JAKARTA — Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta, menegaskan bahwa perebutan pengaruh global selama puluhan tahun tidak dapat dilepaskan dari faktor geografi dan penguasaan sumber daya energi, terutama minyak bumi. Oleh karena itu, pemahaman terhadap peta dunia menjadi bekal krusial dalam membaca arah politik internasional.
Pesan tersebut disampaikan Anis saat menjadi pembicara dalam acara Sajid Friday Morning Talk yang diselenggarakan oleh Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (Sajid) pada Jumat (10/7/2026). Diskusi ini dipandu langsung oleh Ketua Umum Sajid, Bachtiar Nasir, serta dihadiri oleh kalangan jurnalis Muslim dan akademisi.
1. Pembagian Kawasan dan Demografi Global
Dalam paparannya, Anis menjelaskan bahwa secara geopolitik dunia terbagi ke dalam dua kawasan besar:
- Benua Amerika: Dihuni oleh sekitar 1,1 miliar penduduk.
- Gabungan Asia, Afrika, dan Eropa (Tiga Benua Tua): Dihuni oleh sekitar 7,1 miliar penduduk.
Meski memiliki ketimpangan populasi yang besar, kedua kawasan ini sama-sama menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi dunia dengan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global.
2. Potensi Ekonomi Dunia Islam (Kelompok D-8)
Anis juga menyoroti potensi besar yang dimiliki oleh negara-negara Islam yang tergabung dalam kelompok Developing-8 (D-8).
- Total PDB Gabungan: Mencapai sekitar 5,1 triliun dolar AS.
- Prospek: Potensi ekonomi yang masif ini dinilai dapat menjadi modal penting untuk membangun dan memperkuat kerja sama ekonomi di internal dunia Islam maupun secara global.
3. Minyak Bumi sebagai Poros Hubungan Internasional
Faktor energi, khususnya minyak bumi, dinilai masih menjadi determinan utama yang memengaruhi dinamika hubungan internasional. Distribusi cadangan minyak dunia saat ini berpusat pada dua wilayah utama:
| Kawasan | Estimasi Cadangan Minyak Dunia |
| Timur Tengah | ± 48% |
| Benua Amerika | ± 33% (Hampir Sepertiga) |
“Timur Tengah menjadi kawasan yang sangat strategis karena menyimpan hampir separuh cadangan minyak dunia. Ini menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat kepentingan geopolitik global,” ujar Anis.
4. Kilas Balik Perang Dingin: Nuklir dan Perang Proksi
Anis turut mengulas dinamika persaingan antara Blok Barat dan Blok Timur pada era Perang Dingin. Menurutnya, kepemilikan senjata nuklir oleh kedua kubu justru mencegah terjadinya perang terbuka secara langsung.
Sebagai gantinya, persaingan bergeser menjadi perang proksi (proxy war) di berbagai belahan dunia. Berbagai fenomena seperti pergantian rezim, perang saudara, hingga konflik politik di Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah pada masa itu merupakan dampak nyata dari kontestasi dua kekuatan besar tersebut.
5. Stabilitas Kawasan Teluk vs Non-Teluk
Di akhir pemaparannya, Anis membandingkan stabilitas politik di Timur Tengah. Negara-negara Teluk dinilai relatif mampu menjaga stabilitas politiknya karena ditopang oleh dua faktor utama:
- Kekayaan sumber daya minyak dan gas yang melimpah.
- Kebijakan redistribusi kesejahteraan yang efektif kepada masyarakat.
Kondisi makmur ini membuat kawasan Teluk berkembang jauh lebih stabil dibandingkan dengan sejumlah negara Arab non-Teluk, yang hingga kini masih kerap dilanda konflik politik dan perang berkepanjangan.
Perspektif UBN Newsroom Menembus Dominasi Barat, Mengkapitalisasi “Kekuatan Tengah”
Catatan Redaksi ubn Newsroom
Paparan Wamenlu Anis Matta menegaskan kembali sebuah realitas hukum besi sejarah: siapa yang menguasai ruang (geography) dan isi (energy), dialah yang mendikte narasi global. Namun, dalam kacamata ubn Newsroom, poin paling krusial dari pernyataan Anis Matta bukan sekadar romantisme data minyak, melainkan panggilan bangun (wake-up call) bagi aliansi strategis umat Islam, khususnya kelompok D-8.
Angka 5,1 triliun dolar AS PDB gabungan D-8 seharusnya bukan sekadar deretan statistik di atas kertas. Di tengah pergeseran tatanan dunia pasca-Perang Dingin baru—di mana polaritas tidak lagi tunggal—dunia Islam memiliki peluang emas untuk memosisikan diri sebagai The Third Force (Kekuatan Ketiga) atau Global Pivot.
ubn Newsroom melihat dua tantangan sekaligus peluang besar dari narasi ini:
- Kedaulatan Geopolitik: Negara-negara Teluk memang stabil berkat wealth redistribution, namun ketergantungan global pada energi mereka menuntut kecerdasan diplomasi agar tidak terjebak menjadi ladang proksi baru bagi kekuatan multipolar modern (AS, China, dan Rusia).
- Konsolidasi D-8: Potensi ekonomi yang besar ini hanya akan bermakna jika negara-negara Muslim mampu mengonversinya menjadi kekuatan politik konkret, seperti kemandirian teknologi, ketahanan pangan, dan aliansi dagang yang solid tanpa intervensi eksternal.
Visi diplomasi Indonesia ke depan di bawah pembacaan geopolitik seperti ini harus melompat dari sekadar “penonton yang netral” menjadi “arsitek perdamaian dan keadilan ekonomi global” berbasis nilai-nilai keadilan.

Comment