Olahraga
Home » Lebih Pilih Salat Jumat ketimbang Trofi, Pelatih Senegal Pape Thiaw Viral di Piala Dunia 2026

Lebih Pilih Salat Jumat ketimbang Trofi, Pelatih Senegal Pape Thiaw Viral di Piala Dunia 2026

NEW JERSEY – Pelatih kepala Tim Nasional Senegal, Pape Thiaw, menjadi pusat perhatian dunia setelah menegaskan prinsip keimanan di atas sepak bola selama gelaran Piala Dunia 2026. Di tengah peringatan siaga badai yang melanda wilayah New Jersey, Amerika Serikat, Thiaw menolak imbauan keamanan demi memimpin skuadnya yang beragama Islam—termasuk bintang dunia Sadio Mane—untuk tetap menunaikan ibadah salat Jumat di masjid terdekat. Pernyataannya dalam konferensi pers yang menyatakan rela kehilangan gelar juara dunia demi ibadah langsung viral dan menuai pujian luas dari publik internasional.

Kronologi dan Pernyataan Menohok di Ruang Konferensi Pers

Peristiwa ini bermula ketika wilayah Tri-State (New York, New Jersey, dan Connecticut) diterjang cuaca ekstrem berupa angin kencang dan badai hebat. Demi keselamatan, pihak FIFA dan petugas keamanan setempat mengeluarkan instruksi resmi agar seluruh delegasi tim tetap mengisolasi diri di dalam hotel.

Di sinilah keteguhan itu diuji. Alih-alih memilih jalan aman yang difasilitasi protokol, Thiaw justru memilih jalan yang diyakininya benar. Begitu waktu salat Jumat tiba, ia memutuskan untuk tetap membawa para pemain muslimnya keluar menuju Islamic Center di New Jersey.

Keputusan berisiko ini memicu pertanyaan kritis dari seorang jurnalis lokal saat sesi konferensi pers, yang kemudian dibalas oleh Thiaw dengan jawaban menohok yang membungkam seisi ruangan:

“Kalian takut pada angin, sementara kami takut kepada Allah—Zat yang menciptakan angin tersebut! Kita datang ke sini untuk sebuah pertandingan hiburan, lantas apakah kita harus lupa bahwa kita diciptakan untuk menyembah Allah? Jangan ajari kami tentang kewajiban agama kami.”

Thiaw juga menegaskan bahwa komitmen ini mutlak dan tidak bisa ditawar oleh kompetisi profesional apa pun. “Bahkan jika final Piala Dunia dimainkan pada hari Jumat, kami tetap akan keluar untuk salat Jumat meskipun harus kehilangan gelar juara. Bagi kami, sepak bola adalah pertandingan, tetapi ibadah adalah tujuan hidup,” tambahnya.

Indonesia Kembali Gagal di Piala AFF 2026

Perspektif UBN Newsroom: Ketika Industri Tunduk pada Keimanan

Di balik riuh rendahnya ruang konferensi pers, ada esensi yang jauh lebih besar yang sedang dipertontonkan kepada dunia.

UBN Newsroom melihat fenomena ini bukan sekadar tentang aksi nekat menerobos badai demi ritual keagamaan, melainkan sebuah kritik terbuka terhadap industri olahraga modern. Di era di mana sepak bola telah menjelma menjadi bisnis bernilai miliaran dolar dengan jadwal yang mendikte segalanya, sikap Pape Thiaw adalah anomali yang menyegarkan.

Ia dengan berani menarik garis pembatas yang tegas: bahwa ada hal-hari sakral yang tidak boleh diuangkan atau dikompromikan oleh target korporasi maupun trofi. Langkah Thiaw ini menjadi pengingat penting bagi ekosistem olahraga global bahwa aspek humanis dan spiritual seorang atlet tetap memiliki ruang tertinggi, bahkan di panggung sebesar Piala Dunia.

Profil Singkat Pape Thiaw dan Kiprah Senegal

Menariknya, karakter keras kepala dalam mempertahankan prinsip ini bukanlah hal baru bagi seorang Pape Thiaw.

Persebaya Juara Piala Presiden 2026 Usai Taklukkan Persib Lewat Adu Penalti

Bagi publik Senegal, pria berusia 45 tahun ini adalah pahlawan dari “Generasi Emas 2002” yang membawa negara itu mencetak sejarah menembus perempat final Piala Dunia 2002 saat masih aktif sebagai penyerang. Setelah sukses melatih tim nasional lokal (CHAN), ia ditunjuk memimpin timnas senior pada akhir 2024 menggantikan Aliou Cissé dan berhasil meloloskan The Lions of Teranga ke putaran final Piala Dunia 2026.

Penutup: Warisan yang Lebih Besar dari Trofi

Meskipun perjalanan taktis Senegal di turnamen ini akhirnya harus terhenti secara dramatis di babak 32 besar setelah kalah 2-3 dari Belgia lewat penalti kontroversial, sepak terjang mereka di Amerika Serikat tidak akan dilupakan.

Piala Dunia selalu melahirkan juara baru di setiap edisinya, namun kisah tentang seorang pelatih yang berani menantang badai dan otoritas demi sebuah sujud akan terus membekas. Pape Thiaw dan skuad Senegal mungkin pulang tanpa trofi emas, tetapi mereka pulang dengan membawa pulang respek dan kehormatan yang jauh lebih abadi di hati jutaan pencinta sepak bola dunia.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *