Internasional
Home » Kesepatan Damai Iran-AS Batal, Selat Hormuz Ditutup Lagi

Kesepatan Damai Iran-AS Batal, Selat Hormuz Ditutup Lagi

UBN NEWSROOM | ANALISIS GLOBAL

Senin, 22 Juni 2026 

UBN NEWSROOM – Hanya dalam waktu empat hari, kesepakatan damai sementara yang ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Kamis (18/6) resmi runtuh. Hari ini, Senin (22/6), militer Iran menutup kembali Selat Hormuz. Langkah ini diambil setelah Israel meningkatkan serangan militernya ke Lebanon Selatan, yang menewaskan sedikitnya 47 orang.

Saat ini, Wakil Presiden AS J.D. Vance dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berada di Swiss untuk melakukan negosiasi darurat yang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar. Mereka mencoba menyelamatkan perjanjian agar perang terbuka tidak pecah.

Untuk memahami mengapa kesepakatan ini gagal begitu cepat, UBN Newsroom membedah situasi ini dari tiga perspektif kepentingan yang saling berbenturan.

Saudi, Turkiye, Pakistan Tandatangani Pakta Pertahanan Makkah, Apa Itu?

1. Perspektif Iran: Kesepakatan Harus Melindungi Sekutu

Bagi Teheran, kesepakatan damai dengan Amerika Serikat tidak ada artinya jika Israel tetap bebas menyerang Lebanon dan Hizbullah. Iran merasa dijebak oleh aturan perjanjian yang rancu. Ketika Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Lebanon akhir pekan lalu, Iran langsung mengambil tindakan balasan terkuatnya: menutup Selat Hormuz, jalur laut yang dilewati oleh 20% pasokan minyak dunia. Melalui media sosial, Menlu Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka selama agresi Israel di Lebanon terus berlanjut.

2. Perspektif AS & Israel: Perjanjian Tidak Mengatur Lebanon

Washington dan Tel Aviv memiliki sudut pandang yang sama sekali berbeda. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer mereka di Lebanon terpisah dari perjanjian AS-Iran. Israel tidak merasa terikat dengan dokumen tersebut. Di sisi lain, Presiden Donald Trump merespons keras tindakan Iran. Melalui akun media sosialnya, Trump mengancam akan mengambil alih keamanan selat dan memungut tarif bagi kapal yang lewat jika Iran terus memblokade jalur perdagangan komersial.

3. Perspektif Pasar Finansial: Ketidakpastian Memicu Kepanikan

Bagi pelaku ekonomi global, konflik ini bukan lagi soal siapa yang benar, melainkan soal pasokan energi yang terancam. Penutupan Selat Hormuz langsung memicu reaksi negatif di pasar komoditas dan keuangan per hari ini, 22 Juni 2026:

  • Minyak Mentah Brent: Naik menjadi USD 81,69 per barel (meningkat 1,39%).
  • Minyak Mentah WTI: Naik menjadi USD 78,93 per barel (melonjak 3,04%).
  • Pasar Saham & Kripto: Bursa saham AS (Nasdaq) memerah karena investor memindahkan aset mereka ke tempat yang lebih aman. Bitcoin juga turun ke kisaran USD 63.000.

PERSPEKTIF UBN NEWSROOM: Kesepakatan Terburu-buru yang Mengabaikan Realitas

Kesepakatan damai ini gagal dalam hitungan hari karena satu kesalahan mendasar: para pemimpin politik memaksakan hasil yang cepat, tetapi mengabaikan konflik nyata di lapangan.

AS dan Iran fokus berdamai di atas kertas demi kepentingan politik masing-masing, namun sengaja membiarkan status perang antara Israel dan Lebanon berada di area abu-abu. Iran berasumsi Lebanon otomatis aman, sementara Israel merasa bebas menyerang.

Jika negosiasi darurat di Swiss gagal memperjelas aturan cakupan wilayah ini, blokade di Selat Hormuz akan berlangsung lama. Akibatnya, masyarakat global—termasuk konsumen di dalam negeri—harus bersiap menghadapi lonjakan harga bahan bakar akibat pasokan energi dunia yang tersumbat.

Pandangan Dr. Yasir Qadhi: Pemakaman Massal di Gaza dan Kekalahan AIPAC Dinilai Jadi Titik Balik Opini Publik Amerika

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *