SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekonomi
Home » Mengapa Rupiah Melemah? 

Mengapa Rupiah Melemah? 

Rupiah kembali menjadi sorotan publik setelah mengalami tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat. Dalam perdagangan di pasar uang tanggal 4 Juni 2026, nilai rupiah terus melemah hingga menyentuh angka Rp18.000 per USD, bahkan pada penutupan perdagangan kurs rupiah ditutup di angka Rp18.020/USD.

Pelemahan rupiah ini terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan hubungan antarnegara tetangga. Sebagai gambaran, bagi orang Singapura yang berkunjung ke Batam, nilai tukar rupiah kini sudah menembus lebih dari Rp14.000 per dolar Singapura. Dengan membawa selembar uang 10.000 Dolar Singapura ke Batam, seseorang sudah bisa menjadi seperti “raja minyak semalam.” Di sisi lain, warga Malaysia sekarang juga mulai banyak berbelanja ke Jakarta karena rupiah yang terus tertekan, sementara ringgit Malaysia justru tampil perkasa.

Faktor Eksternal Penekan Rupiah

Menurut penjelasan Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia, pelemahan rupiah saat ini terutama dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang sedang menggoncang ekonomi global. Pemerintah menyebutkan dua faktor terbesar:

  1. Ketegangan Geopolitik Timur Tengah Konflik yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah menyebabkan meningkatnya ketidakpastian global. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak, biaya logistik meningkat, dan kekhawatiran terhadap inflasi global semakin besar. Di samping itu, situasi ini juga diwarnai dengan mulai bergentayangannya broker-broker crude oil, bahkan ada yang menjual minyak Irak dan mengaku berasal dari SOMO (State Organization for Marketing of Oil – Perusahaan milik negara Irak).
  2. Kebijakan Suku Bunga Amerika Serikat Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), masih mempertahankan suku bunga pada level tinggi agar orang-orang membeli atau menahan dolar mereka. Kondisi ini memicu capital outflow, di mana banyak investor global menarik dana mereka dari negara berkembang dan memindahkannya ke aset berbasis dolar Amerika Serikat yang dianggap lebih aman. Fenomena inilah yang menjadi salah satu penyebab utama melemahnya berbagai mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Suasana Frustrasi di Media Sosial dan Kritik terhadap Pemerintah

Berdasarkan pantauan Tim UBN Newsroom di platform X (dahulu Twitter), mayoritas percakapan netizen menunjukkan suasana yang dipenuhi kekhawatiran, frustrasi, dan pesimisme. Warga X banyak menyuarakan keluhan seperti, “Yang susah tetap rakyat kecil.” Mereka menilai bahwa jika dolar naik, dampak pertama akan langsung memukul dapur rumah tangga, dan realitas pasar tidak bisa dibohongi oleh pidato pejabat negara.

Beberapa kekhawatiran utama yang muncul di masyarakat meliputi:

Israel Hadapi Tekanan Baru, 12 Negara Siapkan Pembatasan Perdagangan Produk Permukiman

  • Potensi kenaikan harga sembako (seperti beras yang mulai naik, meskipun ada juga komoditas lain seperti singkong).
  • Harga BBM yang semakin mahal (walaupun kemarin dikabarkan Pertamina Dex turun Rp4.000).
  • Barang impor yang semakin sulit dijangkau.
  • Kekhawatiran inflasi yang semakin tinggi serta melemahnya daya beli masyarakat.
  • Potensi PHK jika ekonomi terus melambat (berkaca pada situasi di Jerman yang sudah banyak terjadi PHK pada perusahaan mobil mewah produk Jerman karena kalah bersaing setelah mobill BYD dari China masuk).

Perdebatan semakin ramai setelah pejabat ekonomi pemerintah menyampaikan bahwa pelemahan rupiah saat ini masih berada dalam rentang simulasi yang telah diperhitungkan dan APBN tetap dalam kondisi aman. Pernyataan tersebut justru memicu gelombang kritik baru dari netizen yang menilai bahwa meskipun APBN atau simulasi pemerintah aman, dompet rakyat belum tentu aman. Sebagian netizen menilai pemerintah terlalu fokus pada indikator makro ekonomi, sementara masyarakat lebih merasakan dampak langsung berupa kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

Bahkan, muncul candaan di kalangan anak-anak SMA saat kelulusan mengenai cita-cita menjadi “CEO MBG” (Makan Bergizi Gratis), yang menyentil realitas bahwa masyarakatlah yang pada akhirnya tetap membayar mahal.

Mengapa Ringgit Malaysia Justru Perkasa?

Menariknya, ketika mayoritas mata uang negara berkembang di Asia rontok akibat keperkasaan dolar AS, ringgit Malaysia justru bergerak berlawanan. Ringgit mencatatkan rally penguatan yang signifikan hingga menembus ke bawah level psikologis RM 4 per US dolar, menjadikannya salah satu mata uang dengan performa terbaik dan paling tangguh di Asia saat ini.

Hal ini memunculkan pertanyaan: mengapa dua negara ASEAN yang sama-sama kaya sumber daya alam dapat menunjukkan performa mata uang yang sangat berbeda dalam situasi global yang sama? Menurut analis, terdapat dua faktor utama yang menopang kekuatan ringgit:

  1. Booming Investasi Teknologi dan AI Malaysia saat ini sedang menikmati gelombang investasi besar-besaran pada sektor data center dan kecerdasan buatan (AI). Perusahaan-perusahaan teknologi dunia seperti Microsoft, Google, Nvidia, dan korporasi global lainnya terus meningkatkan investasi mereka di sana. Masuknya investasi asing dalam jumlah besar ini menciptakan permintaan tinggi terhadap ringgit sehingga memperkuat nilai tukarnya. Kemajuan ini sekaligus mendongkrak posisi politik PM Malaysia Anwar Ibrahim yang sempat digoyang kelompok oposisi beberapa bulan lalu.
  2. Status sebagai Eksportir Energi Malaysia masih memperoleh manfaat besar sebagai eksportir minyak dan gas alam. Ketika konflik global mendorong harga energi naik, Malaysia mendapatkan tambahan devisa. Sebaliknya, Indonesia sudah lama menjadi pengimpor bersih (net importer) minyak mentah. Akibatnya, saat harga minyak dunia naik, kebutuhan Indonesia terhadap dolar AS justru meningkat untuk melakukan impor. Keadaan ini memberikan tekanan tambahan terhadap pelemahan rupiah.

Perspektif UBNNewsroom: Menyikapi kondisi politik dan ekonomi ini, respons yang tersisa adalah imbauan untuk memaafkan dan melakukan islah. Sebab, jika hanya dipenuhi amarah secara terus-menerus, dinamika politik akan tetap berjalan jika Prabowo jatuh, maka Gibran yang akan naik.

Akibat Kemarau Panjang Sungai Kapuas Surut. Aktivitas Kapal Tongkang Batubara Terganggu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement