JAKARTA | UBN Newsroom — Selasa, 5 Rabiul Awal 1448 H / 18 Agustus 2026 M.
Negosiator utama Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka hingga Amerika Serikat (AS) memenuhi sejumlah tuntutan Teheran. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah berlanjutnya ketegangan antara Iran dan AS serta pembahasan mengenai masa depan navigasi di jalur energi strategis tersebut.
Ghalibaf menyebut pencabutan blokade angkatan laut AS, pencabutan sanksi minyak, serta pencairan aset Iran di luar negeri sebagai sejumlah tuntutan yang harus dipenuhi Washington.
Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup
Dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Selasa (18/8/2026), Ghalibaf mengatakan pembukaan Selat Hormuz bergantung pada pelaksanaan komitmen yang sebelumnya disepakati.
“Saya ingin menyatakan dengan jelas bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai komitmen Amerika yang tercantum dalam nota kesepahaman dilaksanakan,” kata Ghalibaf.
Tuntutan tersebut disebut berkaitan dengan kesepakatan gencatan senjata Iran-AS pada Juni 2026 yang kemudian gagal.
Ghalibaf juga memperingatkan bahwa Iran siap menghadapi kembali pihak yang dianggap sebagai musuh.
“Iran siap untuk memberikan kekalahan yang lebih telak kepada musuh, sebanding dengan tindakan dan kemajuan mereka,” ujarnya.
Selat Hormuz Jadi Titik Strategi
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia karena menjadi penghubung antara Teluk Persia dan Teluk Oman. Ketegangan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi keamanan pelayaran dan distribusi energi internasional.
Sejak perang pecah, Iran disebut mempertahankan kendali atas selat tersebut. Kapal yang melintas disebut harus meminta izin dan membayar biaya layanan transit, kebijakan yang ditentang Washington dan sejumlah negara regional.
Iran dan Oman, sebagai dua negara pesisir yang berada di kawasan Selat Hormuz, telah melakukan pembicaraan selama beberapa pekan mengenai masa depan navigasi melalui jalur tersebut.
Teheran mengatakan koordinat geografis rute yang sedang dipertimbangkan kedua negara telah disepakati. Pada Senin (17/8/2026), Iran menyatakan pembicaraan masih berlangsung secara serius, termasuk pertukaran pandangan mengenai teks pernyataan bersama.
Perang Iran-As Dan Upaya Diplomatik
Perang antara Iran dan Amerika Serikat disebut pecah pada 28 Februari 2026 setelah serangan AS-Israel terhadap Iran memicu konflik yang meluas di kawasan.
Upaya diplomatik yang dimulai sejak 8 April kemudian menghentikan pemboman intensif. Namun, bentrokan sporadis masih dilaporkan terjadi, terutama di sekitar Selat Hormuz.
Situasi tersebut membuat jalur pelayaran strategis itu tetap menjadi salah satu titik utama dalam ketegangan Iran dan AS.
Trump Ancam Oman Dan Serukan Iran Menyerah
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras terhadap Oman pada Senin (17/8/2026).
Trump mengancam akan melakukan pengeboman terhadap Oman apabila negara tersebut dianggap “menghalangi” kesepakatan dengan Iran terkait Selat Hormuz.
Trump juga menyerukan agar Iran menyerah di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya mereda.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan Selat Hormuz tidak hanya berkaitan dengan navigasi laut, tetapi telah menjadi bagian dari tarik-menarik kepentingan keamanan, energi, sanksi ekonomi, dan diplomasi antara Iran, AS, Oman, serta negara-negara lain di kawasan.
Perspektif UBN Newsroom
Selat Hormuz Dan Kepentingan Umat
Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran. Posisi geografisnya menjadikan kawasan tersebut memiliki arti strategis bagi perdagangan energi dan stabilitas ekonomi dunia.
Karena itu, setiap keputusan yang berkaitan dengan pembukaan, pembatasan, maupun pengamanan jalur tersebut dapat memberikan dampak luas terhadap negara-negara yang bergantung pada perdagangan energi melalui kawasan Teluk.
Di tengah ketegangan Iran dan AS, penyelesaian melalui diplomasi menjadi penting agar konflik tidak berkembang menjadi eskalasi yang semakin luas. Kepentingan keamanan nasional setiap negara tetap perlu diperhitungkan tanpa mengorbankan keselamatan masyarakat sipil dan stabilitas kawasan.
Islam mengajarkan agar penyelesaian perselisihan diarahkan pada keadilan dan perdamaian selama perdamaian tersebut tidak menghilangkan hak yang harus ditegakkan.
Allah SWT berfirman:
وَإِن جَنَحُوا۟ لِلسَّلْمِ فَٱجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Anfal: 61)
Dalam konteks Selat Hormuz, perdamaian dan stabilitas kawasan bukan hanya kepentingan Iran dan AS. Keamanan jalur perdagangan tersebut menyangkut kepentingan banyak negara dan masyarakat dunia.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom serta Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal
YouTube UBN Newsroom.

Comment