JAKARTA | UBN Newsroom — Senin, 17 Agustus 2026 M / 4 Rabiul Awal 1448 H.KH. Dr. (H.C.) Bachtiar Nasir, Lc., MM, menyoroti peran dan kontribusi umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang dinilai belum sepenuhnya tercatat dalam sejarah. Hal itu disampaikan dalam pidato peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Senin (17/8).
Dalam pidatonya, Bachtiar Nasir mengangkat tema “Nama yang Tidak Ada di Tugu Mana Pun”, yang membahas kontribusi umat Islam terhadap kemerdekaan, mulai dari perjuangan melawan kolonialisme, peran ulama dan santri, legitimasi kemerdekaan, jaringan dunia Islam, pembiayaan perjuangan, hingga pentingnya pencatatan sejarah.
MUKADIMAH
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Segala puji bagi Allah, Yang menetapkan bahwa kemuliaan sebuah bangsa tidak diwariskan, melainkan diperjuangkan. Shalawat dan salam kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya.
Assalāmu ‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Salam sejahtera bagi kita semua.
Bapak, Ibu, dan hadirin yang saya muliakan.
Delapan puluh satu tahun. Itulah usia kemerdekaan yang kita peringati hari ini.
Setiap tahun kita berdiri di lapangan upacara. Bendera naik. Lagu kebangsaan berkumandang. Nama-nama besar disebut, dan memang layak disebut.
Tetapi izinkan saya menyampaikan satu hal yang barangkali belum pernah kita renungkan bersama.
Ada satu golongan penyumbang kemerdekaan yang namanya tidak terpahat di tugu mana pun. Tidak ada di buku pelajaran. Tidak disebut di upacara. Tidak ada patungnya di perempatan jalan.
Bukan karena jasanya kecil. Justru sebaliknya.
Melainkan karena mereka memberi, lalu pulang, lalu diam.
Hari ini saya ingin mengajak Bapak dan Ibu mencari mereka.

KEMERDEKAAN TIDAK DIMULAI PADA 1945
Hadirin yang dirahmati Allah.
Kekeliruan pertama dalam membaca sejarah kita adalah menganggap perjuangan kemerdekaan dimulai pada abad kedua puluh.
Padahal jauh sebelum ada kata “Indonesia” — sebelum ada bendera, sebelum ada lagu kebangsaan — perlawanan telah berlangsung. Dan berlangsung selama tiga abad.
Di Minangkabau, Perang Padri berkecamuk berpuluh tahun. Tuanku Imam Bonjol ditangkap, dan wafat dalam pengasingan.
Di Jawa, Pangeran Diponegoro memimpin perang yang paling menguras kas kolonial di pulau ini. Dan perhatikan cara beliau dikalahkan: bukan di medan tempur. Beliau ditangkap di dalam sebuah perundingan — setelah diberi jaminan keselamatan. Beliau pun wafat dalam pengasingan, di Makassar.
Dan di Aceh, saudara-saudaraku, di Aceh berlangsung perang terpanjang yang pernah dihadapi Belanda di seluruh Nusantara. Dimulai tahun 1873, dan belum benar-benar padam hingga hampir empat dasawarsa sesudahnya.
Ketika kekuatan kesultanan melemah, apakah perlawanan berhenti?
Tidak.
Justru di titik itulah para ulama mengambil alih. Teungku Chik di Tiro dan para pemimpin daerah meneruskan apa yang tak lagi sanggup dipikul istana.
Dan di sana pula berperang dua orang perempuan yang wajib kita sebut namanya hari ini: Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Meutia. Bukan di belakang garis. Di medan perang. Memimpin pasukan.
Inilah pelajarannya: menaklukkan sebuah istana cukup dengan satu perjanjian. Tetapi menaklukkan otoritas ilmu — itu perkara yang sama sekali berbeda. Sebab ulama tidak memiliki ibu kota yang dapat direbut.
Hadirin sekalian.
Sekarang izinkan saya menyampaikan sesuatu yang sangat penting, dan mohon didengarkan dengan saksama.
Perlawanan-perlawanan itu memang mengambil kekuatannya dari iman. Tetapi Al-Qur’an sendiri tidak pernah membingkainya sebagai perang untuk satu golongan.
Dengarkan ayat ini:
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَـٰتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا۟ … وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَٰمِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَٰتٌ وَمَسَـٰجِدُ
“Telah diizinkan berperang bagi mereka yang diperangi, karena mereka dizalimi… Dan sekiranya Allah tiada menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja, sinagoge-sinagoge, dan masjid-masjid.” — QS. al-Ḥajj [22]: 39–40
Perhatikan urutan yang disebut Allah.
Biara. Gereja. Sinagoge. Dan masjid disebut paling akhir.
Ibnu ‘Āsyūr menjelaskan bahwa penyebutan rumah ibadah agama lain sebelum masjid mengandung pelajaran besar: perlawanan terhadap kezaliman yang disyariatkan itu bertujuan menjaga kebebasan beribadah seluruh manusia — bukan kepentingan satu golongan saja.
Maka ketika hari ini kita menyebut peran umat Islam dalam kemerdekaan, bukan untuk mengecilkan siapa pun. Kemerdekaan ini adalah kerja bersama seluruh anak bangsa, dari segala suku dan agama.
Kita menyebutnya agar sejarah kita lengkap. Sebab sejarah yang tidak lengkap adalah sejarah yang tidak jujur.
EMPAT YANG TIDAK DIMILIKI NEGARA YANG BARU LAHIR
Hadirin yang saya hormati.
Namun tiga abad perlawanan itu tidak menghasilkan kemerdekaan. Mengapa?
Bukan karena kurang berani. Bukan karena kurang iman. Melainkan karena Aceh berperang sendiri. Banjar sendiri. Minangkabau sendiri. Jawa sendiri. Ketika pemimpinnya gugur, gerakannya padam.
Yang kurang bukan keberanian. Yang kurang adalah keberanian yang tersusun.
Dari pelajaran pahit itulah, pada awal abad kedua puluh, umat ini mulai berorganisasi. Mendirikan sekolah. Membangun rumah sakit, panti asuhan, penerbitan, kepanduan — semuanya dari kantong sendiri, tanpa sepeser pun subsidi.
Mereka membangun negara sebelum negara itu ada.
Maka ketika Proklamasi dikumandangkan, ada empat hal yang mereka serahkan kepada republik yang belum punya apa-apa ini.
Pertama — legitimasi.
Pada 22 Oktober 1945, para ulama berkumpul di Surabaya, dan lahirlah Resolusi Jihad: mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban agama atas setiap pribadi.
Beberapa pekan kemudian, 10 November, arek-arek Surabaya berhadapan dengan tentara pemenang Perang Dunia Kedua. Persenjataan mereka sama sekali tidak sebanding. Lalu apa yang menutup jurang itu?
Bukan senjata. Melainkan berubahnya status sebuah perbuatan: dari sekadar boleh, menjadi wajib atas diri. Dari kematian, menjadi kesyahidan.
Itu sumbangan yang tidak dapat diberikan oleh kementerian mana pun. Hanya otoritas ilmu yang sanggup.
Kedua — manusia yang terlatih.
Yang menyambut seruan itu bukan massa yang bersemangat tetapi tak terlatih, melainkan pemuda-pemuda santri yang telah mengenal senjata dan disiplin komando.
Dan izinkan saya menyebut satu nama. Jenderal Soedirman. Panglima Besar kita. Sebelum memanggul senjata, beliau adalah guru sekolah Muhammadiyah dan kader kepanduan Hizbul Wathan.
Ketiga — pintu ke dunia luar.
Belanda memiliki satu senjata hukum yang mematikan. Mereka berkata kepada dunia: “Ini urusan dalam negeri kami. Indonesia bukan negara. Ini pemberontakan.”
Hanya ada satu cara mematahkan dalil itu — pengakuan dari negara berdaulat lain.
Pengakuan itu datang. Bukan dari Barat. Dari dunia Arab. Dan pintunya bukan protokol diplomatik, melainkan jaringan ukhuwah yang telah dirawat berabad-abad — melalui jamaah haji, melalui para pelajar kita di Makkah dan Kairo.
Lihatlah siapa yang dikirim Republik: Haji Agus Salim dan rombongannya. Modal utama mereka bukan pengalaman kedinasan, melainkan penguasaan bahasa Arab dan kredibilitas keislaman yang dihormati lawan bicara.
Tidak seorang pun yang berangkat haji pada tahun 1920-an membayangkan bahwa jalur itu kelak menyelamatkan kedudukan hukum negaranya.
Dan yang keempat — pembiayaan.
Hadirin sekalian, ini yang paling jarang dibicarakan. Dan justru inilah yang akan saya tuntaskan sebentar lagi.
Sebab Al-Qur’an ternyata sudah lebih dahulu meletakkan urutannya:
ٱنفِرُوا۟ خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَـٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ
“Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah.” — QS. al-Taubah [9]: 41
Perhatikan urutannya. Harta disebut sebelum jiwa.
Al-Alusi menjelaskan: pendahuluan bi-amwālikum mengisyaratkan bahwa tidak ada perjuangan yang dapat ditegakkan tanpa pembiayaan.
Perang dimenangkan dapur umum sebelum dimenangkan senapan.
YANG TIDAK TERCATAT
Hadirin yang saya muliakan.
Sekarang saya kembali kepada pembuka tadi — golongan yang namanya tidak ada di tugu mana pun.
Dan saya harus jujur kepada Bapak dan Ibu sekalian.
Saya sudah mencarinya. Dan saya tidak menemukannya.
Inilah yang tidak saya temukan:
Berapa nilai harta umat yang membiayai revolusi kemerdekaan?
Tidak ada yang tahu. Tidak ada buku kasnya.
Siapa saja kaum ibu yang menyerahkan perhiasannya, yang memasak untuk pasukan, yang merawat yang terluka, yang menjaga anak-anak tetap belajar di tengah dentuman meriam?
Nama mereka tidak tercatat.
Berapa banyak santri yang berangkat ke Surabaya setelah mendengar fatwa 22 Oktober, dan dari pesantren mana saja mereka datang?
Belum ada seorang pun yang menghitungnya.
Bapak dan Ibu.
Perhatikan betapa pahitnya kenyataan ini: justru bidang yang sumbangannya paling besar, dokumentasinya paling tipis.
Mengapa? Sebabnya sederhana — dan justru karena itu mengharukan.
Semuanya diberikan dengan ikhlas. Tanpa administrasi.
Tidak ada yang meminta kuitansi ketika melepas gelang emasnya. Tidak ada yang mendaftarkan namanya ketika mengantar nasi ke garis depan.
Dan di sinilah letak amanah kita hari ini.
Keikhlasan adalah keutamaan di hadapan Allah. Tetapi ketiadaan pencatatan adalah kerugian di hadapan sejarah.
Sebab ketika kita tidak mencatat, orang lain yang akan menuliskan versinya. Dan anak cucu kita akan membaca sejarah bangsanya tanpa menemukan kakek-neneknya di dalamnya.
Al-Qur’an tidak diam mengenai hal ini.
Tahukah Bapak dan Ibu, ayat terpanjang dalam seluruh Al-Qur’an berbicara tentang apa? Bukan tentang perang. Bukan tentang ibadah ritual.
Tentang pencatatan.
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَٱكْتُبُوهُ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” — QS. al-Baqarah [2]: 282
Fa-ktubūh. Maka tuliskanlah.
PENUTUP
Hadirin yang berbahagia.
Generasi pendiri republik ini telah menunaikan bagian mereka dengan sempurna.
Mereka membangun organisasi ketika belum ada negara.
Mereka membiayai perang dari kantong sendiri.
Mereka mengeluarkan fatwa yang mengubah rasa takut menjadi kesiapan mati.
Dan pada 18 Agustus 1945 — ini yang paling berat — mereka menerima kompromi yang pahit. Melepaskan sebagian tuntutan mereka sendiri. Demi menyelamatkan republik yang baru berumur satu hari.
Itu bukan kekalahan, saudara-saudaraku. Itu kenegarawanan.
Mereka telah menunaikan semuanya.
Yang belum mereka tunaikan hanya satu: mencatatnya.
Dan itulah bagian yang jatuh ke tangan kita.
Maka pada peringatan yang kedelapan puluh satu ini, izinkan saya menyampaikan tiga ajakan.
Kepada para peneliti muda, mahasiswa, dosen, dan santri — ambillah satu. Satu saja. Satu kekosongan sejarah, lalu isilah dengan bukti yang sahih. Ke Arsip Nasional, ke Leiden, ke Kairo. Satu celah yang terisi dengan dokumen lebih berharga daripada seratus pidato yang meyakinkan tanpa bukti — termasuk pidato saya hari ini.
Kepada pengelola pesantren, yayasan, dan lembaga umat — bangunlah sistem arsip. Catat setiap amal. Sebab bila tidak, seabad dari sekarang akan ada orang berdiri di mimbar seperti ini, mengucapkan kalimat yang persis sama tentang generasi kita.
Dan kepada kita semua — jagalah persatuan. Sebab sejarah kita mencatat dengan pahit bahwa kekuatan umat ini tidak pernah dipatahkan dari luar sebelum ia retak dari dalam.
وَلَا تَنَـٰزَعُوا۟ فَتَفْشَلُوا۟ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” — QS. al-Anfāl [8]: 46
Kata rīḥ di sini bermakna daya dorong — seperti angin yang menggerakkan layar. Yang hilang karena perselisihan bukan kebenaran posisi kita masing-masing, melainkan daya dorong kita bersama.
DOA
Marilah kita menengadahkan tangan.
Allāhumma, ya Allah, rahmatilah para syuhada dan pejuang negeri ini — yang namanya tercatat maupun yang tidak, yang dikenang maupun yang terlupakan. Cukuplah bagi mereka bahwa Engkau mengetahui, dan Engkau mencatatnya. Dan catatan-Mu tidak pernah hilang.
Allāhumma, karuniakanlah kepada generasi ini ilmu yang bermanfaat, amal yang tersusun rapi, dan persatuan yang tidak dirusak perselisihan.
Allāhumma, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, adil, makmur, dan diberkahi. Satukanlah hati seluruh anak bangsa di atas kebaikan.
رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَـٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau jadikan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” — QS. al-Ḥasyr [59]: 10
Dirgahayu Republik Indonesia yang kedelapan puluh satu.
Merdeka!
Wallāhu a’lam bish-shawāb.
Wassalāmu ‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal
YouTube UBN Newsroom.

Comment