JAKARTA | UBN Newsroom — Ahad, 26 Safar 1448 H / 9 Agustus 2026 M
AQL Islamic Center menggelar pertemuan dan silaturahmi bertajuk “Kedaulatan Pangan untuk Ketangguhan Bangsa” di Aula Maqdisi AQL, Masjid Baitul Maqdis Indonesia, Tebet, Jakarta Selatan, Ahad (9/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan untuk membahas kepedulian, sinergi, serta peluang partisipasi dalam memperkuat kedaulatan pangan sebagai bagian dari upaya membangun bangsa yang mandiri, berdaya, dan bermartabat.
Program ini digelar dalam momentum peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. AQL mengajak berbagai pihak untuk membangun kolaborasi dan menghadirkan langkah nyata yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kedaulatan pangan menjadi salah satu aspek strategis dalam membangun ketahanan dan ketangguhan bangsa. Ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar dapat menjadi persoalan serius ketika terjadi gangguan ekonomi, sosial, maupun geopolitik.
Karena itu, penguatan sektor pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan makanan, tetapi juga menyangkut kemampuan masyarakat dan bangsa untuk mengelola sumber daya secara mandiri, berkelanjutan, dan berkeadilan.
Melalui pertemuan tersebut, AQL membuka ruang sinergi dan kolaborasi untuk memperluas kontribusi dalam menghadirkan program yang mendukung ketahanan pangan masyarakat.
Penguatan kedaulatan pangan membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Kolaborasi antara lembaga, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat dapat menjadi kekuatan untuk membangun ekosistem pangan yang lebih tangguh.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan program “Kedaulatan Pangan untuk Ketangguhan Bangsa”, yakni mendorong langkah bersama untuk menghadirkan Indonesia yang mandiri, berdaya, dan bermartabat.
Kegiatan ini juga menjadi momentum silaturahmi untuk mempertemukan gagasan dan membuka peluang kerja sama dalam menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, KH Bachtiar Nasir menyoroti pentingnya kesiapan Indonesia menghadapi perubahan geopolitik global. Menurutnya, konflik modern tidak hanya berlangsung melalui perang militer, tetapi juga melalui perang hibrida yang menyasar sektor pangan, energi, ekonomi, informasi, hingga sumber daya strategis.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia perlu memperkuat kemandirian dan ketahanan nasional agar tidak mudah terdampak oleh gejolak global.
“Perang hibrida ini samar. Perang melumpuhkan pangan sedang berlangsung, perang melumpuhkan energi sedang berlangsung, perang memblokade dan melemahkan sumber-sumber persenjataan dan bahan-bahan baku juga sedang berlangsung,” ujar KH Bachtiar Nasir.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kedaulatan pangan bukan sekadar persoalan memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, tetapi juga bagian dari kesiapan bangsa dalam menghadapi perubahan tatanan global.
KH Bachtiar Nasir juga mengingatkan kembali kontribusi umat Islam dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, kekuatan zakat, infak, sedekah, dan wakaf menjadi bagian dari kekuatan sosial umat dalam mendukung perjuangan bangsa.
Karena itu, semangat kemandirian dan gotong royong tersebut dinilai relevan untuk dihidupkan kembali dalam konteks pembangunan Indonesia saat ini, termasuk melalui penguatan ketahanan pangan dan ekonomi umat.
Perspektif UBN Newsroom
Kedaulatan pangan merupakan bagian penting dari ketahanan sebuah bangsa. Bangsa yang mampu memastikan kebutuhan pangan masyarakatnya memiliki fondasi yang lebih kuat dalam menghadapi tekanan ekonomi maupun perubahan geopolitik global.
Dalam perspektif peradaban Islam, pangan bukan semata persoalan ekonomi, tetapi bagian dari kemaslahatan publik. Ketersediaan pangan yang cukup, aman, dan terjangkau berkaitan langsung dengan keberlangsungan kehidupan masyarakat.
Karena itu, penguatan kedaulatan pangan perlu diarahkan pada pembangunan ekosistem yang produktif dan berkelanjutan, bukan sekadar respons terhadap krisis ketika terjadi.
Ketahanan pangan juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi membangun kemandirian bangsa. Ketika produksi, distribusi, dan konsumsi pangan dapat dikelola secara kuat dan berkelanjutan, masyarakat memiliki fondasi yang lebih baik dalam menghadapi tekanan eksternal.
Kolaborasi berbagai elemen masyarakat menjadi penting agar ketahanan pangan tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi berkembang menjadi gerakan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Perspektif Syariah Compliance
Islam menempatkan pemenuhan kebutuhan dasar manusia sebagai bagian dari kemaslahatan yang harus dijaga. Pangan yang halal dan baik merupakan kebutuhan mendasar sekaligus bagian dari amanah dalam mengelola kehidupan.
Allah SWT berfirman:
“Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu.”
(QS. Al-Baqarah: 172)
Ayat tersebut menegaskan pentingnya memperhatikan kualitas dan kebaikan rezeki yang dikonsumsi manusia.
Dalam konteks kedaulatan pangan, prinsip halal, thayyib, amanah, keadilan, keberlanjutan, dan kemaslahatan menjadi nilai yang perlu diperhatikan dalam seluruh rantai pangan, mulai dari produksi, distribusi hingga konsumsi.
Upaya memperkuat ketahanan pangan juga dapat menjadi bentuk ikhtiar menjaga kemaslahatan masyarakat sekaligus mensyukuri sumber daya yang Allah SWT anugerahkan.
Pertemuan yang berlangsung di Aula Maqdisi AQL tersebut menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat sinergi dalam mewujudkan kedaulatan pangan.
Semangat yang dibangun bukan hanya menghadirkan Indonesia yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, tetapi juga Indonesia yang mandiri, berdaya, berkeadilan, dan bermartabat.
Kedaulatan pangan pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang tersedia di meja makan, tetapi tentang seberapa kuat sebuah bangsa menjaga kehidupan, kesejahteraan, dan masa depan masyarakatnya.
Dukungan Operasional
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment