BERKELEY, CALIFORNIA — Di sebuah kawasan perbukitan yang dikenal sebagai “Holy Hill” di Berkeley, California, berdiri sebuah institusi pendidikan yang sekilas melebur dengan arsitektur klasik universitas-universitas elit Amerika Serikat. Namun, di balik dinding-dinding batu dan perpustakaannya, perguruan tinggi ini memikul misi yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah modern Barat: mengawinkan filsafat Yunani, sastra Inggris, dan teks-teks hukum Islam abad pertengahan dalam satu ruang kelas yang sama.
Institusi itu adalah Zaytuna College. Menjadi perguruan tinggi seni liberal (liberal arts) Islam terakreditasi pertama di Amerika Serikat, Zaytuna kini berada di episentrum diskusi global mengenai bagaimana Islam seharusnya bermanifestasi dan diajarkan di dunia Barat.
Jembatan Dua Tradisi: Plato Bertemu Al-Ghazali
Didirikan pada tahun 2009 oleh tiga figur sentral Muslim Amerika—Shaykh Hamza Yusuf, Imam Zaid Shakir, dan Dr. Hatem Bazian—Zaytuna lahir dari sebuah keresahan. Selama beberapa generasi, komunitas Muslim di Barat kerap dihadapkan pada dua pilihan ekstrem: mengisolasi diri dalam dogma tradisional yang kaku, atau melebur sepenuhnya hingga kehilangan identitas religius dalam sekularisme Barat.
Zaytuna memilih jalan ketiga. Kampus ini mewajibkan mahasiswanya membedah karya-karya pemikir besar Barat seperti Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas, sembari di saat yang sama mendalami kitab-kitab teologi Asy’ariyah, hukum fikih empat madzhab, dan filsafat spiritualitas Islam (Tasawuf) karya Imam al-Ghazali. Penguasaan bahasa Arab klasik setingkat fasih menjadi syarat mutlak kelulusan.
Dalam salah satu esai akademiknya yang sering dikutip, Shaykh Hamza Yusuf selaku Presiden Zaytuna College menegaskan esensi dari metode ini.
“Tujuannya bukan untuk mencetak ulama yang terputus dari dunia modern, melainkan melahirkan intelektual Muslim yang mampu berpikir kritis, memahami budaya Barat tempat mereka tinggal, sekaligus memegang teguh ortodoksi Islam tanpa kompromi,” tulis Yusuf.
Keberhasilan Zaytuna menembus akreditasi resmi dari Western Association of Schools and Colleges (WASC) pada tahun 2015—badan yang sama yang menaungi Stanford University—menjadi stempel validasi akademik yang krusial. Dr. Mahan Mirza, seorang akademisi studi Islam yang kini mengajar di University of Notre Dame dan sempat menjabat sebagai Dekan Fakultas di Zaytuna, menyebut momen akreditasi tersebut sebagai “tonggak sejarah yang membuktikan bahwa kurikulum Islam klasik dapat sejajar dengan standar akademik tertinggi nasional Amerika.”
Pendanaan Mandiri dan Komitmen Anti-Riba
Investigasi terhadap aspek operasional Zaytuna menunjukkan model tata kelola finansial yang unik. Menolak sistem pinjaman mahasiswa berbasis bunga (student loans) yang menjadi momok finansial di AS, Zaytuna berkomitmen agar mahasiswanya lulus tanpa utang.
Berdasarkan penelusuran dokumen kepatuhan pajak (IRS Form 990), mayoritas pendanaan institusi non-profit ini bersumber dari donasi publik dan pengumpulan dana zakat dari komunitas Muslim Amerika yang mencapai belasan juta dolar setiap tahunnya. Dalam rilis transparansi publik keuangannya, pihak manajemen Zaytuna College Financial Aid Office menekankan bahwa skema ini diambil demi menjaga independensi lembaga sekaligus komitmen moral terhadap pelarangan riba dalam hukum Islam.
Di Pusaran Kritik: Dari Islamofobia hingga Geopolitik
Namun, posisi pionir ini tidak membuat Zaytuna sepi dari kontroversi. Berada di jantung California yang progresif namun membawa nilai-nilai Islam tradisional yang ketat—termasuk batas-batas interaksi sosial gender di lingkungan kampus—membuat Zaytuna kerap dipandang secara skeptis dari berbagai sudut.
Dari luar komunitas, kelompok sayap kanan Amerika dan faksi pro-Israel berkali-kali menyoroti rekam jejak para pendirinya. Nama Dr. Hatem Bazian, yang juga dikenal sebagai aktivis pro-Palestina yang vokal di UC Berkeley, kerap dijadikan sasaran kritik oleh media-media konservatif. Analis politik dari Center for Security Policy, Jerome Corsi, dalam beberapa ulasannya menuduh kampus ini membawa agenda politik terselubung—sebuah tuduhan yang berulang kali dibantah keras oleh juru bicara Zaytuna yang menegaskan fokus mereka murni pada pendidikan akademik universal.
Sementara dari dalam tubuh umat Muslim sendiri, Zaytuna menghadapi riak kritik yang berbeda. Pendekatan “Neo-Tradisionalisme” Hamza Yusuf yang menekankan perbaikan karakter individu di atas gerakan politik revolusioner kerap memicu ketegangan dengan kelompok Muslim progresif.
Cendekiawan Muslim Amerika keturunan Afrika, Dr. Jonathan Brown dari Georgetown University, dalam beberapa amatan sosiologisnya mencatat bahwa dinamika ini adalah hal yang wajar. Hubungan Hamza Yusuf dengan lembaga perdamaian yang didukung Uni Emirat Arab (UEA) pun sempat dikritik oleh aktivis Muslim independen karena dinilai bersinggungan dengan wilayah geopolitik sensitif di Timur Tengah.
Perspektif UBN Newsroom: “Garis Tipis Antara Preservasi Nilai dan Kompromi Geopolitik”
Catatan Redaksi (UBN Newsroom):
Eksperimen Zaytuna College sejatinya melampaui sekat-sekat ruang kelas di Berkeley; ini adalah pertarungan identitas yang krusial bagi masa depan diaspora Islam global. Keberhasilan mereka memperoleh akreditasi sekuler AS membuktikan bahwa epistemologi Islam klasik memiliki kelenturan yang luar biasa untuk bersanding dengan tradisi intelektual Barat.
Namun, UBN Newsroom memandang ada harga mahal yang harus dibayar dari strategi “Neo-Tradisionalisme” ini. Demi menjaga stabilitas institusional di bawah payung hukum Amerika yang sering kali mencurigai aktivitas Muslim pasca-9/11, Zaytuna cenderung mengambil jalan aman secara politik. Penekanan berlebih pada aspek esoteris (tasawuf/pembersihan jiwa) dan kepatuhan teks klasik, di satu sisi berhasil menjauhkan para mahasiswa dari radikalisme jalanan. Namun di sisi lain, pendekatan ini berisiko mengebiri daya kritis umat terhadap ketidakadilan sistemik global—seperti isu rasisme domestik dan penindasan geopolitik di Timur Tengah.
Keterlibatan tokoh kuncinya dalam forum-forum perdamaian bentukan monarki Teluk (seperti UEA) juga memicu dilema moral: apakah ini bentuk diplomasi demi keselamatan dakwah, atau sebuah legitimasi tidak langsung terhadap rezim otoriter? Bagi UBN Newsroom, Zaytuna harus membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pabrik intelektual yang memproduksi Muslim “ramah Barat”, melainkan rahim yang melahirkan pemikir berintegritas yang berani bersuara di hadapan penguasa maupun realita zaman.
Masa Depan Intelektual Muslim Barat
Terlepas dari dinamika politik yang mengelilinginya, Zaytuna College telah membuktikan satu hal: Islam dan tradisi intelektbal Barat tidak selamanya harus berada dalam posisi benturan peradaban (clash of civilizations).
Sebasaimana dicatat oleh pengamat sosiologi agama terkemuka, Professor John L. Esposito, kehadiran institusi seperti Zaytuna menunjukkan proses pribumisasi Islam (indigenization of Islam) yang matang di Amerika Serikat.
Dengan meluluskan angkatan demi angkatan yang kini mulai mengisi posisi-posisi strategis di bidang hukum, akademik, dan kebijakan publik di Amerika, “eksperimen Berkeley” ini sedang menulis babak baru dalam sejarah diaspora Muslim dunia. Zaytuna bukan lagi sekadar institusi pendidikan, melainkan sebuah pernyataan sikap bahwa menjadi Muslim yang taat dan menjadi warga negara Barat yang kontributif adalah dua hal yang bisa berjalan beriringan. (UBN/Newsroom)

Comment