EKSPEDISI MANDIRI TANPA BATAS NEGARA
Memulai perjalanan dari Beijing, Tiongkok pada November 2025, Arezoo bergerak ke arah selatan membelah enam negara dengan membawa beban logistik seberat 60 kilogram di atas sepedanya. Di bagian belakang sepedanya, tampak kibaran bendera-bendera kecil negara yang ia lintasi sebagai penanda visual rute diplomasinya.
Strategi Bertahan Hidup Beranggaran Ketat
Investigasi latar belakang menunjukkan bahwa misi ini murni bersifat mandiri (self-funded). Demi mendanai perjalanannya, Arezoo mengambil keputusan radikal:
- Mengundurkan diri dari pekerjaannya di Iran.
- Menjual mobil pribadi miliknya untuk modal logistik.
- Menerapkan kedisiplinan tinggi dengan tidur di dalam tenda portabel.
- Memasak makanannya sendiri di pinggir jalan guna menghemat biaya.
Guncangan Mental di Tengah Jalur Konflik
Namun, tantangan fisik seperti ban kempes atau kesulitan mencari tempat menginap di area terpencil tidak sebanding dengan guncangan mental yang ia hadapi di awal tahun 2026.
Saat berada di tengah rute Asia Tenggara, eskalasi militer di Timur Tengah pecah. Wilayah kedaulatan Iran, termasuk wilayah sekitar kota asalnya di Isfahan, dihantam serangan udara rudal oleh militer Amerika Serikat dan Israel. Infrastruktur yang rusak sempat membuat Arezoo kehilangan kontak total dengan ibunya. Di tengah kecemasan mendalam dan dorongan kuat untuk pulang, Arezoo memilih bertahan di atas sepedanya demi merampungkan misi perdamaian ini.

Comment