
JAKARTA, UBN NEWSROOM — Ahad, 21 Jumadilawal 1448 H / 1 November 2026 M.
Ketua Perkumpulan Alumni Jami’ah Islamiyah Madinah (PAJIM), KH Bachtiar Nasir atau Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), mengajak seluruh alumni Universitas Islam Madinah di Indonesia merobohkan sekat-sekat organisasi dan kelompok demi memperkuat persatuan umat. Seruan tersebut disampaikan dalam Silaturahmi Nasional PAJIM bertema “Muakhat Madinah” di Jakarta, Ahad (1/11/2026).
Forum tersebut mempertemukan sejumlah ulama, tokoh pendidikan, pimpinan lembaga dakwah, dan alumni Universitas Islam Madinah. Beberapa tokoh yang hadir di antaranya Wakil Ketua MPR M Hidayat Nur Wahid, Menteri Agama RI periode 2000 Said Aqil Husein al Munawar, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal, KH Nasir Zen, serta Menteri Koperasi Ferry Juliantono.
Alumni Madinah Harus Menjadi Teladan Persatuan
UBN menegaskan bahwa alumni Madinah memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi teladan dalam mengimplementasikan ukhuwah Islamiyah di Indonesia. Menurutnya, persatuan tidak cukup diwacanakan apabila sesama alumni dari satu perguruan tinggi saja belum mampu membangun kebersamaan.
“Enggak usah berpikir menyatukan teman-teman alumni Timur Tengah di Indonesia dengan semua latar belakangnya kalau enggak bisa mengumpulkan teman-teman alumni Madinah,” ujar UBN.
Ia mengingatkan bahwa pengalaman menuntut ilmu di Madinah, kota yang menjadi saksi sejarah persaudaraan kaum Muhajirin dan Ansar, seharusnya membentuk karakter alumni yang mampu merawat persatuan umat.
Menghilangkan Kedengkian dan Sekat Kelompok
Dalam sambutannya, UBN mengajak peserta merenungkan Surah Al-Hasyr ayat 10, khususnya doa agar Allah SWT mengampuni orang-orang beriman terdahulu dan membersihkan hati dari kedengkian terhadap sesama Muslim.
Ia menilai penyakit ghill atau kedengkian, kebencian, dan ganjalan hati dapat menjadi penghalang utama terwujudnya persaudaraan.
“Jadi ini waktunya alumni Madinah melepas ghill. Dan satu penyakit manusia yang susah dilepaskan dan itu tanpa kita sadari mungkin menimpa alumni Madinah juga,” ungkapnya.
UBN juga mengingatkan pentingnya membangun kepedulian melalui doa dan infak. Ia menyampaikan dua hal yang menurutnya perlu diperbaiki, yakni kurangnya kebiasaan saling mendoakan dan kurangnya kontribusi infak dalam kegiatan bersama.
Praktik Muakhah Secara Langsung
Ajakan persatuan tersebut diwujudkan melalui praktik muakhah atau persaudaraan secara langsung di hadapan peserta. UBN meminta sejumlah tokoh alumni dari latar belakang organisasi dan jaringan dakwah berbeda untuk maju, berdiri berdampingan, dan berjabat tangan.
Ia menekankan bahwa persaudaraan tidak seharusnya hanya dibangun dengan orang-orang yang sudah berada dalam kelompok yang sama. Justru, mempertemukan individu dari lingkungan berbeda menjadi langkah penting untuk menghilangkan jarak dan prasangka.
Praktik tersebut merujuk pada keteladanan Rasulullah SAW ketika mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar di Madinah. Menurut UBN, muakhah harus diwujudkan melalui hubungan nyata, bukan sekadar pernyataan tentang pentingnya persatuan.
Muakhah Harus Melahirkan Kekuatan Ekonomi
Selain persaudaraan sosial, UBN mendorong agar muakhah menghasilkan kolaborasi ekonomi yang memberikan manfaat bagi umat. Ia menghubungkan semangat persaudaraan masyarakat Madinah dengan keberadaan suq atau pasar sebagai ruang aktivitas ekonomi.
Dalam kesempatan tersebut, UBN menyampaikan rencana mempertemukan alumni yang mengelola ma’had, pesantren, sekolah, perguruan tinggi, dan koperasi dengan Menteri Koperasi Ferry Juliantono.
Pertemuan tersebut direncanakan berlangsung di kantor Kementerian Koperasi untuk membahas peluang pengembangan koperasi dan akses ekonomi bagi jaringan alumni.
UBN mengingatkan agar kerja sama tidak berhenti pada penandatanganan dokumen atau nota kesepahaman tanpa realisasi.
“Kalau enggak dikerjain, sama aja bohong, ya. Mendingan langsung eksekusi saja,” tegasnya.
Alumni Madinah Diharapkan Menjadi Lokomotif Dakwah

Menjelang akhir sambutannya, UBN kembali mengajak seluruh alumni melakukan introspeksi dan menyelesaikan berbagai persoalan pribadi maupun kelompok yang berpotensi menghambat persatuan.
Ia meyakini bahwa kekuatan dakwah tidak hanya ditentukan oleh kapasitas intelektual, besarnya lembaga, atau luasnya jaringan, tetapi juga oleh kemampuan membangun kerja sama dan mengesampingkan kepentingan kelompok.
“Saya yakin ke depan alumni Madinah akan menjadi lokomotif dakwah yang besar di Indonesia ini dimulai dari persatuannya,” pungkas UBN.

Comment