Internasional Uncategorized
Home » PERANG SUNNI-SYIAH: SIAPA SESUNGGUHNYA DALANGNYA?

PERANG SUNNI-SYIAH: SIAPA SESUNGGUHNYA DALANGNYA?

JAKARTA — Isu perbedaan antara Sunni dan Syiah tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan di tengah umat Islam. Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, persatuan umat dinilai menjadi kebutuhan strategis untuk menghadapi berbagai tantangan yang menyasar dunia Islam.

Pesan tersebut disampaikan langsung oleh H. E. Mohammad Boroujerdi, Duta Besar Republik Islam Iran, dalam kegiatan “Friday Morning Talk” yang diselenggarakan oleh Syarikat Jurnalis Islam Indonesia (SAJID) di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2026) bertepatan dengan 11 Muharram 1448 H, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai.

“Isu Sunni dan Syiah merupakan bentuk manipulasi dan taktik Zionisme Israel yang bertujuan untuk memecah belah dunia Islam. Saat ini, kita tidak perlu terjebak dalam sekat Sunni atau Syiah, karena musuh yang dihadapi sebenarnya adalah satu. Persatuan umat harus diutamakan demi melawan strategi adu domba tersebut,” ujar H. E. Mohammad Boroujerdi.

Persatuan Umat di Tengah Geopolitik Global

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang kerap diiringi narasi sektarian. Dalam sejumlah konflik regional, perbedaan mazhab sering kali dimanfaatkan sebagai instrumen politik yang berpotensi memperdalam fragmentasi di internal umat Islam.

Boroujerdi menegaskan, fokus utama dunia Islam saat ini seharusnya diarahkan pada penguatan solidaritas, kerja sama, dan konsolidasi antarumat, bukan justru mempertajam perbedaan teologis yang telah berlangsung berabad-abad.

Saudi, Turkiye, Pakistan Tandatangani Pakta Pertahanan Makkah, Apa Itu?

Menurutnya, berbagai upaya yang mendorong polarisasi Sunni dan Syiah hanya akan melemahkan posisi umat Islam di panggung internasional.

Perspektif Peradaban Islam dan Soft Power Global

Dalam perspektif peradaban Islam, persatuan umat merupakan salah satu fondasi utama kebangkitan peradaban. Sejarah menunjukkan bahwa ketika dunia Islam mampu membangun solidaritas lintas mazhab, lahirlah berbagai pencapaian besar dalam bidang ilmu pengetahuan, diplomasi, hingga peradaban.

Di tengah persaingan geopolitik global saat ini, identitas keislaman yang kuat dan solidaritas antarumat dipandang sebagai bentuk soft power yang dapat memperkuat posisi dunia Islam dalam percaturan internasional.

Sebaliknya, konflik internal berbasis sektarian berpotensi melemahkan daya tawar politik, ekonomi, dan peradaban umat di tingkat global.

Perspektif Kepatuhan Syariat

Dari sudut pandang syariat, Islam mengajarkan pentingnya menjaga ukhuwah dan menghindari perpecahan. Al-Qur’an menegaskan:

Pandangan Dr. Yasir Qadhi: Pemakaman Massal di Gaza dan Kekalahan AIPAC Dinilai Jadi Titik Balik Opini Publik Amerika

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103).

Para ulama juga menekankan bahwa perbedaan pandangan dalam masalah ijtihadiyah tidak boleh menjadi alasan untuk saling menyesatkan, apalagi memicu permusuhan yang merusak persatuan umat.

Karena itu, merespons berbagai isu sosial dan geopolitik global menuntut sikap yang proporsional, mengedepankan dialog, tabayyun, serta menjaga persaudaraan sesama Muslim di atas kepentingan kelompok maupun mazhab.

Di tengah berbagai tantangan global yang dihadapi dunia Islam, seruan untuk memperkuat persatuan dan menghindari politik adu domba menjadi pesan yang kembali mengemuka dari forum diskusi para jurnalis Islam di Jakarta tersebut.

Indonesia Kutuk Upaya Aneksasi Masjid Al-Aqsa, Serukan Persatuan Negara-Negara Muslim Dukung Palestina

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *