SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasional
Home » Air Mata Juhri di Masjid yang Runtuh

Air Mata Juhri di Masjid yang Runtuh

Manggarai Timur | UBN Newsroom — Selasa,5 Safar 1448H/18 Agustus 2026 M.Air mata Juhri tak terbendung. Lelaki 43 tahun itu berdiri di antara puing-puing Masjid Al-Istiqomah, Ronting, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tempat yang selama puluhan tahun menjadi ruang pengabdiannya kepada Allah itu kini nyaris rata dengan tanah.

Juhri bukan imam besar. Ia marbot. Setiap hari, ia menyapu lantai, membersihkan halaman, dan memastikan masjid tetap rapi. Ketika musim nelayan tiba, ia melaut. Ketika pekerjaan di darat tersedia, ia bekerja di darat. Namun, masjid selalu menjadi bagian dari hidupnya.

Pagi setelah gempa mengguncang Flores, Sabtu (15/8/2026), Juhri berjalan menuju masjid. Ia ingin melihat keadaan tempat yang selama ini dirawatnya.

Yang ia temukan membuat langkahnya terhenti.

“Sudah roboh,” katanya kepada UBN Newsroom, Selasa (18/8/2026).

Titiek Soeharto Soroti Bantuan Presiden Belum Tiba di Pengungsian Gempa NTT

Ia menangis.

Bagi Juhri, yang runtuh bukan sekadar bangunan. Di sana ada kenangan, ibadah, pengajian, dan kebersamaan warga yang berlangsung bertahun-tahun.

“Sedih, sedih, menangis,” ujarnya.

Masjid Al-Istiqomah pertama kali dibangun pada 1942. Juhri masih mengingat proses renovasi pada 2017. Saat itu masyarakat ikut bekerja, bergotong royong, sementara sebagian pekerjaan dibantu tukang.

Kini, bangunan yang mereka bangun bersama itu hancur dihantam gempa.

Sumbang 5 Ton Rendang untuk Penyintas Gempa NTT, Sumbar Bergerak dari Dapur hingga Udara

Mimbar dan buku-buku Alquran masih berada di dalam reruntuhan. Juhri belum berani mengambilnya. Ia tidak tahu apakah benda-benda itu masih bisa diselamatkan.

“Belum bisa diambil,” katanya.

Ketakutan masih menyelimuti warga. Sebagian memilih naik ke daerah yang lebih tinggi karena khawatir gempa susulan kembali terjadi. Di atas gunung, warga mulai menyiapkan tempat ibadah darurat.

Bagi Juhri, kehilangan masjid berarti kehilangan salah satu pusat kehidupan kampung.

Setiap malam, ibu-ibu berkumpul untuk majelis taklim dan pengajian. Anak-anak dan para gadis juga biasa datang. Masjid menjadi tempat mereka belajar, beribadah, sekaligus bertemu.

Gempa M 7,7 Meratakan Masjid Al-Istiqomah di Pesisir Ronting Manggarai Timur

Saat Lebaran, halaman masjid bahkan tak mampu menampung jamaah. Sekitar 500 orang bisa memenuhi bangunan. Laki-laki dan perempuan berdesakan dalam suasana hari raya. Tenda didirikan untuk menampung jamaah perempuan.

Kini semua itu tinggal kenangan.

Juhri memandang reruntuhan Masjid Al-Istiqomah. Ia berharap tempat itu kembali berdiri, bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai tempat warga kembali berkumpul dan bersujud.

“Mudah-mudahan bisa dibangun kembali, insyaallah,” katanya.

Di tengah puing-puing itu, Juhri menyimpan harapan sederhana: suatu hari nanti ia kembali menyapu lantai masjid, membersihkan halaman, dan mendengar suara jamaah memenuhi ruang yang kini sunyi.

Masjid itu bernama Al-Istiqomah. Dan bagi Juhri, harapan agar ia kembali berdiri adalah bagian dari istiqamah yang belum selesai.

Perspektif UBN Newsroom

Masjid, Pusat Kehidupan Umat

Bagi UBN Newsroom, kisah Juhri menunjukkan bahwa masjid bukan sekadar bangunan fisik. Di tengah masyarakat, masjid menjadi ruang ibadah, pendidikan, silaturahmi, dan penguatan kehidupan sosial umat.

Runtuhnya Masjid Al-Istiqomah karena gempa bukan hanya meninggalkan kerusakan material, tetapi juga memutus sementara salah satu ruang berkumpul masyarakat.

Karena itu, pemulihan pascabencana perlu melihat kebutuhan masyarakat secara utuh. Pembangunan kembali tempat ibadah dapat menjadi bagian dari pemulihan kehidupan sosial dan spiritual warga yang terdampak.

Kisah Juhri juga memperlihatkan bahwa ketangguhan masyarakat tidak hanya dibangun melalui bantuan material, tetapi melalui gotong royong, kesabaran, dan kepedulian untuk kembali membangun kehidupan setelah bencana.

Sabar dalam Menghadapi Musibah

Islam mengajarkan bahwa manusia akan menghadapi berbagai bentuk ujian dalam kehidupan. Ketika musibah datang, seorang Muslim diperintahkan untuk bersabar sekaligus terus melakukan ikhtiar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ

“Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

QS. Al-Baqarah [2]: 155

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kehilangan dan kerusakan akibat bencana merupakan ujian yang membutuhkan kesabaran sekaligus ikhtiar. Dalam konteks musibah gempa di Manggarai Timur, pemulihan masjid dan kehidupan masyarakat tidak hanya membutuhkan pembangunan kembali secara fisik, tetapi juga dukungan sosial, gotong royong, dan penguatan spiritual masyarakat.

Harapan Juhri agar Masjid Al-Istiqomah kembali berdiri menjadi gambaran bahwa di tengah kehancuran, kehidupan beragama dan kebersamaan masyarakat tetap dapat dipelihara.

Dukungan Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang mengangkat kehidupan umat, kemanusiaan, kebangsaan, serta berbagai peristiwa yang memiliki dampak bagi masyarakat.

Dukungan terhadap operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom menjadi bagian dari ikhtiar menjaga keberlanjutan kerja-kerja informasi yang menghadirkan kebenaran yang teruji dan narasi yang berakar pada wahyu.

Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom dapat disalurkan melalui:

BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti UBN Newsroom untuk mendapatkan informasi dan analisis strategis mengenai umat, bangsa, kemanusiaan, dan peradaban.

UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.

Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement