MANGGARAI TIMUR | UBN Newsroom — Senin, 5 Rabiul Awal 1448 H / 18 Agustus 2026 M.
Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebabkan Masjid Al-Istiqomah di Desa Ronting, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, mengalami kerusakan total.
UBN Newsroom melaporkan, masjid yang berdiri persis di bibir pantai tersebut kini luluh lantak. Bangunan bercat putih dengan kubah merah muda yang selama ini menjadi salah satu ikon kawasan pesisir Ronting itu tidak lagi dapat digunakan untuk beribadah.
Struktur Masjid Roboh Total
Struktur utama masjid roboh sepenuhnya. Bagian atap beton dan kubah utama amblas hingga menyentuh lantai dasar. Kubah sentral terlihat terhimpit di antara patahan rangka beton dan seng atap yang mengalami kerusakan parah.
Sejumlah menara yang berada di setiap sudut bangunan juga tampak miring akibat guncangan. Material bangunan berserakan di sekitar area masjid, mulai dari pecahan semen, keramik yang retak, hingga bagian konstruksi yang runtuh.

Masjid Bersejarah Sejak 1942
Di tengah kondisi tersebut, papan prasasti di halaman masjid masih berdiri. Prasasti itu mencatat sejarah Masjid Al-Istiqomah yang pertama kali dibangun pada 1942 oleh TG. Amazena atau Abdurrahman Bin Sono.
Selama puluhan tahun, Masjid Al-Istiqomah tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat aktivitas keagamaan dan simbol syiar Islam bagi masyarakat pesisir Ronting.
Letaknya yang berhadapan langsung dengan laut juga membuat masjid tersebut memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat nelayan setempat.
Kondisi Pesisir Ronting Pascagempa
Pasca-gempa, kawasan pantai di sekitar masjid dilaporkan tampak lengang. Sejumlah perahu nelayan terlihat terombang-ambing di perairan dangkal.
Kerusakan Masjid Al-Istiqomah menambah daftar fasilitas umum dan tempat ibadah yang terdampak gempa bumi besar yang mengguncang wilayah NTT tersebut.
Perspektif UBN Newsroom
Ketika Rumah Ibadah Menjadi Bagian dari Ketangguhan Umat
Kerusakan Masjid Al-Istiqomah bukan hanya kehilangan sebuah bangunan fisik. Bagi masyarakat pesisir Ronting, masjid selama puluhan tahun menjadi tempat ibadah, pusat aktivitas keagamaan, sekaligus bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Gempa bumi mengingatkan bahwa fasilitas ibadah juga merupakan bagian penting dari infrastruktur kemanusiaan yang perlu diperhatikan dalam proses pemulihan pascabencana.
Ketika sebuah masjid mengalami kerusakan, yang perlu dipulihkan bukan hanya struktur bangunannya, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk kembali beribadah, berkumpul, dan membangun ketahanan bersama.
Dalam situasi bencana, solidaritas masyarakat menjadi bagian penting dari proses pemulihan. Bantuan untuk penyintas tidak semestinya berhenti pada pemenuhan kebutuhan pangan dan tempat tinggal, tetapi juga mencakup pemulihan fasilitas umum dan tempat ibadah yang menjadi pusat kehidupan masyarakat.
Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa menghadapi musibah bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga membutuhkan kepedulian dan gotong royong.
Masjid Al-Istiqomah mungkin runtuh secara fisik akibat gempa. Namun, semangat masyarakat untuk bangkit, menjaga ibadah, dan membangun kembali kehidupan setelah bencana tidak boleh ikut runtuh.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom serta Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal
YouTube UBN Newsroom.

Comment