Edisi Rabu, 29 April 2026 | 12 Dzulqa’dah 1447 H
JAKARTA — Kenaikan harga BBM non-subsidi di Indonesia bukan lagi hal baru. Namun dalam beberapa pekan terakhir, dampaknya terasa semakin nyata. Di saat kondisi ekonomi masyarakat tidak mengalami lonjakan yang sebanding, harga bahan bakar justru melonjak tajam dan bertahan di level tinggi tanpa kepastian kapan akan turun.
Pertamina masih mempertahankan harga sejumlah produk utama. Pertalite tetap Rp10.000 per liter, Solar Subsidi Rp6.800 per liter, dan Pertamax Rp12.300 per liter. Namun, produk non-subsidi tertentu mengalami lonjakan signifikan: Pertamax Turbo berada di Rp19.400 per liter dari sebelumnya Rp13.100, Dexlite naik ke Rp23.600 dari Rp14.200, dan Pertamina Dex menjadi Rp23.900 dari sebelumnya Rp14.500.
Kondisi ini tidak berdiri sendiri. Opsi lain di luar Pertamina juga tidak banyak memberi alternatif yang lebih ringan. BP-AKR menaikkan harga BP Ultimate Diesel menjadi Rp25.560 per liter dari Rp14.620. Sementara itu, Shell hingga saat ini dilaporkan belum memiliki stok BBM, dan Vivo di beberapa lokasi mengalami keterbatasan pasokan meski belum melakukan penyesuaian harga besar-besaran.
Artinya, masyarakat tidak hanya dihadapkan pada harga yang tinggi, tetapi juga pilihan yang terbatas. Dalam kondisi seperti ini, tekanan terhadap pengeluaran harian menjadi semakin berat, terutama bagi kelompok yang sangat bergantung pada mobilitas dan distribusi barang.

Comment