JAKARTA | UBN Newsroom — Ahad, 24 Rabiul Awal 1448 H / 6 September 2026 M.
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap operasional penerbangan di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten. Bandara tersebut ditutup sementara pada Ahad (6/9/2026) dini hari setelah terdeteksi adanya indikasi sebaran abu vulkanik di area bandara, dan waktu penutupan kemudian diperpanjang hingga pukul 09.30 WIB.Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan terus melakukan pemantauan dan koordinasi intensif bersama operator penerbangan, pengelola bandara, layanan navigasi penerbangan, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Penutupan Awal Bandara hingga 05.30 WIB
Berdasarkan NOTAM Nomor A3341/26, Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada awalnya ditutup sementara mulai pukul 01.30 WIB hingga 05.30 WIB, Ahad (6/9).Penutupan dilakukan setelah hasil paper test yang dilaksanakan pada pukul 00.35–01.05 WIB menunjukkan adanya indikasi sebaran abu vulkanik di area Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
“Penutupan dilakukan sebagai tindak lanjut hasil paper test yang dilakukan pada pukul 00.35-01.05 WIB. Hasil pengujian menunjukkan adanya indikasi sebaran abu vulkanik di area Bandara Internasional Soekarno-Hatta,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa.
Penutupan Diperpanjang hingga 09.30 WIB
Setelah jadwal penutupan awal berakhir pada pukul 05.30 WIB, operasional Bandara Soekarno-Hatta masih dihentikan sementara dan waktu penutupan diperpanjang hingga pukul 09.30 WIB. Perpanjangan dilakukan sebagai dampak dari kondisi abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Perkembangan tersebut membuat operasional penerbangan perlu terus disesuaikan berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Kementerian Perhubungan bersama seluruh pihak terkait tetap melakukan pemantauan untuk menentukan langkah operasional selanjutnya.
33 Penerbangan Terdampak
Dampak aktivitas erupsi juga telah dirasakan sejumlah penerbangan. Berdasarkan data monitoring per 5 September 2026 pukul 22.00 WIB, terdapat 33 penerbangan di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta yang terdampak.
Pada penerbangan internasional terdapat 16 pembatalan, 7 penundaan, dan 5 penjadwalan kembali. Rute penerbangan yang terkena dampak meliputi penerbangan menuju dan dari Singapura (SIN), Hong Kong (HKG), Sydney (SYD), Seoul/Incheon (ICN), Doha (DOH), Amsterdam (AMS), dan Kuala Lumpur (KUL).
Sementara pada penerbangan domestik terdapat 4 pembatalan dan 1 penerbangan yang dialihkan. Rute penerbangan yang terdampak yaitu penerbangan dari dan ke Lampung (TKG), menuju Denpasar (DPS), serta menuju Surabaya (SUB).
Waspadai Dampak Berantai
Ditjen Perhubungan Udara memberikan perhatian khusus terhadap pemulihan jadwal penerbangan pada Ahad (6/9).
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi dampak berantai atau cascading impact akibat terganggunya operasional penerbangan.
Dampak tersebut dapat memengaruhi rotasi pesawat, ketersediaan armada, jadwal penerbangan berikutnya, hingga kapasitas terminal bandara.
“Aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional, salah satunya adalah penyesuaian jadwal penerbangan yang dilakukan oleh maskapai. Penyesuaian operasional penerbangan akan terus dilakukan secara dinamis berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan,” ujar Lukman.
Koordinasi Intensif Terus Dilakukan
Kemenhub terus memantau perkembangan situasi bersama seluruh pihak terkait. Koordinasi dilakukan bersama operator penerbangan, pengelola bandara, layanan navigasi penerbangan atau AirNav Indonesia, BMKG, serta pihak lainnya.
Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan setiap keputusan operasional tetap mengutamakan keselamatan sekaligus mengantisipasi kemungkinan perubahan kondisi akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Penumpang Diminta Pantau Informasi
MaskapaiMasyarakat atau calon penumpang yang akan melakukan perjalanan melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta diimbau untuk terus memantau informasi terbaru dari maskapai terkait status penerbangannya.
Penumpang juga diminta mengatur waktu perjalanan dengan mempertimbangkan kemungkinan adanya perubahan jadwal penerbangan.
“Ditjen Perhubungan Udara akan terus melakukan monitoring bersama operator penerbangan, pengelola bandara, layanan navigasi penerbangan, BMKG, dan pihak terkait lainnya,” ujar Lukman.
Perspektif UBN Newsroom | Keselamatan sebagai Amanah
Dalam perspektif Islam, keselamatan jiwa merupakan amanah yang harus dijaga. Ketika suatu kondisi alam berpotensi menimbulkan bahaya, mengambil langkah pencegahan dan mengikuti arahan keselamatan merupakan bagian dari ikhtiar untuk menghindari mudarat.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِين
Artinya:“Dan janganlah kamu jatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dengan tanganmu sendiri. Dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Al-Baqarah [2]: 195)
Dalam konteks penerbangan, penutupan sementara, penundaan, pembatalan, maupun pengalihan penerbangan merupakan bagian dari langkah keselamatan ketika terdapat indikasi abu vulkanik yang berpotensi mengganggu operasional penerbangan.
Kondisi ini juga menunjukkan pentingnya koordinasi, ketepatan informasi, dan kewaspadaan masyarakat. Keselamatan menjadi tanggung jawab bersama, sehingga keputusan operasional perlu didasarkan pada perkembangan kondisi di lapangan, sementara masyarakat diharapkan tetap tenang dan mengikuti informasi resmi.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme
PeradabanUBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban IslamDukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment