JAKARTA | UBN Newsroom — Anggota Komisi XIII DPR RI Franciscus Sibarani meminta pemerintah mengevaluasi kebijakan naturalisasi atlet menyusul kegagalan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia menembus babak semifinal Piala AFF 2026.
Franciscus yang membidangi persoalan kewarganegaraan menilai hasil tersebut perlu menjadi momentum untuk mengevaluasi arah pembangunan sepak bola nasional, termasuk mekanisme dan pertimbangan dalam proses naturalisasi pemain.
“Kekalahan ini harus menjadi momentum evaluasi. Tidak hanya soal hasil pertandingan, tetapi juga bagaimana kita membangun sepak bola Indonesia ke depan, termasuk kebijakan naturalisasi,” kata Franciscus dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Menurutnya, naturalisasi tidak seharusnya menjadi jalan pintas yang mengesampingkan potensi pemain lokal. Pembinaan talenta anak bangsa, kata dia, harus tetap menjadi fondasi utama pembangunan sepak bola Indonesia.
“Indonesia tidak kekurangan anak-anak berbakat. Kita harus percaya diri dengan kemampuan anak bangsa sendiri,” ujarnya.
Sebagai anggota Komisi XIII DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Hukum, Franciscus menilai pemerintah perlu memastikan mekanisme naturalisasi dilakukan secara jelas, transparan, terukur, serta mempertimbangkan kepentingan nasional.
Ia menegaskan, pemberian kewarganegaraan bukan sekadar persoalan administratif, tetapi juga perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, termasuk dampaknya terhadap pembangunan olahraga dan masa depan generasi muda Indonesia.
“Kita ingin Tim Nasional menang, tetapi jangan sampai demi kemenangan hari ini kita mengorbankan masa depan sepak bola Indonesia. Yang harus kita bangun adalah sistem yang mampu melahirkan pemain-pemain hebat dari anak bangsa sendiri,” katanya.
Sebelumnya, Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap hasil Timnas Indonesia yang gagal menembus semifinal Piala AFF 2026.
Indonesia ditahan imbang Singapura 1-1 dalam pertandingan terakhir Grup A di Stadion Jalan Besar, Jumat (7/8/2026). Hasil tersebut membuat Indonesia gagal finis di dua posisi teratas Grup A. Vietnam mengakhiri fase grup di posisi pertama dengan 10 poin, sedangkan Singapura berada di posisi kedua dengan delapan poin.
Dalam pertandingan tersebut, Indonesia sempat unggul melalui gol Ragnar Oratmangoen pada menit ke-47. Namun, keunggulan itu tidak bertahan setelah Singapura menyamakan kedudukan pada menit ke-66.
Erick Thohir mengatakan evaluasi diperlukan agar Timnas Indonesia dapat tampil lebih siap menghadapi berbagai turnamen penting berikutnya.
“Kami akan melakukan evaluasi terhadap hasil di ASEAN Championship 2026 agar Timnas Indonesia lebih siap untuk menghadapi sejumlah turnamen penting ke depan,” kata Erick.
Perspektif UBN Newsroom
Kegagalan mencapai semifinal menjadi momentum untuk melihat pembangunan sepak bola Indonesia secara lebih menyeluruh. Prestasi tim nasional tidak semestinya hanya diukur dari hasil jangka pendek, tetapi juga dari keberhasilan membangun sistem pembinaan yang mampu melahirkan pemain berkualitas secara berkelanjutan.
Evaluasi terhadap naturalisasi tidak berarti menutup pintu bagi pemain yang memiliki hubungan dengan Indonesia. Namun, kebijakan tersebut perlu ditempatkan secara proporsional agar program naturalisasi berjalan seiring dengan pembinaan pemain lokal, penguatan akademi, peningkatan kualitas kompetisi, dan pembangunan sistem sepak bola nasional.
Dengan demikian, keberhasilan Timnas Indonesia tidak hanya bergantung pada penambahan pemain melalui naturalisasi, tetapi juga pada kemampuan negara dan seluruh ekosistem sepak bola dalam mencetak generasi pemain Indonesia yang kompetitif.
Perspektif Compliance Islam
Islam tidak melarang manusia untuk membangun kerja sama dan mengambil manfaat dari kemampuan orang lain. Perbedaan asal-usul, bangsa, dan latar belakang bukan alasan untuk merendahkan seseorang. Namun, setiap kebijakan publik tetap harus dilaksanakan secara adil, amanah, transparan, dan mempertimbangkan kemaslahatan.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat tersebut mengajarkan bahwa perbedaan bangsa dan asal-usul merupakan bagian dari ketetapan Allah agar manusia saling mengenal dan bekerja sama. Dalam konteks olahraga, kemampuan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh latar belakang kewarganegaraannya.
Namun, ketika negara menetapkan kebijakan yang berdampak terhadap kepentingan publik, prinsip amanah, keadilan, dan kemaslahatan tetap harus menjadi pertimbangan. Kebijakan naturalisasi idealnya tidak mengabaikan hak dan potensi generasi muda bangsa sendiri.
Karena itu, evaluasi kebijakan naturalisasi dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki tata kelola olahraga nasional. Naturalisasi dapat ditempatkan sebagai salah satu instrumen penguatan prestasi, sementara pembinaan talenta lokal tetap menjadi investasi utama bagi keberlanjutan sepak bola Indonesia.

Comment