Ekonomi
Home » BI dan People’s Bank of China Bersinergi Perkokoh Stabilitas Keuangan Regional dan Dedolarisasi

BI dan People’s Bank of China Bersinergi Perkokoh Stabilitas Keuangan Regional dan Dedolarisasi

Table of Contents

SHANGHAI — Di tengah meningkatnya interkoneksi perekonomian global dan fluktuasi pasar valuta asing, Bank Indonesia (BI) bersama bank sentral Tiongkok, People’s Bank of China (PBOC), resmi memperdalam sinergi bilateral. Langkah ini diambil untuk memperkuat ketahanan finansial kedua negara sekaligus menyokong stabilitas keuangan di kawasan regional.

Komitmen strategis tersebut dikukuhkan dalam Pertemuan Tingkat Tinggi yang dihadiri langsung oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo, dan Gubernur PBOC, Pan Gongsheng, di Shanghai, Tiongkok.

Dalam pertemuan tersebut, kedua bank sentral menyepakati eksplorasi peningkatan nilai Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) serta menegaskan penguatan integrasi sistem pembayaran lintas batas melalui tiga capaian utama:

  • MoU Kerja Sama LCT Indonesia – Hong Kong: Penandatanganan nota kesepahaman mengenai Local Currency Transaction (LCT) yang melibatkan BI, PBOC, dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA). Langkah ini memperluas kerangka transaksi mata uang lokal untuk menekan ketergantungan pada mata uang global utama (dedolarisasi).
  • Implementasi QR Lintas Batas (Cross-Border QR Payment): Peresmian interkoneksi pembayaran QR antara Indonesia dan Tiongkok. Sistem ini didukung oleh 191 penyedia jasa pembayaran di Tiongkok serta 24 penyedia di Indonesia, yang akan memudahkan transaksi ritel dan sektor pariwisata secara seketika (real-time).
  • Integrasi Infrastruktur Finansial & CIPS: Penunjukan Bank Mandiri secara resmi sebagai peserta langsung dalam Cross-border Interbank Payment System (CIPS) milik Tiongkok untuk mempercepat proses kliring dan penyelesaian transaksi dagang kedua negara. Selain itu, kedua pihak menyepakati pembentukan RMB Clearing Bank di Indonesia.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa perluasan kerja sama ini ditargetkan mampu membantu dunia usaha memangkas biaya pemrosesan transaksi sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar bagi para pelaku pasar.

PERSPEKTIF UBN NEWSROOM

Sinergi yang kian erat antara Bank Indonesia dan PBOC bukan sekadar kesepakatan teknis perbankan, melainkan sebuah langkah geopolitik ekonomi yang diperhitungkan secara matang (calculated geopolitical move). Dari ruang redaksi UBN Newsroom, kami melihat tiga poin krusial yang mendasari transformasi ini:

BPJPH Terbitkan Aturan Sanksi Administratif, Perkuat Kepatuhan Penyelenggaraan Jaminan Produk Halal

  1. Akselerasi Dedolarisasi yang Nyata Kerja sama ini merupakan manifestasi konkret dari strategi diversifikasi mata uang yang dijalankan Indonesia. Di tengah tekanan makroekonomi yang sempat membayangi Rupiah, ketergantungan mutlak pada Dolar AS (USD) menjadi kerentanan struktural. Dengan mendorong LCT hingga merangkul infrastruktur keuangan Hong Kong dan CIPS, Indonesia sedang membangun “tameng finansial” untuk mengurangi dampak kebijakan moneter bank sentral Barat (The Fed) terhadap pasar domestik.
  2. Efisiensi Integrasi Ritel & Sektor Riil Peluncuran QR lintas batas dan pembentukan RMB Clearing Bank di dalam negeri menunjukkan bahwa dedolarisasi tidak lagi berada di level elite makro, melainkan sudah membumi ke sektor riil. UMKM, importir, hingga wisatawan kini dapat bertransaksi langsung tanpa melalui konversi ganda (double conversion) ke USD. Langkah ini akan memangkas ongkos transaksi secara signifikan dan mempercepat perputaran modal antara dua mitra dagang terbesar di Asia ini.
  3. Poros Baru Ketahanan Regional Tiongkok mempertahankan posisinya sebagai mitra dagang terbesar Indonesia selama 13 tahun berturut-turut. Dengan total nilai perdagangan bilateral yang terus mencetak rekor baru, penguatan arsitektur keuangan ini mempertegas eksistensi poros ekonomi Jakarta–Beijing yang lebih mandiri. Bagi kawasan regional, sinergi ini mengirimkan sinyal kuat bahwa stabilitas Asia Tenggara dan Timur kini didorong oleh integrasi sistem pembayaran lokal yang tangguh, inklusif, dan adaptif terhadap era digital.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *