Juli 2026. Menurutnya, kemajuan AI harus direspons dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar teknologi menjadi penguat dakwah, bukan pengganti otoritas keilmuan Islam.

Dalam pidato pembukaannya, Masduki menyebut dunia kini memasuki fase “perang algoritma”, ketika kecerdasan buatan berkembang jauh melampaui fungsi pembuatan teks maupun gambar. AI kini berevolusi menjadi AI Agent, yaitu sistem yang mampu membantu merencanakan, berdiskusi, hingga mengeksekusi berbagai tugas secara lebih mandiri.

Perubahan tersebut, menurutnya, menghadirkan tantangan baru bagi lembaga keagamaan. Jika tidak mempersiapkan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas tinggi, ulama dan institusi keagamaan berpotensi semakin jauh dari generasi muda yang menjadikan platform digital sebagai sumber utama memperoleh informasi.

“Anak muda hari ini mencari ekspresi keagamaan lewat AI avatar dan algoritma,” ujar Masduki.

Jelang HUT Ke-81 RI, AQL Islamic Center Bersolek dengan Nuansa Merah Putih

Ia menilai fenomena tersebut menuntut MUI dan lembaga dakwah untuk tidak sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mampu menguasainya agar tetap relevan dalam membimbing umat.

Masduki menegaskan bahwa tantangan terbesar bukan terletak pada keberadaan AI, melainkan ketika algoritma dijadikan satu-satunya rujukan dalam memahami agama.

Menurutnya, sanad ilmu merupakan proses pewarisan ilmu melalui guru yang memiliki otoritas keilmuan sehingga keaslian pemahaman agama tetap terjaga. Jika proses belajar bergeser sepenuhnya ke platform digital tanpa pendampingan ulama, mata rantai keilmuan yang telah diwariskan selama berabad-abad dikhawatirkan akan terputus.

Ia juga mengingatkan bahwa karakter sebagian generasi muda dalam memahami agama mulai mengalami perubahan. Agama tidak lagi selalu dipahami sebagai proses menuntut ilmu secara bertahap bersama guru, melainkan lebih sering dicari dalam bentuk jawaban instan yang disediakan teknologi digital.

Kondisi tersebut, menurut Masduki, berpotensi melemahkan pemahaman Islam yang damai (wasathiyah) dan sahih apabila tidak disertai proses verifikasi kepada ulama yang memiliki kompetensi.

Lukman Hakim Saifuddin: Muktamar NU Harus Jaga Izzah, Hindari Politik Uang dan Voting

Dalam paparannya, Masduki turut menyoroti fenomena echo chamber atau ruang gema, yaitu kondisi ketika algoritma media digital terus menyajikan informasi yang sesuai dengan preferensi penggunanya.

Akibatnya, seseorang cenderung hanya menerima pandangan yang sejalan dengan keyakinannya, sementara informasi lain yang berbeda semakin jarang muncul. Tanpa proses tabayun maupun verifikasi kepada guru yang berkompeten, kondisi tersebut dapat membentuk pemahaman agama yang sempit karena tidak melalui proses pembelajaran yang utuh.

Fenomena inilah yang dinilai menjadi salah satu tantangan terbesar dalam era digital, ketika kecepatan memperoleh jawaban sering kali lebih diutamakan daripada proses memahami ilmu secara benar.

Meski mengingatkan berbagai tantangan tersebut, MUI menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang harus ditolak. Sebaliknya, AI merupakan alat (tool) yang perlu dikuasai agar dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pelayanan umat.

Masduki menjelaskan bahwa teknologi tersebut dapat digunakan untuk memperluas literasi keislaman, mendukung layanan zakat, membantu proses pembelajaran Al-Qur’an, hingga menyebarkan nilai-nilai keselamatan (assalam), selama penggunaannya tetap berada di bawah verifikasi para ulama.

Indonesia Kembali Gagal di Piala AFF 2026

Ia juga menegaskan bahwa MUI harus diisi oleh sumber daya manusia yang memiliki kapasitas tinggi sehingga tetap memperoleh kepercayaan masyarakat, terutama generasi muda yang tumbuh di tengah ekosistem digital.

Pandangan senada disampaikan Ketua Komisi Infokomdigi MUI, Hari Usmayadi, yang menilai tantangan dakwah pada era modern tidak lagi terbatas pada penyampaian materi secara konvensional.

Menurutnya, dakwah kini juga merupakan upaya memenangkan perhatian publik melalui pemahaman terhadap algoritma media sosial dan pemanfaatan kecerdasan buatan.

Hari mengingatkan agar konten keislaman yang sahih dan menyejukkan tidak kalah bersaing dengan berbagai konten instan yang dinilai dapat merusak peradaban, seperti maraknya pinjaman online ilegal, propaganda LGBTQ, maupun munculnya figur populer yang menyampaikan pandangan keagamaan tanpa dasar keilmuan yang memadai.

Workshop yang digelar MUI bersama Baznas RI menunjukkan bahwa penguatan literasi AI kini menjadi bagian penting dalam strategi dakwah. Literasi digital tidak lagi sebatas kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap cara kerja algoritma, kemampuan memverifikasi informasi, serta memastikan setiap rujukan keagamaan tetap bersumber dari otoritas yang memiliki sanad keilmuan.

Dengan demikian, perkembangan AI diharapkan dapat menjadi instrumen yang mendukung penyebaran dakwah Islam tanpa menghilangkan tradisi belajar yang selama ini menjadi kekuatan utama peradaban Islam.

Perspektif UBN Newsroom

Perkembangan AI merupakan salah satu penanda transformasi peradaban global yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan dakwah Islam. Dalam konteks tersebut, pesan MUI menempatkan teknologi sebagai instrumen yang harus dikuasai, bukan sebagai pengganti otoritas keilmuan yang dibangun melalui tradisi sanad.

Bagi peradaban Islam, keberlanjutan sanad ilmu menjadi mekanisme penting untuk menjaga kualitas, keabsahan, dan kesinambungan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, pemanfaatan AI yang tetap berada dalam koridor verifikasi ulama dapat menjadi bentuk soft power dunia Islam dalam menghadirkan dakwah yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus tetap menjaga integritas tradisi keilmuan.

Di tengah kompetisi algoritma yang semakin menentukan arus informasi global, penguatan literasi AI tidak hanya menjadi kebutuhan teknis, tetapi juga strategi membangun ekosistem dakwah yang kredibel, moderat, dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar intelektualnya.

Transformasi digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi dakwah Islam. Pesan MUI menegaskan bahwa kemajuan AI hendaknya diarahkan untuk memperkuat penyebaran ilmu dan pelayanan kepada umat, bukan menggantikan peran guru maupun ulama. Dengan memadukan inovasi teknologi dan tradisi sanad ilmu, dakwah di era digital diharapkan tetap melahirkan pemahaman Islam yang sahih, moderat, serta berkontribusi bagi kemajuan peradaban.*

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *