Jakarta | UBN Newsroom — Ahad, 3 Rabiul Awal 1448 H / 16 Agustus 2026 M.Di tengah kehancuran akibat perang, seni menjadi salah satu ruang bagi anak-anak dan remaja Palestina di Jalur Gaza untuk mengekspresikan emosi, menghadapi tekanan psikologis, sekaligus menemukan kembali rasa aman dan harapan.
Dilansir Al Jazeera, Jumat (14/8/2026), sebuah ruang seni di kafe yang berada di tepi pantai Deir el-Balah menjadi tempat berkegiatan bagi anak-anak dan remaja Gaza. Salah satunya Maryam, 16 tahun, yang rutin menggambar untuk mengalihkan diri sejenak dari situasi perang.
Rumah keluarga Maryam hancur akibat serangan pada Januari 2024. Ia juga kehilangan sejumlah orang terdekat, termasuk pamannya, selama perang berlangsung.
Sejak mengikuti kegiatan di ruang seni tersebut pada April lalu, Maryam kembali menemukan kegemarannya menggambar. Baginya, menggambar bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu, tetapi menjadi cara menuangkan perasaan yang sulit disampaikan melalui kata-kata.
Aktivitas tersebut juga memberinya semangat baru. Setiap kali menyelesaikan sebuah gambar, Maryam merasa memperoleh pencapaian sekaligus harapan di tengah situasi yang berat.
“Jika saya tidak menggambar, saya mungkin sudah menyerah pada depresi dan keadaan sulit yang saya alami,” kata Maryam sebagaimana dikutip Al Jazeera.

Ruang Seni untuk Menghadirkan Harapan
Ruang seni tersebut didirikan Abdullah al-Ghafri, 35 tahun, sebagai respons terhadap minimnya ruang bagi anak-anak dan remaja Gaza untuk mengembangkan bakat mereka.
Banyak pusat pendidikan dan kebudayaan di Gaza mengalami kerusakan atau kehancuran akibat perang. Kondisi tersebut membuat anak-anak kehilangan banyak ruang untuk belajar, bermain, dan mengekspresikan diri.
Menurut al-Ghafri, kegiatan tersebut dirancang untuk membawa anak-anak keluar sejenak dari suasana perang dan kehancuran. Seni diharapkan menjadi sarana untuk melepaskan energi negatif sekaligus menumbuhkan kembali harapan.
Psikolog: Seni Membantu Anak Menyalurkan Emosi
Psikolog Asil Abu Shawish menilai aktivitas seni dapat membantu anak-anak dan remaja menghadapi tekanan akibat trauma.
Menggambar, bernyanyi, dan memainkan alat musik memungkinkan mereka menyalurkan emosi yang sulit diungkapkan secara verbal.
Menurutnya, keberadaan ruang yang aman juga dapat memberikan rasa stabilitas kepada anak-anak di tengah situasi yang terus berubah.
“Ketika seorang anak memasuki ruang yang aman dan mengetahui bahwa mereka memiliki waktu untuk menggambar atau bermusik, hal itu membantu mereka merasa masih memiliki bagian dari kehidupan yang dapat mereka kendalikan,” ujarnya.
Namun, Abu Shawish menegaskan bahwa seni bukan satu-satunya solusi bagi dampak psikologis perang. Aktivitas tersebut dapat menjadi sarana pelepasan emosi dan mekanisme menghadapi tekanan, terutama apabila dilakukan secara berkelanjutan, sesuai usia anak, dan dengan pendampingan yang memadai.
Musik Jadi Ruang Ekspresi Anak-Anak Gaza
Selain seni rupa, kegiatan musik juga dikembangkan di sejumlah wilayah Gaza.
Di Nuseirat, anak-anak mengikuti kegiatan bersama Edward Said National Conservatory of Music yang berada di bawah koordinasi Palestinian Student Care Association.
Kerusakan fasilitas konservatori di Gaza City tidak menghentikan para pengajar. Kegiatan kemudian dipindahkan ke sejumlah lokasi pengungsian, termasuk Nuseirat dan Deir el-Balah.
Koordinator proyek dan venue konservatori cabang Gaza, Jabr Thabet, mengatakan kegiatan tersebut bukan semata-mata untuk mengajarkan musik.
Anak-anak juga diberi kesempatan untuk merasakan kegembiraan, berinteraksi dengan teman sebaya, dan menikmati suasana yang menyerupai kehidupan normal.
Menurut Thabet, musik memungkinkan anak-anak mengekspresikan sesuatu yang terkadang tidak mampu mereka sampaikan melalui percakapan.
Seni dan Musik sebagai Bentuk Ketahanan
Bagi para pengelola kegiatan, seni sekaligus menjadi bentuk ketahanan masyarakat Gaza.
Di tengah kehancuran akibat perang, kemampuan anak-anak untuk tetap menggambar, bernyanyi, bermain musik, dan menciptakan karya menjadi cara untuk mempertahankan bagian dari kehidupan dan jati diri mereka.
Laporan Al Jazeera menyebutkan, ruang seni dan kegiatan musik tersebut menjadi tempat aman bagi anak-anak Gaza untuk memproses ketakutan, kehilangan, dan tekanan akibat perang, sekaligus menemukan kembali kegembiraan dan harapan.
Perspektif UBN Newsroom
Seni, Harapan, dan Hak Anak untuk Tetap Merasakan Kehidupan
Di tengah perang, anak-anak tidak seharusnya kehilangan hak untuk tumbuh, belajar, bermain, berkarya, dan merasakan kebahagiaan.
Kisah anak-anak Gaza yang menemukan ruang untuk menggambar dan bermusik menunjukkan bahwa pemulihan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, sebuah pensil, selembar kertas, alat musik, atau ruang aman dapat menjadi jalan bagi seorang anak untuk kembali merasakan bahwa kehidupannya masih memiliki harapan.
Namun, seni tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan akar persoalan. Trauma anak-anak Gaza tidak muncul dalam ruang kosong. Ia lahir dari kehilangan rumah, keluarga, keamanan, pendidikan, dan kehidupan normal akibat perang yang berkepanjangan.
Karena itu, perhatian terhadap kondisi psikologis anak harus berjalan bersama upaya memastikan keselamatan, perlindungan, pendidikan, bantuan kemanusiaan, serta terpenuhinya hak-hak dasar mereka.
Ketika seorang anak masih mampu menggambar di tengah reruntuhan, bernyanyi di tengah pengungsian, dan bermimpi di tengah ketakutan, di sana terlihat bahwa harapan belum sepenuhnya padam.
Menjaga Jiwa dan Masa Depan Anak adalah Amanah
Islam memberikan perhatian besar terhadap perlindungan jiwa dan kehidupan manusia. Anak-anak yang menjadi korban konflik tidak boleh dipandang sekadar sebagai angka dalam laporan korban, tetapi sebagai manusia yang memiliki kehormatan dan hak untuk hidup, tumbuh, serta mendapatkan perlindungan.
Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَـٰهُمْ فِي ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَـٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَفَضَّلْنَـٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”
(QS. Al-Isra: 70)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki kemuliaan yang harus dijaga.
Karena itu, upaya membantu anak-anak yang mengalami trauma perang melalui pendidikan, pendampingan psikologis, seni, dan ruang aman merupakan bagian dari ikhtiar menjaga jiwa serta memulihkan kehidupan mereka.
Seni dapat menjadi sarana untuk menghadirkan harapan, tetapi perdamaian dan perlindungan terhadap manusia tetap menjadi kebutuhan yang lebih mendasar.
Anak-anak Gaza berhak tumbuh bukan hanya dengan kemampuan untuk bertahan dari perang, tetapi juga dengan kesempatan untuk hidup aman, belajar, berkarya, dan menatap masa depan.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.
Penulis: Tim UBN Newsroom

Comment