Olahraga
Home » FIFA SISAKAN RUANG UNTUK PEMAIN MUSLIM DI BALIK SPONSOR ALKOHOL SENILAI 110 JUTA DOLAR

FIFA SISAKAN RUANG UNTUK PEMAIN MUSLIM DI BALIK SPONSOR ALKOHOL SENILAI 110 JUTA DOLAR

JAKARTA, UBN NEWSROOM — FIFA memberikan pengaturan khusus bagi pemain Muslim yang terpilih sebagai MVP atau Player of the Match di Piala Dunia 2026 dengan menyediakan backdrop foto tanpa logo sponsor alkohol, sehingga para pemain tidak harus ikut mempromosikan brand alkohol dalam sesi penghargaan pascalaga.

Berdasarkan media monitoring Tim UBN Newsroom, hingga sejauh ini setidaknya ada sembilan pemain Muslim yang terkonfirmasi menjadi MVP pertandingan dan berfoto menggunakan backdrop tanpa logo Michelob Ultra, salah satu sponsor utama Piala Dunia 2026.

Sembilan pemain tersebut adalah:

  • Ismaël Koné — Kanada;
  • Mahmoud Abu Nada — Qatar;
  • Yan Diomande — Pantai Gading;
  • Ramin Rezaeian — Iran;
  • Emam Ashour — Mesir;
  • Ali Olwan — Yordania;
  • Ismael Saibari — Maroko;
  • Johan Manzambi — Swiss;
  • Mohamed Salah — Mesir.

Kebijakan ini menjadi detail kecil yang tidak banyak diperhatikan publik, tetapi memiliki makna penting bagi pemain Muslim. Di tengah besarnya nilai komersial sponsor alkohol dalam Piala Dunia, FIFA tetap menyediakan ruang agar pemain Muslim dapat menjaga keyakinan agamanya tanpa harus kehilangan haknya sebagai pemain terbaik pertandingan.

Berawal dari Sikap Mohamed El Shenawy

Pengaturan seperti ini tidak muncul tiba-tiba. Salah satu titik pentingnya terjadi pada Piala Dunia 2018 di Rusia, ketika penjaga gawang Mesir, Mohamed El Shenawy, menolak menerima penghargaan Man of the Match yang saat itu disponsori oleh brand bir Budweiser.

Indonesia Kembali Gagal di Piala AFF 2026

El Shenawy menolak karena keyakinannya sebagai seorang Muslim. Sikap itu kemudian menjadi perhatian besar karena memperlihatkan benturan antara kepentingan sponsor dan hak pemain Muslim untuk tidak dikaitkan dengan promosi alkohol. Dalam konteks itu, FIFA kemudian membuka ruang pengaturan alternatif bagi pemain yang memiliki keberatan atas dasar agama.

Salah satu prinsip yang pernah disebut dalam aturan FIFA adalah adanya pengaturan alternatif yang sesuai secara budaya bagi pemain dengan keberatan tulus berdasarkan alasan agama. Sejak saat itu, isu sponsor alkohol dalam penghargaan pemain terbaik pertandingan menjadi perhatian lebih serius.

Implementasi Sempat Belum Rapi

Meski ruang keberatan agama telah diakui, implementasinya tidak langsung berjalan sempurna. Pada Piala Dunia 2022, sejumlah pemain masih terlihat harus mengambil inisiatif sendiri untuk menyembunyikan logo sponsor alkohol.

Kylian Mbappé dan Yassine Bounou, misalnya, sempat menutupi atau membalik trofi penghargaan agar logo Budweiser tidak terlihat saat sesi foto. Dalam kasus Mbappé, sikap itu juga dibaca sebagai upaya memberi contoh baik agar tidak ikut mempromosikan alkohol kepada publik, terutama kepada anak-anak dan penggemar muda.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa secara prinsip, ruang keberatan agama sudah mulai diakui. Namun secara teknis, panitia belum selalu siap menyediakan perangkat penghargaan yang benar-benar bebas dari logo alkohol di setiap tempat dan setiap waktu. Karena itu, langkah FIFA pada Piala Dunia 2026 dengan menyediakan backdrop tanpa logo alkohol untuk pemain Muslim dapat dibaca sebagai bentuk perbaikan implementasi.

Persebaya Juara Piala Presiden 2026 Usai Taklukkan Persib Lewat Adu Penalti

Kompromi yang Tidak Mudah Secara Bisnis

Kebijakan ini patut dilihat sebagai langkah penting karena kompromi terhadap logo sponsor bukan hal sederhana dalam industri olahraga modern. Michelob Ultra merupakan salah satu sponsor utama Piala Dunia 2026.

Menurut laporan analis Sports Business Journal, nilai belanja Anheuser-Busch untuk iklan dan sponsorship FIFA guna menjadikan Michelob Ultra dan brand terkait sebagai minuman resmi turnamen diperkirakan mencapai lebih dari 110 juta dolar AS. Artinya, logo sponsor alkohol bukan sekadar elemen visual. Ia bagian dari kontrak bisnis besar, strategi pemasaran global, dan eksposur komersial bernilai tinggi.

Karena itu, ketika FIFA menyediakan backdrop alternatif tanpa logo alkohol bagi pemain Muslim, kebijakan ini menunjukkan adanya upaya menyeimbangkan kepentingan bisnis, hak sponsor, dan penghormatan terhadap keyakinan agama pemain. Di satu sisi, sponsor tetap menjadi bagian dari ekosistem turnamen. Di sisi lain, pemain Muslim tidak dipaksa menjadi wajah promosi alkohol yang bertentangan dengan keyakinannya.

Perspektif UBN

1. FIFA Membuka Ruang bagi Syiar dan Kehormatan Muslim

UBN melihat kebijakan FIFA ini sebagai langkah positif dalam dunia olahraga global. Di tengah industri sepak bola yang sangat komersial, FIFA tetap membuka ruang bagi pemain Muslim untuk menjaga prinsip agamanya. Ini bukan perkara kecil. Sebab dalam Islam, alkohol bukan sekadar produk biasa. Khamr adalah sesuatu yang diharamkan dan membawa kerusakan bagi akal, keluarga, masyarakat, dan peradaban.

Maka ketika pemain Muslim diberi ruang untuk tidak tampil mempromosikan brand alkohol, itu adalah bentuk penghormatan terhadap iman, martabat, dan identitas keislaman mereka. Allah SWT berfirman:

Lebih Pilih Salat Jumat ketimbang Trofi, Pelatih Senegal Pape Thiaw Viral di Piala Dunia 2026

$$\text{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}$$

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dari perbuatan setan. Maka jauhilah agar kamu beruntung.” (QS Al-Ma’idah: 90)

Ayat ini menjadi dasar bahwa seorang Muslim tidak hanya diminta tidak meminum khamr, tetapi juga menjaga jarak dari ekosistem yang menormalisasi dan mempromosikannya.

2. Syiar Islam Tidak Selalu Berupa Sujud

Sebelumnya, publik melihat syiar Islam di Piala Dunia 2026 melalui sujud syukur, doa, tilawah, dan pesan tawakkal para pemain Muslim. Namun kasus backdrop tanpa logo alkohol ini menunjukkan bentuk syiar yang lain.

Syiar Islam juga bisa hadir dalam keberanian menolak promosi sesuatu yang diharamkan. Syiar bisa hadir dalam sikap diam tetapi tegas. Syiar bisa hadir dalam foto penghargaan yang tetap menjaga prinsip. Syiar bisa hadir dalam keputusan seorang pemain untuk tidak menjadi bagian dari kampanye alkohol, meski berada di tengah panggung global. Ini adalah syiar yang tidak berisik, tetapi bermakna. Tidak selalu tampil dalam ucapan panjang, tetapi terlihat dalam pilihan sikap.

3. Keberanian El Shenawy Menjadi Jalan bagi Pemain Lain

Sikap Mohamed El Shenawy pada Piala Dunia 2018 menunjukkan bahwa satu keberanian bisa membuka jalan bagi banyak orang. Saat ia menolak penghargaan yang disponsori brand bir, ia mungkin hanya sedang menjaga dirinya sendiri.

Namun efeknya lebih jauh. Sikap itu membuat dunia melihat bahwa pemain Muslim memiliki batas yang harus dihormati. Hari ini, ketika sembilan pemain Muslim di Piala Dunia 2026 bisa berfoto sebagai MVP tanpa logo alkohol, kita melihat bahwa keberanian satu orang dapat menjadi sebab lahirnya perubahan sistem. Dalam Islam, menjaga prinsip tidak pernah sia-sia. Kadang hasilnya tidak langsung terlihat. Tetapi Allah bisa menjadikan satu sikap kecil sebagai pintu kebaikan bagi banyak orang setelahnya.

4. Menghormati Agama Bukan Mengganggu Bisnis

UBN juga melihat bahwa kebijakan FIFA ini memberi pelajaran penting bagi dunia bisnis dan industri olahraga. Menghormati keyakinan agama tidak harus merusak bisnis. Memberi ruang kepada pemain Muslim tidak berarti memusuhi sponsor. Menyediakan alternatif tidak berarti membatalkan kontrak komersial.

Justru dari sinilah industri modern belajar berlaku adil. Sponsor tetap dihargai. Turnamen tetap berjalan. Bisnis tetap hidup. Tetapi pemain Muslim juga tidak dipaksa melanggar prinsip agamanya. Inilah bentuk keadilan yang penting dalam dunia global yang semakin beragam. Jika olahraga ingin menjadi milik dunia, maka ia harus mampu menghormati nilai, budaya, dan keyakinan semua peserta.

5. Peradaban Islam Hadir Saat Prinsip Dijaga

Bagi UBN, Piala Dunia 2026 kembali menunjukkan bahwa peradaban Islam tidak hanya dibangun lewat pidato besar. Ia juga dibangun lewat keberanian menjaga prinsip di ruang-ruang modern. Di stadion. Di sesi foto. Di ruang sponsor. Di panggung penghargaan. Di hadapan kamera dunia.

Ketika pemain Muslim menolak menjadi alat promosi alkohol, mereka sedang menjaga akal. Mereka sedang menjaga keluarga. Mereka sedang menjaga generasi muda dari normalisasi khamr. Dalam maqashid syariah, menjaga akal adalah salah satu tujuan utama Islam. Maka sikap tidak mempromosikan alkohol bukan sekadar pilihan personal. Ia adalah bagian dari perlindungan peradaban.

Penutup

Kebijakan FIFA menyediakan backdrop tanpa logo alkohol bagi pemain Muslim yang menjadi MVP di Piala Dunia 2026 adalah langkah kecil yang memiliki makna besar. Sejauh ini, setidaknya sembilan pemain Muslim telah mendapatkan ruang untuk menerima penghargaan pemain terbaik pertandingan tanpa harus tampil bersama logo sponsor alkohol. Langkah ini menunjukkan bahwa prinsip agama dapat tetap dihormati di tengah industri olahraga global yang sangat komersial.

Dari Mohamed El Shenawy pada 2018, Mbappé dan Bounou pada 2022, hingga para pemain Muslim di Piala Dunia 2026, dunia sepak bola belajar bahwa prestasi tidak harus dibayar dengan hilangnya prinsip. UBN mengapresiasi langkah FIFA dalam memberikan ruang keadilan bagi pemain Muslim. Semoga ke depan, penghormatan terhadap nilai agama tidak hanya menjadi pengecualian teknis, tetapi menjadi standar baru dalam olahraga dunia.

Karena pemain Muslim berhak berprestasi. Berhak dihargai. Berhak tampil di panggung dunia. Dan tetap berhak menjaga agamanya tanpa dipaksa menjadi wajah promosi sesuatu yang diharamkan.

(UBN/)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *