Ekonomi
Home » PERTAMAX NAIK TAJAM, RAKYAT MAKIN TERTEKAN: ERA ENERGI MAHAL MULAI TERASA NYATA

PERTAMAX NAIK TAJAM, RAKYAT MAKIN TERTEKAN: ERA ENERGI MAHAL MULAI TERASA NYATA

JAKARTA, UBN NEWSROOM — Harga BBM non-subsidi Pertamina kembali naik tajam. Pertamax RON 92 naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.

Kenaikan ini menjadi pukulan baru bagi masyarakat di tengah pelemahan rupiah, tekanan ekonomi rumah tangga, dan ketidakpastian harga energi global.

Sebenarnya, tanda-tanda kenaikan harga BBM sudah tercium sejak harga minyak dunia melonjak akibat eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang pecah pada 28 Februari lalu. Kenaikan tersebut kemudian lebih dulu terasa pada BBM non-subsidi jenis diesel seperti Pertamina Dex pada 18 April 2026.

Namun saat itu, Pertamax RON 92 dan Pertamax Green 95 belum mengalami penyesuaian harga besar, khususnya di SPBU Pertamina.

Meski demikian, berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa SPBU non-Pertamina sempat mengalami keterbatasan stok untuk BBM RON 92 and RON 95. Situasi ini memperkuat dugaan bahwa tekanan harga pasar dan pasokan memang sudah berlangsung sejak beberapa waktu terakhir.

BPJPH Terbitkan Aturan Sanksi Administratif, Perkuat Kepatuhan Penyelenggaraan Jaminan Produk Halal

VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, menjelaskan bahwa kenaikan harga Pertamax terjadi karena harga pasar BBM RON 92 sudah bergerak jauh di atas harga jual domestik sebelumnya.

Dalam acara Sarasehan Energi DEN di Kampus IPB Bogor, Rabu, 10 Juni 2026, Sigit menyebut bahwa harga RON 92 di pasar telah mencapai kisaran Rp20.000 hingga Rp21.000 per liter.

“Pertamax RON 92 kebetulan di market itu karena kondisi geopolitik kemarin itu naik. RON 92 itu kalau di market itu sudah harganya Rp20.000-an, Rp21.000. Dan kita masih tahan, masih berupaya menahan di Rp12.300,” jelasnya.

Sigit juga menegaskan bahwa penetapan harga BBM non-subsidi pada dasarnya harus mengikuti harga pasar. Menurutnya, jika Pertamina terus menjual BBM jauh di bawah harga pasar, maka perusahaan akan mengalami tekanan keuangan yang dapat berpengaruh pada kemampuan menjaga pasokan.

“Logikanya, kami Pertamina membeli barang di market impor harganya tinggi, terus kami jual di domestik harganya di bawah. Uang yang kami dapat kami gunakan untuk membeli di market nggak dapat lagi volume yang sama. Volumenya akan turun. Akibatnya adalah ketersediaan stok itu akan turun,” imbuhnya.

Dengan kata lain, jika harga terlalu lama ditahan sementara harga impor terus naik, maka risiko berikutnya bukan hanya kerugian perusahaan, tetapi juga berkurangnya ketersediaan stok di dalam negeri. Hal inilah yang dikhawatirkan dapat menjadi masalah jika permintaan BBM tetap tinggi sementara kemampuan pengadaan melemah.

KEDAULATAN PANGAN: JIHAD PERADABAN DAN MANIFESTASI TAUHID DI ERA MODERN

KENAIKAN BBM BUKAN HANYA SOAL PERTAMAX

Kenaikan harga Pertamax tidak bisa dipandang hanya sebagai persoalan pengguna kendaraan pribadi. Dalam struktur ekonomi nasional, BBM adalah salah satu komponen penting yang memengaruhi biaya hidup.

Jika harga energi naik, dampaknya bisa menjalar ke banyak sektor:

  • Biaya transportasi meningkat dan memicu efek domino pada sektor publik.
  • Biaya distribusi barang naik yang berujung pada pembengkakan harga logistik.
  • Harga bahan pokok berpotensi ikut terdorong ke atas.
  • Daya beli masyarakat semakin tertekan karena pengeluaran operasional membengkak.
  • Pelaku UMKM menghadapi biaya operasional lebih tinggi, memperkecil margin keuntungan yang sudah tipis.

Meskipun Pertamax bukan BBM subsidi, kenaikan ini tetap menjadi sinyal penting bahwa tekanan energi global mulai semakin nyata dirasakan di dalam negeri. Apalagi Indonesia saat ini sudah lama menjadi pengimpor bersih minyak (net oil importer). Artinya, ketika harga minyak dunia naik, Indonesia membutuhkan lebih banyak dolar untuk membeli energi dari luar negeri.

Dalam situasi rupiah yang sedang lemah, tekanan itu menjadi dua kali lipat: harga minyak naik, sementara nilai tukar terhadap dolar juga melemah.

Gubernur BI Mundur, Komisi XI Minta Pengganti Definitif Jaga Independensi Bank Sentral

PERSPEKTIF UBN NEWSROOM

Bagian ini menyajikan analisis, catatan kritis, dan rekomendasi strategis dari Redaksi UBN Newsroom dalam menyikapi kebijakan kenaikan harga BBM dan dampaknya terhadap ketahanan umat.

1. Pemerintah Sedang Terseok Menghadapi Tekanan Global dan Domestik

UBN melihat bahwa kenaikan harga Pertamax ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ini adalah bagian dari rangkaian tekanan besar yang sedang dihadapi Indonesia: konflik geopolitik global, lonjakan harga minyak dunia, rupiah yang melemah, tingginya kebutuhan impor energi, tekanan APBN, serta daya beli masyarakat yang semakin sensitif.

Kita harus jujur bahwa pemerintah sedang menghadapi situasi yang sangat berat. Namun pada saat yang sama, pemerintah tidak boleh hanya menjelaskan persoalan ini dari sisi teknis pasar semata. Rakyat membutuhkan penjelasan yang jujur, tetapi juga membutuhkan perlindungan yang nyata.

Bagi masyarakat kecil, kenaikan harga energi bukan sekadar pergeseran angka statistik—itu berarti ongkos kerja naik, biaya sekolah anak bertambah, belanja dapur makin berat, dan ruang napas ekonomi keluarga semakin sempit.

2. Mitigasi Pertama: Jaga Stok, Jangan Sampai Krisis Pasokan

Mitigasi paling mendesak adalah memastikan ketersediaan stok. Kenaikan harga memang pahit, tetapi kelangkaan jauh lebih berbahaya. Jika harga naik namun barang tersedia, masyarakat masih bisa melakukan penyesuaian. Namun jika harga naik dan stok langka, kepanikan publik (panic buying) akan sulit dibendung.

Pemerintah dan Pertamina harus memastikan rantai pasok BBM benar-benar aman, terutama di wilayah padat penduduk, kawasan industri, jalur logistik, dan daerah-daerah terpencil. Transparansi stok sangat penting agar publik tidak terjebak dalam spekulasi yang merugikan.

3. Mitigasi Kedua: Lindungi Transportasi Publik dan Logistik Pangan

Kenaikan BBM non-subsidi tetap bisa berdampak pada harga barang jika memengaruhi biaya transportasi logistik. Karena itu, pemerintah perlu membentengi sektor-sektor dasar rakyat agar tidak ikut terguncang.

Fokus perlindungan harus diarahkan pada:

  • Jalur distribusi beras dan bahan pokok.
  • Moda transportasi umum dan angkutan barang.
  • Sektor produktif rakyat seperti nelayan, petani, dan UMKM pangan.

Pemerintah harus menyiapkan skema insentif sementara yang tepat sasaran untuk sektor-sektor ini. Bukan subsidi membabi buta, melainkan perlindungan terukur agar kenaikan harga energi tidak menjalar menjadi inflasi pangan (volatile food inflation) yang meluas.

4. Mitigasi Ketiga: Kurangi Ketergantungan Impor Energi

Krisis hari ini kembali menelanjangi kelemahan fundamental kita: ketergantungan kronis pada impor energi. Selama kebutuhan domestik digantungkan pada pasar luar negeri, maka setiap riak konflik global akan langsung memukul dompet rakyat.

Solusi jangka panjang tidak cukup hanya dengan menahan atau menaikkan harga. Indonesia harus mempercepat diversifikasi energi, penguatan kilang nasional, efisiensi konsumsi, elektrifikasi transportasi publik, serta akselerasi energi terbarukan. Negara yang bergantung pada impor akan selalu rentan ketika dunia berguncang.

5. Mitigasi Keempat: Komunikasi Publik Harus Lebih Empatik

Dalam situasi sulit, gaya komunikasi pemerintah sangat menentukan psikologis massa. Rakyat tidak hanya butuh kalkulasi angka dan pembenaran ekonomi; rakyat butuh empati.

Narasi “harga pasar memang naik” mungkin benar secara data, namun terdengar dingin di telinga masyarakat yang sedang berjuang bertahan hidup. Komunikasi publik harus menjawab pertanyaan mendasar: Apa langkah konkret agar harga sembako tidak ikut melonjak? Apa jaminan stok aman? Apa perlindungan nyata untuk rakyat kecil? Dalam krisis, kepercayaan publik adalah energi sosial yang paling mahal.

6. Tawakkal dan Ikhtiar: Jalan Umat Menghadapi Masa Sulit

Di tengah situasi yang semakin berat, UBN mengajak umat untuk tidak larut dalam kepanikan. Kita boleh khawatir, kita boleh mengadu kepada Allah, dan kita boleh mengkritik kebijakan yang dirasa tidak berpihak. Namun, kita tidak boleh kehilangan arah. Islam mengajarkan keseimbangan antara tawakkal dan ikhtiar. Tawakkal bukanlah kepasrahan yang pasif, melainkan berserah diri kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik.

Sebagaimana firman Allah SWT:

{وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ}

“Barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (QS. At-Talaq: 3)

Dalam menghadapi fase ini, umat perlu memperkuat ikhtiar domestik: mengatur skala prioritas pengeluaran, avoiding pemborosan, memperkuat solidaritas keluarga, membantu tetangga yang kesulitan, serta memperbanyak doa dan istighfar. Krisis tidak hanya dihadapi dengan kebijakan makro negara, tetapi juga dengan ketahanan iman dan kepedulian sosial di tingkat akar rumput.

PENUTUP

Kenaikan harga Pertamax menjadi alarm keras bahwa Indonesia sedang memasuki fase ekonomi yang tidak ringan. Harga energi melambung, rupiah tertekan, pasar global tidak menentu, dan dampaknya mulai merembes ke dapur-dapur masyarakat.

Namun, setiap masa sulit selalu membawa pelajaran berharga. Bagi pemerintah, inilah saatnya membuktikan kehadiran negara lewat mitigasi yang kuat dan berempati. Bagi masyarakat, inilah momentum untuk mengatur hidup secara lebih bijak dan solid. Dan bagi umat Islam, inilah waktu yang tepat untuk kembali mengetuk pintu langit dengan tawakkal yang benar.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga bangsa Indonesia, melapangkan rezeki rakyatnya, melindungi keluarga-keluarga dari kesulitan hidup, dan memberikan kekuatan serta keberkahan bagi negeri ini untuk melewati badai ekonomi yang sedang terjadi.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *