
JAKARTA, UBN NEWSROOM — Sabtu, 20 Jumadilawal 1448 H / 31 Oktober 2026 M.
Pendiri International Networking for Humanitarian (INH), Muhammad Husein Gaza, kembali mengkritik keterlibatan penyanyi tenor asal Italia, Andrea Bocelli, dalam acara penggalangan dana bagi Friends of the Israel Defense Forces (FIDF) di Los Angeles, Amerika Serikat, pada Desember 2010. Rekam jejak tersebut dipersoalkan di tengah penyelenggaraan konser Bocelli di Indonesia pada 31 Oktober dan 3 November 2026, ketika penderitaan rakyat Palestina masih menjadi perhatian masyarakat internasional.
Kritik itu disampaikan Husein dalam pertemuan bersama sejumlah tokoh dan aktivis kemanusiaan di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (31/10/2026). Ia mempertanyakan konsistensi pesan perdamaian yang dibawa dalam rangkaian konser Bocelli, sementara sang penyanyi pernah tampil dalam kegiatan penggalangan dana untuk organisasi pendukung militer Israel.
Penampilan Bocelli dalam Penggalangan Dana FIDF
Husein menyoroti penampilan Bocelli dalam acara Friends of the Israel Defense Forces (FIDF) di Los Angeles pada Desember 2010. Kegiatan tersebut tercatat menghimpun dana sekitar 8,75 juta dolar AS, sebagaimana diberitakan Jewish Journal pada 10 Desember 2010.
“Kalau lihat pada 2010, bagaimana dia mengumpulkan sembilan juta dolar AS,” kata Husein, merujuk pada kegiatan penggalangan dana tersebut.
Laporan Jewish Journal berjudul Haim Saban, Andrea Bocelli Add Up to $9 Million-Dollar-Night for FIDF mendokumentasikan acara yang berlangsung di Century City, Los Angeles. Kegiatan tersebut diselenggarakan dengan dukungan pengusaha dan tokoh media Haim Saban bersama istrinya, Cheryl Saban, serta dihadiri sekitar seribu tamu.
Dana yang terkumpul mencapai sekitar 8,75 juta dolar AS. Jika menggunakan kurs ilustratif Rp16.000 per dolar AS, jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp140 miliar. Angka rupiah itu merupakan ilustrasi berdasarkan kurs yang digunakan, bukan nilai konversi historis pada 2010.
Menurut laporan jurnalis Danielle Berrin, pengumpulan dana awalnya mencapai sekitar 2,5 juta dolar AS sebelum bertambah melalui komitmen sejumlah penyumbang besar. Haim Saban dan istrinya turut memberikan komitmen pendanaan, disusul sejumlah tokoh bisnis lainnya.
Andrea Bocelli tampil dalam bagian hiburan setelah diperkenalkan oleh produser musik David Foster. Ia membawakan sejumlah lagu sebagai bagian dari rangkaian acara tersebut.
Dokumentasi itu mengonfirmasi kehadiran dan penampilan Bocelli dalam kegiatan penggalangan dana FIDF. Namun, laporan tersebut tidak menyebut bahwa seluruh dana yang terkumpul berasal dari kontribusi pribadi Bocelli, tidak merinci honorariumnya, dan tidak membuktikan bahwa ia mengendalikan penggunaan dana tersebut.
FIDF merupakan organisasi berbasis di Amerika Serikat yang menghimpun dukungan bagi anggota militer Israel. Secara kelembagaan, FIDF berbeda dari Israel Defense Forces (IDF), meskipun kegiatan penggalangan dananya ditujukan untuk mendukung para prajurit Israel.
Husein Pertanyakan Konsistensi Pesan Kemanusiaan

Bagi Husein, keterlibatan Bocelli dalam acara tersebut tetap menjadi persoalan moral yang perlu dijelaskan secara terbuka. Ia menilai rekam jejak seorang figur internasional tidak dapat dipisahkan begitu saja dari kegiatan dan institusi yang pernah memperoleh dukungan melalui penampilannya.
Husein mempertanyakan alasan masyarakat Indonesia perlu menerima pesan perdamaian melalui konser tersebut apabila belum ada penjelasan langsung yang memadai dari Bocelli mengenai keterlibatannya dalam acara FIDF.
Ia juga mengingatkan bahwa persoalan ini bukan sekadar menyangkut selera musik, melainkan solidaritas terhadap masyarakat sipil Palestina yang terus menghadapi penderitaan akibat konflik.
Dalam pernyataannya, Husein turut menyinggung dugaan adanya pengaruh kepentingan politik melalui penyelenggaraan kegiatan hiburan internasional. Namun, tuduhan mengenai agenda politik tersembunyi dalam konser Bocelli di Indonesia belum didukung bukti independen yang dapat memastikan adanya operasi atau campur tangan organisasi politik tertentu.
“Kita harus terus berada di jalur ini, jalur mendukung Palestina,” ujarnya.
Husein menilai Indonesia memiliki banyak seniman yang dapat dilibatkan dalam kegiatan solidaritas kemanusiaan bagi masyarakat Gaza. Ia mendorong penyelenggaraan kegiatan seni yang secara terbuka ditujukan untuk menggalang dukungan bagi Palestina.
MUI Jadikan Rekam Jejak 2010 sebagai Dasar Penolakan
Keterlibatan Bocelli dalam kegiatan FIDF sebelumnya juga menjadi salah satu pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam menyampaikan penolakan terhadap konsernya di Indonesia.
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, menyebut partisipasi Bocelli dalam penggalangan dana FIDF sebagai persoalan yang perlu diperhatikan pemerintah. MUI turut menyoroti penampilan Bocelli di Tel Aviv, Israel, pada 2022, yang berlangsung di tengah seruan boikot dari sejumlah kelompok pro-Palestina.
MUI berpandangan bahwa Indonesia perlu menjaga konsistensi dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. Sikap tersebut dikaitkan dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan penentangan terhadap penjajahan.
Melalui pernyataan resminya pada Oktober 2026, MUI meminta pemerintah mempertimbangkan pembatalan pertunjukan Bocelli di kawasan Candi Borobudur, Magelang, pada 31 Oktober dan Jakarta pada 3 November 2026. MUI juga merujuk Fatwa Nomor 83 Tahun 2023 mengenai hukum dukungan terhadap perjuangan Palestina.
Kontroversi ini turut mendapat perhatian media internasional. Associated Press pada 15 Oktober 2026 melaporkan keberatan MUI terhadap dua konser Bocelli karena keterkaitannya pada masa lalu dengan kegiatan yang mendukung Israel.
Associated Press juga mencatat bahwa Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel dan selama ini mendukung pembentukan negara Palestina yang merdeka. Perdebatan konser tersebut kemudian mempertemukan kepentingan kebudayaan, pariwisata, dan solidaritas kemanusiaan.
Promotor Tetap Gelar Konser dan Usung Pesan Perdamaian
Di tengah penolakan tersebut, promotor Shoemaker Live tetap menyatakan konser Andrea Bocelli akan berlangsung sesuai jadwal. Dalam keterangan resmi tertanggal 27 Oktober 2026, penyelenggara memastikan pertunjukan di Borobudur pada 31 Oktober dan JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 3 November tetap dipersiapkan.
Pendiri Shoemaker Live, Prajna Murdaya, mengatakan pihaknya memahami keprihatinan masyarakat terhadap penderitaan korban konflik. Menurutnya, Bocelli memiliki komitmen terhadap nilai kemanusiaan dan ingin menyampaikan harapan perdamaian melalui musik.
Penyelenggara juga menjelaskan bahwa Andrea Bocelli Foundation, yang didirikan pada 2011, telah menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat. Program tersebut mencakup pendidikan, dukungan bagi anak-anak, serta kegiatan sosial untuk kelompok rentan di sejumlah negara.
Sebagai bagian dari rangkaian konser di Indonesia, Shoemaker Live mengumumkan inisiatif penggalangan dana dan rencana pemberian 100 ribu pasang sepatu kepada anak-anak di Tanah Suci serta negara-negara lain yang terdampak perang. Penyelenggara juga menyatakan Bocelli akan mendedikasikan sebuah lagu untuk kemanusiaan dan perdamaian dunia.
Prajna menegaskan kegiatan tersebut diharapkan memperkuat hubungan kemanusiaan melampaui perbedaan latar belakang maupun keyakinan. Promotor juga menilai konser internasional dapat meningkatkan pariwisata, ekonomi kreatif, serta membuka kesempatan kerja bagi pelaku seni dan usaha lokal.
Meski demikian, pernyataan promotor tersebut belum secara khusus memberikan penjelasan langsung dari Bocelli mengenai kritik atas keterlibatannya dalam acara FIDF pada 2010. Persoalan itulah yang terus dipertanyakan sejumlah aktivis kemanusiaan, termasuk Muhammad Husein Gaza.
Aktivis Dorong Konser Solidaritas Palestina
Dalam pertemuan di Jakarta, Husein juga menyinggung peluang menggelar kegiatan musik alternatif yang melibatkan seniman dengan komitmen terbuka terhadap perjuangan kemanusiaan Palestina. Ia menilai Indonesia memiliki sumber daya dan jaringan masyarakat yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan berskala besar untuk membantu warga Gaza.
Gagasan tersebut sejalan dengan rencana Ketua Umum Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID), KH Bachtiar Nasir atau UBN, yang mengusulkan konser solidaritas Palestina sebagai alternatif kegiatan kemanusiaan.
UBN juga menyerukan agar penyampaian aspirasi penolakan konser Bocelli dilakukan secara damai dan tidak berkembang menjadi tindakan anarkistis. Menurutnya, masyarakat perlu mempertahankan solidaritas terhadap rakyat Palestina melalui langkah yang terukur.
Ia menyatakan kesiapan bekerja sama dengan berbagai organisasi kemanusiaan untuk menggalang bantuan serta memperkuat kepedulian publik.
Husein menegaskan masyarakat harus tetap konsisten menyuarakan dukungan terhadap Palestina, termasuk ketika berhadapan dengan tokoh internasional yang memiliki rekam jejak kontroversial. Baginya, kegiatan seni dapat menjadi sarana solidaritas apabila pesan kemanusiaannya disampaikan secara jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kontroversi Andrea Bocelli dengan demikian tidak berhenti pada perdebatan mengenai penyelenggaraan konser di Indonesia. Penampilannya dalam penggalangan dana FIDF pada 2010 kembali dipersoalkan karena mempertemukan rekam jejak seorang seniman, dukungan terhadap organisasi yang membantu militer Israel, dan tuntutan agar pesan perdamaian disertai keberpihakan yang konsisten terhadap korban perang.

Comment