JAKARTA | UBN Newsroom — Senin, 10 Rabiul Akhir 1448 H / 21 September 2026 M.
Gawai telah menjadi bagian dari keseharian anak, baik untuk belajar, berkomunikasi maupun mencari hiburan. Namun, penggunaan layar yang berlebihan perlu diimbangi dengan aktivitas fisik, interaksi sosial, waktu bersama keluarga, serta tidur yang cukup.
American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan anak usia 2–5 tahun menggunakan media layar maksimal satu jam per hari untuk konten berkualitas dengan pendampingan orang tua. Sementara anak usia 6 tahun ke atas dianjurkan memiliki aturan penggunaan media yang disesuaikan dengan kebutuhan dan aktivitas mereka.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan pentingnya keseimbangan antara aktivitas fisik, waktu sedentari, penggunaan layar, dan tidur, terutama pada anak usia dini.
Berikut tujuh cara yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak mendapatkan jeda setelah menggunakan gawai.
- Batasi Penggunaan Gawai
Langkah pertama adalah membuat batas penggunaan layar yang konsisten. Anak perlu memiliki waktu yang cukup untuk bermain, bergerak, membaca, berinteraksi dengan keluarga, dan melakukan aktivitas tanpa layar.
Orang tua juga perlu memperhatikan apa yang ditonton anak, bukan hanya berapa lama mereka menggunakan gawai. AAP menganjurkan pendampingan orang tua serta pemilihan konten berkualitas, khususnya bagi anak usia dini.
- Ajak Anak Bergerak
Setelah cukup lama berada di depan layar, ajak anak melakukan aktivitas fisik. Berjalan, bersepeda, bermain bola, atau bermain di halaman rumah dapat menjadi pilihan sederhana.
WHO merekomendasikan anak usia 5–17 tahun melakukan rata-rata sedikitnya 60 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat setiap hari sepanjang pekan. Untuk anak di bawah lima tahun, kebutuhan aktivitasnya berbeda berdasarkan usia.
Aktivitas tersebut tidak harus berupa olahraga formal. Bermain bersama orang tua pun dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk bergerak sekaligus membangun kedekatan emosional.
- Ciptakan Jeda Tanpa Layar
Jeda dari gawai dapat diisi dengan membaca buku, menggambar, mewarnai, bermain balok, atau permainan imajinatif.
Orang tua juga dapat menetapkan ruang dan waktu bebas gawai, seperti saat makan bersama keluarga dan menjelang tidur. AAP merekomendasikan menghindari penggunaan layar sekitar satu jam sebelum waktu tidur.
Dengan demikian, anak belajar bahwa hiburan dan aktivitas menyenangkan tidak selalu harus berasal dari layar.
- Perbanyak Interaksi Langsung
Percakapan, permainan bersama, membantu pekerjaan ringan di rumah, atau bertemu teman sebaya memberi anak kesempatan untuk belajar berkomunikasi dan bekerja sama.
WHO juga menekankan pentingnya aktivitas nonlayar yang interaktif bersama pengasuh, seperti membaca, bercerita, bernyanyi, dan bermain puzzle untuk mendukung perkembangan anak.
Interaksi langsung juga dapat menjadi ruang bagi orang tua untuk mengenali perasaan dan kebutuhan anak.
- Ajarkan Pernapasan Sederhana
Ketika anak terlihat gelisah atau emosinya meningkat, orang tua dapat mengajaknya melakukan latihan pernapasan sederhana.
Ajak anak menarik napas perlahan dan mengembuskannya secara perlahan. Agar lebih menyenangkan, orang tua dapat mengajak anak membayangkan sedang mencium bunga ketika menarik napas, lalu meniup lilin ketika mengembuskannya.
Latihan ini dapat dikenalkan sebagai bagian dari keterampilan mengenali dan mengelola emosi, bukan sebagai hukuman ketika anak terlalu lama menggunakan gawai.
- Ajak Menikmati Ruang Terbuka
Mengajak anak keluar rumah dapat menjadi cara sederhana untuk mengganti waktu layar dengan pengalaman langsung.
Berjalan di taman, bermain di halaman, mengamati pepohonan, atau sekadar menikmati suasana sekitar memberi anak kesempatan untuk bergerak dan mengeksplorasi lingkungan.
WHO menempatkan aktivitas fisik dan pengurangan perilaku sedentari sebagai bagian penting dari pola hidup sehat anak.
- Pastikan Anak Tidur Cukup
Tidur menjadi bagian penting dalam keseharian anak. Karena itu, orang tua perlu membangun rutinitas tidur dan bangun yang konsisten serta menciptakan suasana kamar yang mendukung istirahat.
Kebutuhan tidur berbeda berdasarkan usia. WHO, misalnya, merekomendasikan anak usia 3–4 tahun mendapatkan sekitar 10–13 jam tidur per hari, termasuk tidur siang, dengan waktu tidur dan bangun yang teratur.
Menghindari layar menjelang tidur juga dapat membantu membangun rutinitas malam yang lebih tenang.
Bukan Sekadar Mengurangi Gawai
Mengurangi penggunaan gawai bukan berarti menjauhkan anak sepenuhnya dari teknologi. Yang perlu dibangun adalah pola penggunaan yang seimbang sehingga teknologi tidak mengambil porsi yang seharusnya digunakan untuk bergerak, bermain, belajar, berinteraksi, dan beristirahat.
Pada akhirnya, orang tua tidak hanya bertugas memberikan batasan, tetapi juga menyediakan alternatif yang menarik. Ketika dunia nyata terasa menyenangkan dan penuh interaksi, anak memiliki lebih banyak alasan untuk meletakkan gawainya.
Perspektif UBN Newsroom | Anak adalah Amanah yang Harus Dijaga
Dalam Islam, anak merupakan amanah yang membutuhkan penjagaan, pendidikan, dan pendampingan. Karena itu, perhatian terhadap kebiasaan digital anak dapat menjadi bagian dari ikhtiar orang tua dalam menjaga tumbuh kembang dan akhlaknya.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At-Tahrim [66]: 6)
Menjaga anak pada era digital bukan hanya tentang berapa lama mereka memegang gawai. Lebih jauh, orang tua perlu memastikan apa yang masuk ke dalam perhatian mereka, bagaimana kebiasaan itu memengaruhi keseharian, serta apakah mereka tetap memiliki ruang untuk belajar, bermain, beribadah, bersosialisasi, dan beristirahat.
Karena itu, membangun kebiasaan digital yang sehat dapat dimulai dari hal sederhana: meletakkan gawai, lalu menghadirkan kembali dunia nyata di hadapan anak.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment