SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasional
Home » Listrik Padam, Penyintas Gempa di Manggarai Bertahan di Tenda Darurat

Listrik Padam, Penyintas Gempa di Manggarai Bertahan di Tenda Darurat

MANGGARAI | UBN Newsroom — Ahad, 3 Rabiul Awal 1448 H / 16 Agustus 2026 M.Gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuat warga Desa Bulan, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, memilih bertahan di tenda-tenda pengungsian darurat. Ancaman gempa susulan membuat warga menghindari rumah dan beristirahat di area terbuka demi menjaga keselamatan.

Listrik Padam, Warga Bertahan dalam Gelap

Kondisi penyintas semakin berat setelah aliran listrik padam sejak gempa pertama terjadi. Dalam kondisi gelap dan suhu malam yang dingin, orang dewasa hingga anak-anak bertahan di area terbuka dengan berbekal sarung dan selimut seadanya.

Penerangan di lokasi pengungsian juga sangat terbatas. Warga hanya mengandalkan sorot lampu kendaraan yang terparkir di sekitar tenda untuk menerangi area tempat mereka mengungsi.

Kondisi tersebut membuat aktivitas warga di lokasi pengungsian menjadi terbatas, terutama pada malam hari ketika kebutuhan penerangan dan makanan menjadi semakin mendesak.

Ribuan warga masih mengungsi, bantuan gempa Flores terus dikebut

Hari Kedua, Warga Belum Menerima Bantuan

Kedatangan tim relawan AQL Humanity disambut antusias oleh para penyintas. Warga terlihat mendatangi lokasi penyaluran untuk menerima bantuan yang dibawa para relawan.

Seorang warga mengatakan, hingga hari kedua pascagempa, bantuan belum diterima oleh warga di lokasi tersebut.

“Belum ada bantuan masuk,” ujar warga tersebut saat ditemui tim relawan, Ahad (16/8/2026).

Relawan Salurkan Makanan Siap Santap

Prabowo Ajukan Penjualan KRI Ki Hajar Dewantara ke DPR

Merespons kondisi tersebut, tim AQL Humanity turun langsung ke lokasi untuk menyalurkan bantuan kepada para penyintas.

Dengan memanfaatkan penerangan dari lampu kendaraan, relawan membagikan logistik berupa roti dan sosis siap santap kepada warga Desa Bulan.

Bantuan makanan siap santap menjadi kebutuhan mendesak karena warga belum memungkinkan membuka dapur umum atau memasak secara mandiri.

Padamnya listrik serta keterbatasan fasilitas pendukung membuat makanan siap konsumsi menjadi pilihan paling memungkinkan bagi warga yang masih bersiaga menghadapi potensi gempa susulan.

Penyintas Masih Bertahan di Area Terbuka

Titiek Soeharto Soroti Bantuan Presiden Belum Tiba di Pengungsian Gempa NTT

Hingga kondisi dinilai aman, para penyintas masih memilih bertahan di tenda darurat dan area terbuka demi mengurangi risiko akibat kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan dasar penyintas pascagempa tidak hanya berupa makanan, tetapi juga penerangan, tempat berlindung, perlengkapan tidur, serta dukungan untuk memastikan warga dapat bertahan dengan aman selama masa tanggap darurat.

Perspektif UBN Newsroom

Ketika Keselamatan Menjadi Prioritas

Bencana mengajarkan bahwa keselamatan manusia harus menjadi perhatian utama. Keputusan warga untuk sementara meninggalkan rumah dan bertahan di ruang terbuka merupakan bentuk kehati-hatian ketika kondisi bangunan dan aktivitas gempa susulan masih menjadi kekhawatiran.

Di sisi lain, kondisi listrik yang padam dan terbatasnya penerangan menunjukkan bahwa kebutuhan penyintas tidak berhenti pada bantuan makanan. Dalam situasi darurat, kebutuhan sederhana seperti penerangan, selimut, air bersih, makanan siap santap, dan tempat berlindung dapat menjadi sangat berarti.

Kehadiran relawan di tengah kondisi tersebut menjadi bentuk solidaritas nyata. Bantuan yang diberikan tidak hanya meringankan kebutuhan material, tetapi juga memberi pesan kepada para penyintas bahwa mereka tidak menghadapi musibah seorang diri.

Menolong Sesama adalah Amanah

Islam mengajarkan kepedulian terhadap sesama, terutama ketika seseorang berada dalam kesulitan. Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.”

(QS. Al-Ma’idah [5]: 2)

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa membantu masyarakat yang sedang menghadapi musibah merupakan bagian dari semangat ta’awun dalam kebaikan.

Dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, membantu penyintas gempa juga berkaitan dengan ḥifẓ al-nafs, yaitu menjaga jiwa. Menyediakan makanan, tempat berlindung, penerangan, dan kebutuhan dasar merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjaga keselamatan manusia di tengah kondisi darurat.

Bencana mungkin tidak dapat dihindari, tetapi kepedulian dapat mengurangi beratnya penderitaan.

Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom serta Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal
YouTube UBN Newsroom.

Penulis: Tim UBN Newsroom

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement