
HEBRON, UBN NEWSROOM — Selasa, 23 Jumadilawal 1448 H / 3 November 2026 M.
Aktivitas warga Palestina di Kota Hebron, mulai ramai kembali setelah militer Israel menarik pasukannya dan mengakhiri operasi militer serta pengepungan selama 10 hari. Ratusan keluarga yang sebelumnya terpaksa meninggalkan rumah mereka sudah mulai kembali.
Meskipun demikian, sejumlah bangunan sudah terlanjur rusak akibat ulah tentara Israel. Sementara warga Hebron banyak kehilangan harta benda serta menderita dampak kemanusiaan akibat operasi tersebut.
Operasi Militer Berawal dari Serangan di Pos Pemeriksaan

Operasi militer Israel dimulai pada 23 Oktober 2026 setelah insiden penembakan di dekat Hebron yang menewaskan dua tentara Israel, yakni Sersan Staf Ron Yonatan Roytman dan Sersan Yuval Shai Svilem. Tiga tentara lainnya dilaporkan terluka, sementara dua warga Palestina yang dituduh sebagai pelaku tewas dalam baku tembak dengan pasukan Israel.
Setelah kejadian tersebut, Israel memberlakukan penutupan akses di Hebron dan desa-desa sekitarnya. Operasi kemudian melibatkan penggeledahan rumah, penangkapan, penghancuran bangunan, serta pengambilalihan sejumlah rumah warga di kawasan Al-Jilda dan Ain Deir Bahha untuk dijadikan pos militer.
Sebanyak 537 Keluarga Terdampak Pengungsian

Berdasarkan data yang diverifikasi Komite Bantuan dan Kegubernuran Hebron, sebanyak 537 keluarga atau 3.361 orang terdampak pengungsian paksa. Jumlah tersebut mencakup 232 bayi, 1.193 anak berusia 2–17 tahun, 326 lansia, 147 ibu hamil atau menyusui, 32 penyandang disabilitas, dan 213 penderita penyakit kronis.
Dampak operasi juga meluas ke sektor pendidikan dan ekonomi. Sekitar 262.000 siswa di wilayah Kegubernuran Hebron mengalami gangguan kegiatan belajar selama operasi berlangsung. Pemerintah kota turut melaporkan sedikitnya 15 rumah dan bangunan dihancurkan, sedangkan 327 toko terpaksa tutup. Kerugian ekonomi harian diperkirakan mencapai 10–12 juta shekel.
Warga Kembali, tetapi Ancaman Belum Sepenuhnya Berakhir

Pada Senin (2/11), Gubernur Hebron Khaled Dudin mengumumkan penarikan pasukan Israel dan menyatakan bahwa pasukan keamanan Palestina telah mengambil alih pengamanan wilayah tersebut. Warga yang sebelumnya mengungsi diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing secara bertahap.
Wali Kota Hebron Youssef al-Jaabari menyebut aktivitas pendidikan mulai berjalan kembali setelah sekolah dan sejumlah universitas sempat ditutup. Namun, warga diminta tetap berhati-hati. Pertahanan Sipil Palestina mengimbau masyarakat tidak menyentuh benda mencurigakan atau memasuki bangunan rusak sebelum dilakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada sisa amunisi maupun bahan peledak.
Sejumlah warga juga melaporkan rumah mereka dalam kondisi berantakan dan barang-barang pribadi hilang setelah penggeledahan. Reuters turut memberitakan kesaksian warga mengenai pengusiran paksa dan kerusakan rumah selama operasi berlangsung. Laporan tersebut merupakan kesaksian warga yang masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
PBB Kecam Pengusiran dan Hukuman Kolektif

Pada 27 Oktober 2026, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, menyatakan operasi Israel di Hebron menimbulkan kekhawatiran serius atas penggunaan kekuatan yang dinilai tidak perlu dan tidak proporsional. Ia menyoroti pengusiran paksa, penghancuran rumah dan properti komersial, serta pembatasan kebebasan bergerak warga Palestina.
Türk menegaskan bahwa hukuman kolektif merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Ia juga mendesak Israel memastikan warga yang terusir dapat kembali ke rumah serta memberikan kompensasi dan pemulihan atas penggusuran dan penghancuran yang dinilai melanggar hukum.

Comment