JAKARTA | UBN Newsroom — Senin, 27 Safar 1448 H / 10 Agustus 2026 M. Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) menggelar diskusi strategis bertajuk “What’s Next Global Sumud Flotilla?” di Maqdisi AQL, Masjid Baitul Maqdis Indonesia, Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).
Diskusi tersebut menghadirkan KH. Bachtiar Nasir selaku Dewan Pembina Global Peace Convoy Indonesia dan Syaikh Dr. Marwan Abu Ros, penggagas Global Sumud Flotilla, untuk membahas perkembangan gerakan kemanusiaan menuju Gaza, dampaknya terhadap opini publik global, serta langkah solidaritas berikutnya bagi Palestina.
Syaikh Dr. Marwan Abu Ros menjelaskan bahwa Global Sumud Flotilla tidak hanya dinilai dari sejauh mana kapal-kapal tersebut berhasil mencapai Gaza. Menurutnya, gerakan tersebut juga memiliki dampak dalam membuka mata dunia terhadap kondisi Palestina dan memperkuat solidaritas masyarakat internasional.
Ia menilai kapal-kapal yang berlayar menuju Gaza telah menjadi simbol gerakan kemanusiaan tanpa senjata yang berusaha menembus blokade dan membawa perhatian dunia kepada kondisi masyarakat Palestina.
Menurut Syaikh Dr. Marwan, penangkapan aktivis dan kapal dalam perjalanan justru semakin memperlihatkan kepada masyarakat dunia mengenai situasi yang dihadapi gerakan kemanusiaan untuk Gaza.
Syaikh Dr. Marwan menyoroti keterlibatan peserta dari berbagai negara yang tidak seluruhnya berasal dari kalangan Muslim maupun Arab.
Menurutnya, kesediaan mereka mengorbankan waktu, harta, bahkan menghadapi risiko keselamatan menunjukkan bahwa persoalan Palestina telah berkembang menjadi persoalan kemanusiaan universal.
Ia menilai keterlibatan aktivis non-Muslim dan masyarakat Barat dalam gerakan tersebut menjadi salah satu kekuatan penting dalam memperluas kesadaran publik mengenai kondisi Gaza.
Ia juga menjelaskan bahwa keterlibatan tokoh dan aktivis non-Muslim dapat memperluas penerimaan gerakan kemanusiaan di masyarakat internasional.
Syaikh Dr. Marwan menegaskan bahwa Masjid Al-Aqsa bukan hanya milik Palestina, tetapi merupakan bagian penting dari umat Islam secara keseluruhan.
Karena itu, ia mendorong umat Islam untuk tidak berhenti memberikan dukungan terhadap perjuangan masyarakat Palestina.
Menurutnya, umat Islam seharusnya tidak menunjukkan solidaritas yang lebih lemah dibandingkan masyarakat non-Muslim yang telah berani memberikan waktu, harta, dan tenaga untuk membantu Palestina.
Semangat tersebut, menurutnya, perlu dibangun atas kesadaran bahwa luka masyarakat Gaza merupakan bagian dari luka kemanusiaan bersama.
Dalam diskusi tersebut, KH. Bachtiar Nasir mengangkat persoalan mengenai dukungan logistik yang diberikan masyarakat Indonesia kepada gerakan kemanusiaan untuk Palestina.
Pertanyaan tersebut menjadi representasi kegelisahan masyarakat dan para donatur Indonesia mengenai bagaimana bantuan yang mereka berikan dimanfaatkan oleh pihak yang bergerak di lapangan.
“Mereka sangat mengandalkan logistik dari kita, sementara kita dipertanyakan oleh donatur Indonesia, dipakai oleh mereka.”
Pertanyaan KH. Bachtiar Nasir tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Syaikh Dr. Marwan Abu Ros mengenai berbagai tantangan dalam pengelolaan bantuan kemanusiaan.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Syaikh Dr. Marwan mengakui bahwa gerakan kemanusiaan tidak terlepas dari berbagai kekurangan.
Ia menyebut terdapat sejumlah persoalan terkait bantuan di lapangan, termasuk adanya pihak yang berpotensi memanfaatkan gerakan untuk kepentingan pribadi. Namun, menurutnya, persoalan tersebut tidak sebesar gambaran yang berkembang di media sosial.
Karena itu, ia menekankan pentingnya evaluasi secara berkala untuk mengukur kekurangan dan memperbaiki mekanisme gerakan kemanusiaan.
Hal tersebut menjadi penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat, termasuk para donatur Indonesia yang memberikan dukungan logistik dan bantuan bagi Palestina.
Syaikh Dr. Marwan juga menyoroti keterlibatan aktivis dari negara-negara Barat dalam gerakan kemanusiaan Palestina.
Menurutnya, kehadiran mereka menunjukkan bahwa perjuangan untuk menghentikan penderitaan masyarakat Gaza tidak terbatas pada umat Islam.
Ia mencontohkan keterlibatan sejumlah tokoh dari Barat yang memberikan dukungan terhadap upaya kemanusiaan untuk menghentikan tragedi di Gaza.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya persatuan lintas agama dan bangsa dalam menghadapi persoalan kemanusiaan.
Menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia, Syaikh Dr. Marwan turut mengingatkan hubungan historis antara Indonesia dan Palestina.
Ia menyinggung dukungan Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia serta prinsip Indonesia yang menolak segala bentuk penjajahan.
Menurutnya, semangat kemerdekaan Indonesia memiliki hubungan dengan perjuangan Palestina yang hingga kini masih menghadapi persoalan penjajahan dan penindasan.
Karena itu, ia mendorong Indonesia untuk terus mempertahankan kepedulian dan dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina.
Perspektif UBN Newsroom
Global Sumud Flotilla memperlihatkan bahwa perjuangan kemanusiaan tidak hanya berlangsung melalui jalur politik dan diplomasi, tetapi juga melalui kekuatan masyarakat sipil, solidaritas lintas negara, dan opini publik global.
Keterlibatan masyarakat dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa Palestina telah menjadi isu kemanusiaan yang melampaui batas agama, bangsa, dan kewarganegaraan.
Dalam perspektif peradaban, solidaritas dapat menjadi kekuatan ketika diwujudkan melalui aksi nyata, kolaborasi, dan dukungan yang berkelanjutan.
Karena itu, dukungan terhadap Palestina perlu diarahkan pada gerakan kemanusiaan yang amanah, terukur, transparan, dan berkelanjutan.
Perspektif Syariah Compliance
Islam mengajarkan kepedulian terhadap sesama dan pentingnya menjaga kemaslahatan manusia. Solidaritas terhadap masyarakat yang mengalami penderitaan merupakan bagian dari nilai ukhuwah dan kepedulian kemanusiaan.
Masjid Al-Aqsa memiliki kedudukan penting dalam sejarah umat Islam. Karena itu, kepedulian terhadap Palestina tidak hanya memiliki dimensi politik dan kemanusiaan, tetapi juga berkaitan dengan kesadaran keagamaan umat.
Namun, setiap bentuk bantuan tetap harus dijalankan dengan prinsip amanah, transparansi, keadilan, dan kemaslahatan agar kepercayaan masyarakat dan donatur dapat dijaga.
Diskusi “What’s Next Global Sumud Flotilla?” menjadi ruang evaluasi sekaligus pembahasan mengenai keberlanjutan gerakan solidaritas dan aksi kemanusiaan untuk Palestina.
KH. Bachtiar Nasir menyoroti pentingnya memastikan dukungan logistik dari masyarakat Indonesia dapat dipertanggungjawabkan, sementara Syaikh Dr. Marwan Abu Ros menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan solidaritas lintas agama dan negara.
Solidaritas terhadap Palestina pada akhirnya bukan hanya tentang satu kapal atau satu aksi, tetapi tentang bagaimana masyarakat dunia terus menjaga kepedulian dan menghadirkan dukungan nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dukungan Operasional Dakwah dan Jurnalisme Psradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.*

Comment