
RIYADH, UBN NEWSROOM — Kamis, 25 Jumadilawal 1448 H / 5 November 2026 M.
Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menyaksikan penandatanganan perjanjian kerja sama pertahanan kedua negara di Riyadh, Rabu (4/11/2026). Kesepakatan ini berlangsung ketika Suriah tengah mempertimbangkan bergabung dengan Aliansi Makkah, pakta pertahanan yang melibatkan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan.
Selain kerja sama pertahanan, kedua negara menandatangani enam fasilitas pinjaman pembangunan melalui Saudi Fund for Development (SFD) senilai lebih dari 403 juta dolar AS. Pembiayaan tersebut diarahkan untuk pemulihan infrastruktur, listrik, perumahan, kesehatan, air bersih, pertahanan sipil, dan modernisasi pelayanan keuangan Suriah.
Suriah Pertimbangkan Masuk Pakta Pertahanan

Menurut laporan Al Jazeera, Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah Damaskus sedang mengevaluasi kemungkinan bergabung dengan Aliansi Makkah. Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum Manama Dialogue di Bahrain pada 31 Oktober 2026.
Aliansi yang dibentuk Arab Saudi, Turki, dan Pakistan pada Agustus 2026 itu mengusung prinsip pertahanan kolektif, yakni serangan terhadap satu negara anggota dipandang sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Meski demikian, Suriah belum mengumumkan keputusan resmi untuk bergabung.
Perjanjian bilateral Suriah-Arab Saudi yang baru ditandatangani juga belum dapat disamakan dengan keanggotaan dalam pakta pertahanan kolektif. Ruang lingkup dan mekanisme pelaksanaannya masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari kedua pemerintah.
Riyadh Perkuat Koordinasi Keamanan

Penguatan kerja sama tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ancaman keamanan di kawasan, termasuk serangan rudal dan pesawat nirawak kelompok Houthi terhadap wilayah Arab Saudi. Turki dan Pakistan juga tengah memperkuat koordinasi pertahanan dengan Riyadh melalui kerangka Aliansi Makkah.
Reuters melaporkan bahwa parlemen Turki dijadwalkan meratifikasi perjanjian pertahanan bersama Arab Saudi dan Pakistan. Kerja sama itu mencakup penguatan kemampuan pertahanan, pertukaran informasi, dukungan teknologi, dan koordinasi militer.
Dalam pertemuan di Riyadh, al-Sharaa dan Mohammed bin Salman turut membahas dampak eskalasi militer terhadap keamanan regional, jalur pelayaran, pasokan energi, serta stabilitas ekonomi internasional. Kedua negara menyerukan penyelesaian sengketa melalui dialog dan diplomasi.
Saudi Kucurkan Pinjaman Rekonstruksi
Di sektor ekonomi, enam fasilitas pinjaman pembangunan senilai sekitar 403,6 juta dolar AS dialokasikan untuk sejumlah proyek pemulihan Suriah. Pembiayaan tersebut mencakup rehabilitasi pembangkit listrik Aleppo, modernisasi layanan air bersih, pembangunan pusat pertahanan sipil, perbaikan rumah warga, pemulihan fasilitas kesehatan, serta transformasi digital Kementerian Keuangan.
Salah satu proyek mengalokasikan 90 juta dolar AS untuk rehabilitasi pembangkit listrik Aleppo yang diperkirakan memberi manfaat kepada sekitar lima juta penduduk. Sementara itu, sektor kesehatan memperoleh alokasi 100 juta dolar AS dan program perumahan sebesar 60 juta dolar AS.
Pendanaan tersebut berbentuk pinjaman pembangunan dengan persyaratan lunak, bukan hibah tanpa kewajiban pengembalian. Dukungan ini memperlihatkan perluasan hubungan Riyadh dan Damaskus, dari kerja sama politik menuju pemulihan ekonomi dan keamanan.

Comment