
JAKARTA, UBN NEWSROOM — Sabtu, 20 Jumadilawal 1448 H / 31 Oktober 2026 M.
Ketua Umum Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID), KH Bachtiar Nasir atau UBN, menggagas konvoi damai di Jakarta pada Selasa (3/11/2026), bertepatan dengan jadwal konser penyanyi tenor asal Italia, Andrea Bocelli, di JIExpo Kemayoran. Rencana tersebut menjadi bagian dari gerakan solidaritas Palestina yang melibatkan sejumlah aktivis kemanusiaan, lembaga filantropi, dan tokoh masyarakat sebagai respons atas penolakan terhadap penyelenggaraan konser tersebut.
Gagasan itu disampaikan UBN dalam pertemuan bersama sejumlah elemen masyarakat di AQL, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (31/10/2026). Pertemuan berlangsung bertepatan dengan jadwal konser Bocelli di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, sementara pertunjukan berikutnya dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 3 November.
UBN Gagas Konvoi Damai pada 3 November
UBN menegaskan bahwa penolakan terhadap konser Bocelli akan disampaikan melalui gerakan damai, terukur, dan tidak mengarah pada tindakan anarkistis. Ia mengajak masyarakat untuk mengonsolidasikan kekuatan solidaritas Palestina melalui konvoi di Jakarta.
“Kami tidak akan berhenti. Sejak sekarang kami mengajak pada Selasa kita bisa konvoi di Jakarta, bahwa kita bergerak dengan damai dan bisa lebih besar,” kata UBN.
Rencana tersebut akan dikoordinasikan bersama jejaring Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) dan berbagai elemen masyarakat yang selama ini aktif mendukung perjuangan kemanusiaan Palestina. UBN menyatakan gerakan itu dimaksudkan untuk memperlihatkan konsistensi masyarakat Indonesia dalam membela hak-hak rakyat Palestina sekaligus menyampaikan keberatan terhadap kehadiran figur internasional yang rekam jejaknya dinilai tidak sejalan dengan semangat solidaritas tersebut.
“Kita tidak ingin onar, tapi semampu yang bisa kami lakukan kita akan bergerak,” tegasnya.
UBN juga membuka kemungkinan pengembangan kegiatan melalui konsolidasi gerakan di darat maupun laut. Namun, hingga pertemuan tersebut berlangsung, rute, jumlah peserta, dan kepastian perizinan konvoi belum diumumkan.
Gagas Konser Solidaritas dan Bantuan Satu Juta Sepatu
Selain konvoi damai, UBN mengusulkan penyelenggaraan konser solidaritas Palestina dengan melibatkan seniman, aktivis sosial, lembaga filantropi, dan berbagai elemen masyarakat.
Menurutnya, penolakan terhadap konser Bocelli tidak seharusnya berhenti pada pernyataan sikap. Solidaritas perlu diwujudkan melalui kegiatan positif yang mampu menghimpun dukungan publik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Palestina, terutama korban konflik di Gaza.
“Saya berharap kita buat konser yang lebih besar untuk Palestina,” ujar UBN.
Ia juga menyinggung program bantuan 100 ribu pasang sepatu yang diumumkan penyelenggara konser Bocelli bagi anak-anak di Tanah Suci dan sejumlah wilayah terdampak konflik. Menurut UBN, kegiatan kemanusiaan harus disertai keberpihakan yang konsisten terhadap masyarakat sipil yang menjadi korban kekerasan.
Sebagai bentuk gerakan tandingan yang berorientasi pada bantuan nyata, UBN menggagas penggalangan hingga satu juta pasang sepatu untuk masyarakat Gaza. Ia menilai masyarakat Indonesia memiliki kemampuan untuk membangun gerakan kemanusiaan berskala luas dengan melibatkan seniman, aktivis, dan lembaga filantropi.
“Kami bisa lebih dari Bocelli, lebih kemanusiaan,” katanya.
UBN menegaskan bahwa dua agenda yang akan dikembangkan adalah konvoi damai dan konser solidaritas Palestina. Keduanya masih membutuhkan konsolidasi dan koordinasi dengan pihak terkait sebelum dapat dilaksanakan.
“Kami akan konsolidasi. Dua agenda itu, konvoi dan konser, akan kami gagas,” ujarnya.
UBN Pertanyakan Sikap Bocelli terhadap Penderitaan Gaza

Dalam pertemuan tersebut, UBN juga mempertanyakan sikap pribadi Andrea Bocelli terhadap penderitaan masyarakat Palestina, khususnya warga Gaza yang menjadi korban konflik.
Menurut UBN, sejauh penelusuran pihaknya, belum ditemukan pernyataan langsung Bocelli yang secara jelas menjawab keprihatinan mereka mengenai penderitaan warga sipil Palestina. Ia menilai penjelasan mengenai misi kemanusiaan konser yang disampaikan penyelenggara belum sepenuhnya menjawab persoalan tersebut.
Salah satu hal yang disoroti adalah keterlibatan Bocelli dalam kegiatan penggalangan dana Friends of the Israel Defense Forces (FIDF) di Los Angeles, Amerika Serikat, pada 2010. Kehadiran Bocelli dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu alasan penolakan yang sebelumnya disampaikan Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Meski demikian, keterlibatan dalam suatu kegiatan penggalangan dana tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa sumbangan pribadi Bocelli digunakan untuk tindakan militer tertentu. Kritik UBN lebih diarahkan pada sikap politik dan moral figur publik internasional yang dinilai perlu dijelaskan secara terbuka ketika penderitaan masyarakat Palestina terus berlangsung.
UBN juga menanggapi pernyataan kemanusiaan yang disampaikan pihak penyelenggara menjelang konser di Borobudur dan Jakarta. Menurutnya, persoalan ini tidak semata-mata berkaitan dengan pertunjukan musik, tetapi juga tanggung jawab moral figur publik internasional dalam menyikapi penderitaan masyarakat sipil akibat perang.
“Ini bukanlah konser kemanusiaan yang sesungguhnya. Ini konser kemanusiaan yang tidak berimbang,” ujar UBN.
Ia berharap penolakan masyarakat Indonesia dipahami sebagai tuntutan terhadap konsistensi nilai kemanusiaan dan keadilan, bukan sebagai ajakan untuk melakukan tindakan yang mengganggu ketertiban umum.
GPCI: Hampir 22 Lembaga Filantropi Terlibat
Direktur Utama Adara Relief International, Maryam Rachmayani, menyampaikan dukungan terhadap sikap penolakan konser Bocelli. Dalam pertemuan tersebut, Maryam menyatakan dirinya mewakili Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), jejaring yang menurut keterangannya menghimpun hampir 22 lembaga filantropi.
Ia mengatakan organisasi-organisasi tersebut ingin memastikan solidaritas terhadap Palestina terus menjadi perhatian masyarakat, termasuk dalam menyikapi kegiatan yang melibatkan figur internasional.
Maryam juga menanggapi penjelasan bahwa Bocelli pernah menunjukkan kepedulian terhadap anak-anak Palestina. Menurutnya, tindakan kemanusiaan tersebut perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, terutama mengenai sikap terhadap penderitaan warga Gaza.
“Kita butuh pernyataan langsung dari Bocelli sendiri untuk kita bisa memahami sendiri,” kata Maryam.
Ia berharap organisasi masyarakat, lembaga filantropi, dan berbagai elemen pendukung Palestina terus menyampaikan aspirasi melalui jalur damai serta sesuai ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi Luar Negeri MUI, Ustaz Fahmi Salim, menekankan pentingnya menjaga sikap Indonesia terhadap persoalan Palestina. Ia mengingatkan bahwa dukungan terhadap kemerdekaan Palestina memiliki landasan historis dan konstitusional dalam politik luar negeri Indonesia.
Fahmi juga mengajak masyarakat yang ingin menyampaikan penolakan agar tidak menggunakan tindakan anarkistis. Menurutnya, pembelaan terhadap keadilan harus tetap dilaksanakan dengan menjunjung tinggi adab dan tanggung jawab sosial.
“Kita ingin sampaikan, kita umat yang beradab yang menjunjung tinggi adab,” katanya.
MUI Sebelumnya Meminta Konser Dibatalkan
Sebelum pertemuan para aktivis di AQL, Majelis Ulama Indonesia telah menyampaikan penolakan resmi terhadap rencana konser Andrea Bocelli di Indonesia.
Melalui pernyataan sikap bernomor Kep-111/DP-MUI/X/2026, MUI meminta pemerintah membatalkan pertunjukan Bocelli yang dijadwalkan berlangsung di Borobudur pada 31 Oktober dan Jakarta pada 3 November 2026.
MUI mengaitkan penolakan tersebut dengan keterlibatan Bocelli dalam kegiatan penggalangan dana FIDF pada 2010 serta penampilannya di Tel Aviv, Israel, pada 2022. Organisasi tersebut menilai penyelenggaraan konser perlu mempertimbangkan komitmen Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina dan amanat Pembukaan UUD 1945 mengenai penghapusan penjajahan.
Di sisi lain, promotor Shoemaker Live menyatakan konser tetap akan diselenggarakan sesuai jadwal setelah melalui komunikasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan. Penyelenggara menyebut pertunjukan tersebut merupakan bagian dari kegiatan seni dan budaya yang diharapkan memberikan manfaat bagi sektor pariwisata serta ekonomi kreatif.
Promotor juga menyatakan Bocelli ingin menyampaikan pesan perdamaian dan kemanusiaan, termasuk mendedikasikan lagu bagi anak-anak dan masyarakat yang menjadi korban konflik. Selain itu, penyelenggara mengumumkan program bantuan 100 ribu pasang sepatu bagi anak-anak di Tanah Suci dan sejumlah wilayah terdampak peperangan.
Perbedaan pandangan mengenai penyelenggaraan konser tersebut belum mereda. UBN menyatakan menghormati langkah-langkah yang telah ditempuh MUI dan ingin membangun gerakan solidaritas yang lebih terkoordinasi bersama berbagai elemen masyarakat.
Ia juga menyatakan kesiapan mendukung kegiatan yang lebih luas dengan tetap mengutamakan ketertiban dan keselamatan masyarakat. Bagi UBN, momentum ini harus menjadi kesempatan membangun gerakan yang tidak berhenti pada penolakan sebuah konser, tetapi berlanjut menjadi bantuan nyata bagi rakyat Palestina.
“Semoga Indonesia tetap bersatu, kompak membela Palestina,” ujar UBN.
Hingga Sabtu (31/10/2026), belum ada pengumuman resmi mengenai kepastian penyelenggaraan, lokasi, rute, jumlah peserta, maupun perizinan konvoi yang digagas untuk 3 November. Pelaksanaannya masih bergantung pada hasil konsolidasi dan koordinasi dengan pihak terkait.

Comment