Edisi Selasa, 12 Mei 2026 / 25 Zulkadah
WASHINGTON/TEHERAN — Geopolitik global kembali memanas tepat di meja makan kita. Sebuah proposal baru dari Washington telah mendarat di meja pemerintahan Iran, membawa janji perdamaian sekaligus syarat-syarat yang dianggap “pahit” untuk ditelan. Hingga 10 Mei 2026, Teheran masih membisu, menyisakan tanda tanya besar: apakah ini awal dari akhir konflik, atau sekadar jeda diplomatik sebelum badai yang lebih besar?
Formula Damai atau Perangkap Diplomasi?
Laporan dari Al Jazeera Arabic mengungkap bahwa Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, menuntut dua syarat utama yang menyentuh jantung pertahanan Iran:
- Pembekuan Nuklir Jangka Panjang: Iran diminta menghentikan pengayaan uranium selama minimal 12 tahun dan menyerahkan stok uranium 60% (sekitar 440 kg) untuk memastikan mereka tidak mencapai level 90% (ambang batas senjata nuklir).
- Stabilitas Jalur Energi: Iran diwajibkan membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari guna menstabilkan pasar energi dunia.
Sebagai imbalannya, Washington menjanjikan pencabutan sanksi ekonomi dan pelepasan aset-aset Iran yang telah lama dibekukan—sebuah tawaran yang sebenarnya telah lama menjadi tuntutan utama Teheran.
Optimisme Trump vs. Kehati-hatian Baghai
Gedung Putih tampak terburu-buru. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan harapan untuk menerima jawaban dalam hitungan jam. Trump sendiri, dengan gaya khasnya, mengeklaim pertemuan kedua belah pihak berjalan “sangat baik” dan sangat optimis akan tercapainya kesepakatan.
Namun, nada berbeda datang dari Teheran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa pihaknya masih mempelajari proposal tersebut secara mendalam. Bagi Iran, persoalan ini bukan sekadar angka pada level pengayaan uranium, melainkan soal jaminan keamanan, posisi strategis di Timur Tengah, dan martabat kedaulatan yang tidak bisa ditukar dengan janji di atas kertas.

Comment