SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekonomi Politik Technology
Home » Prabowo Luncurkan Motor Listrik Nasional, Dorong Kemandirian Energi dan Industri Indonesia

Prabowo Luncurkan Motor Listrik Nasional, Dorong Kemandirian Energi dan Industri Indonesia

JAKARTA | UBN Newsroom — Kamis,30 Safar 1448 H / 13 Agustus 2026 M. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto resmi meluncurkan Motor Listrik Nasional (MOLINAS) beserta ekosistem pendukungnya di fasilitas manufaktur ALVA, Cikarang, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026).

Peluncuran tersebut menandai langkah pemerintah bersama pelaku usaha nasional untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik sekaligus mendorong kemandirian energi, penguasaan teknologi, dan peningkatan kapasitas industri dalam negeri. Agenda tersebut juga dikonfirmasi sejumlah laporan media yang meliput kehadiran Prabowo dalam peluncuran MOLINAS di Cikarang.

Dalam sambutannya, Prabowo menekankan bahwa penguasaan sains dan teknologi merupakan salah satu ukuran keberhasilan sebuah bangsa. Ia menyebut pengembangan industri kendaraan listrik sebagai bagian dari upaya Indonesia membangun kemampuan produksi dan mengurangi ketergantungan terhadap energi dari luar negeri.

Prabowo mengatakan Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar dan perlu mengelolanya dengan kemampuan teknologi serta industri nasional.

Prabowo Ajukan Penjualan KRI Ki Hajar Dewantara ke DPR

Menurutnya, ketergantungan terhadap energi dari luar negeri dapat membuat Indonesia ikut terdampak ketika terjadi konflik maupun gangguan ekonomi global.

Karena itu, Prabowo mendorong penggunaan kendaraan berbasis listrik, termasuk motor, mobil, bus, dan berbagai alat transportasi lainnya.

“Indonesia memiliki kekuatan luar biasa. Indonesia memiliki sumber alam luar biasa. Tinggal kita bisa atau tidak menjaga dan mengelolanya,” ujar Prabowo dalam sambutannya.

Ia juga menyampaikan bahwa penggunaan kendaraan listrik diharapkan dapat mengurangi pengeluaran masyarakat sekaligus menekan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak.

Prabowo menyebut pemerintah akan mendorong skema pembiayaan yang lebih terjangkau bagi masyarakat, termasuk upaya menurunkan bunga cicilan dan mengurangi kebutuhan uang muka atau down payment (DP).

Bank Indonesia Luncurkan Kartu Kredit Indonesia, Langkah Baru Menuju Kedaulatan Sistem Pembayaran

Chief Executive Officer Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roslani, dalam laporan kepada Presiden menyebut MOLINAS merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan perusahaan nasional.

Rosan mengatakan pengembangan kendaraan listrik nasional diarahkan untuk memanfaatkan kemampuan dan sumber daya yang tersedia di Indonesia.

Salah satunya adalah penggunaan nikel sebagai bahan dasar baterai. Ia menyebut Indonesia memiliki cadangan nikel yang besar dan memiliki peluang untuk mengembangkan rantai industri dari bahan mentah hingga menjadi sel baterai dan battery pack.

Rosan juga menyampaikan bahwa sejumlah perusahaan nasional telah memenuhi kriteria Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang ditetapkan pemerintah.

Danantara Bersiap Masuk BEI, Babak Baru Penguatan Pasar Modal Indonesia

Menurutnya, standardisasi diperlukan agar industri kendaraan listrik nasional tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga memiliki daya saing di tingkat regional dan global.

Di tengah pengembangan industri tersebut, pasar motor listrik Indonesia masih berada pada tahap awal dibandingkan pasar sepeda motor konvensional.

Data pemerintah menunjukkan populasi kendaraan listrik terus meningkat. Bahan Kementerian Perindustrian yang dipublikasikan melalui Ditjen Ketenagalistrikan mencatat total populasi kendaraan listrik mencapai 252.593 unit pada 2025, dengan sepeda motor listrik sekitar 184.186 unit.

Data Ditjen Ketenagalistrikan juga menunjukkan jumlah kendaraan listrik di Indonesia meningkat dari 207 ribu unit pada 2024 menjadi sekitar 252 ribu unit pada 2025.

Namun, angka tersebut masih relatif kecil dibandingkan keseluruhan pasar kendaraan roda dua nasional. Karena itu, perluasan pasar motor listrik masih bergantung pada sejumlah faktor, antara lain harga kendaraan, ketersediaan infrastruktur pengisian atau penukaran baterai, pembiayaan, kualitas produk, serta tingkat kepercayaan masyarakat.

Pemerintah sendiri menargetkan adopsi kendaraan listrik yang lebih besar pada 2030. Dokumen Kementerian ESDM mencantumkan sasaran 13 juta motor listrik dan 2 juta mobil listrik pada 2030.

Dalam sambutannya, Prabowo menempatkan pengembangan kendaraan listrik bukan hanya sebagai agenda transportasi, tetapi sebagai bagian dari strategi membangun kemampuan industri nasional.

Ia menilai keberanian pelaku usaha mengambil risiko dalam membangun produksi kendaraan listrik merupakan bagian dari upaya menciptakan Indonesia Incorporated, yakni kolaborasi pemerintah, dunia usaha, BUMN, akademisi, dan berbagai unsur nasional.

“Keberhasilan suatu bangsa di era modern adalah kemampuan bangsa itu menguasai sains dan teknologi dan menggunakan teknologi untuk melangsungkan kehidupan bangsa tersebut,” kata Prabowo.

Prabowo juga mendorong pelaku industri nasional agar tidak berhenti pada pasar domestik, tetapi mampu bersaing dengan produsen dari negara-negara lain.

Menurutnya, keberanian mengambil inisiatif dan menghadapi risiko merupakan bagian penting dari proses membangun industri nasional yang kuat.

Dalam acara tersebut, Prabowo menyebut kelompok usaha yang terlibat dalam pengembangan MOLINAS telah memproduksi 20.000 unit motor.

Ia kemudian mendorong peningkatan kapasitas produksi secara bertahap agar industri kendaraan listrik nasional mampu berkembang dalam skala yang lebih besar.

Selain motor listrik, pemerintah juga tengah mengembangkan ekosistem kendaraan listrik roda empat. Prabowo menyebut pembangunan fasilitas mobil listrik di kawasan Jawa Barat ditargetkan dapat memasuki produksi besar-besaran paling lambat pada 2028.

Arah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah berupaya membangun ekosistem kendaraan listrik secara lebih luas, mulai dari manufaktur, baterai, pembiayaan, hingga penggunaan kendaraan oleh masyarakat.

Peluncuran MOLINAS perlu dilihat lebih luas dari sekadar peluncuran produk kendaraan baru.

Kendaraan listrik berada pada persimpangan antara ketahanan energi, penguasaan teknologi, industrialisasi, dan kemandirian ekonomi.

Indonesia memiliki sumber daya mineral strategis yang dapat menjadi bagian dari rantai pasok baterai. Namun, kepemilikan sumber daya saja tidak cukup. Nilai strategis baru akan semakin besar apabila Indonesia mampu mengolah sumber daya tersebut menjadi produk bernilai tambah melalui penguasaan teknologi, manufaktur, riset, dan sumber daya manusia.

Karena itu, keberhasilan MOLINAS tidak hanya dapat diukur dari jumlah motor yang diproduksi atau terjual. Indikator yang lebih strategis adalah sejauh mana ekosistem tersebut mampu meningkatkan kandungan produksi dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, menekan ketergantungan energi impor, dan menghasilkan produk yang kompetitif.

Dalam perspektif syariah, kekayaan alam merupakan amanah yang harus dikelola dengan prinsip kemaslahatan dan tanggung jawab.

Pengembangan industri nasional dapat menjadi bagian dari upaya mewujudkan kemaslahatan apabila diarahkan untuk memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat, menjaga keberlanjutan, mencegah pemborosan, dan memperkuat kemampuan bangsa.

Karena itu, agenda kemandirian energi dan industri perlu berjalan bersama dengan tata kelola yang amanah, keadilan dalam distribusi manfaat, serta perlindungan terhadap kepentingan masyarakat.

Dengan demikian, transformasi menuju kendaraan listrik tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan industri. Ia juga perlu memastikan bahwa sumber daya, teknologi, dan kebijakan yang dibangun benar-benar menghasilkan manfaat luas bagi masyarakat dan memperkuat ketahanan bangsa.

Artikel ini disusun berdasarkan transkrip sambutan Presiden Prabowo Subianto dan laporan CEO Danantara Indonesia pada acara peluncuran Motor Listrik Nasional (MOLINAS) di Cikarang, Kamis (13/8/2026), serta data pendukung dari sumber pemerintah mengenai perkembangan kendaraan listrik Indonesia.

Data populasi kendaraan listrik dan target 2030 digunakan sebagai data pendukung dan tidak disamakan dengan angka penjualan motor listrik tahunan.

Dukung operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom melalui:

BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti kanal UBN Newsroom untuk mendapatkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban mengenai umat, bangsa, dan dunia.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement