JAKARTA, UBN NEWSROOM — Sinyal de-eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin menguat. Pada Sabtu, 13 Juni 2026, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan antara Washington dan Teheran akan ditandatangani pada hari Minggu. Trump juga menegaskan bahwa Selat Hormuz akan langsung “terbuka untuk semua pihak” segera setelah proses penandatanganan selesai.
Pernyataan ini menjadi indikator paling kuat sejauh ini bahwa ketegangan yang mengguncang pasar energi global sejak akhir Februari lalu mulai bergerak menuju penyelesaian diplomatik. Optimisme tersebut diperkuat oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang menyatakan bahwa finalisasi kesepakatan diharapkan terjadi dalam 24 jam, diikuti dengan penandatanganan elektronik terhadap kesepakatan damai tersebut.
Diplomasi yang Masih Berjalan
Meskipun nada optimisme menguat dari pihak AS dan Pakistan, proses ini tampaknya masih membutuhkan waktu. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, sebelumnya menyatakan bahwa dokumen tersebut kemungkinan besar tidak akan ditandatangani pada hari Minggu, melainkan dalam “beberapa hari mendatang”.
Situasi saat ini dapat dirangkum dalam satu kalimat: Kesepakatan damai AS-Iran tampaknya sudah sangat dekat, tetapi belum sepenuhnya final.
Kendati demikian, pernyataan dari Trump, Shehbaz Sharif, dan Kementerian Luar Negeri Iran menunjukkan bahwa ketiga jalur komunikasi utama bergerak ke arah yang selaras: perang harus diredakan, jalur diplomasi harus dituntaskan, dan Selat Hormuz harus kembali aman bagi lalu lintas energi dunia.

Comment