JAKARTA | UBN Newsroom — Sabtu, 3 Rabiul Awal 1448 H / 16 Agustus 2026 M. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. Hingga pukul 15.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 38 orang meninggal dunia, 2 luka berat, dan 11 luka ringan. Sekitar 2.000 warga mengungsi secara mandiri.
Sejumlah bangunan dan infrastruktur mengalami kerusakan, termasuk ruas jalan Trans Flores. Pada malam yang sama, AQL Humanity berkolaborasi dengan Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID) memberangkatkan tim kemanusiaan dari AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta, menuju wilayah terdampak.
Gempa M7,7: Kronologi dan Dampak
Pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. BMKG menyatakan gempa dipicu oleh aktivitas sesar aktif di utara Flores, bukan zona megathrust.
Guncangan terasa kuat di sejumlah wilayah NTT, NTB, hingga Sulawesi Selatan.
BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk empat provinsi, yakni NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Tsunami kemudian terdeteksi di 10 wilayah pesisir, dengan gelombang tertinggi mencapai 0,94 meter di Maurole, Ende.
Peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 07.31 WIB. Hingga pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat 235 gempa susulan dengan magnitudo 2,5 hingga 6,2.
Korban meninggal tersebar di sejumlah wilayah. Berdasarkan data pukul 12.30 WIB, korban tercatat antara lain di Sikka sebanyak 3 orang, Manggarai 6 orang, dan Manggarai Timur 5 orang. Jumlah tersebut kemudian bertambah hingga mencapai 38 jiwa pada pukul 15.00 WIB.
Di Ende, sejumlah rumah dan bangunan pemerintah dilaporkan roboh. Akses Ende–Bajawa dan jalur Trans Ende–Maumere juga dilaporkan terganggu akibat longsor.
Ruang tunggu Pelabuhan Laurentius Say Maumere turut roboh dan menjadi salah satu lokasi jatuhnya korban.
AQL Humanity dan SAJID Kirim Tim
Pelepasan tim gabungan dilakukan di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta, Sabtu malam (15/8/2026).
Pembina AQL Humanity, KH Bachtiar Nasir, melepas keberangkatan tiga personel yang terdiri atas koordinator lapangan, relawan AQL Humanity, dan jurnalis yang mewakili SAJID.
“Di sinilah Allah, Tuhan kita Yang Maha Kuasa, menguji keindonesiaan kita. Terutama menguji empati dan solidaritas keindonesiaan kita,” ujar KH Bachtiar Nasir saat pelepasan.
Jurnalis SAJID ditugaskan melakukan peliputan langsung dengan mengutamakan data, fakta, dan sumber primer.
“Yang akan memproduksi informasi dari lokasi secara langsung, dari sumber-sumber primer, dan dari kenyataan fakta di lapangan,” tambahnya.
Wisuda dari Lokasi Bencana
Salah satu anggota tim, Ananda Putra, merupakan kader AQL sekaligus mahasiswa STIQ Ar-Rahman yang seharusnya mengikuti prosesi wisuda.
Orang tua Putra berada di pengungsian di Maumere. Kampus kemudian memberikan izin kepada Putra untuk bergabung dalam misi kemanusiaan sekaligus mengikuti wisuda secara jarak jauh.
“Sudah waktunya untuk mengamalkan ilmunya dan pada saat yang sama sudah waktunya untuk birrul walidain,” kata KH Bachtiar Nasir.
Tim AQL Humanity dan SAJID selanjutnya akan melakukan asesmen kondisi masyarakat serta memetakan kebutuhan mendesak di lokasi bencana.
Perspektif UBN Newsroom:
Ketika Bencana Menguji Solidaritas
NTT terletak di kawasan tektonik aktif dengan keberadaan sesar aktif di wilayah Flores. Gempa besar bukan peristiwa yang dapat sepenuhnya dihindari, sehingga kesiapsiagaan dan kapasitas tanggap darurat menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko korban.
Gempa M7,7 ini menguji dua hal sekaligus: kecepatan sistem nasional dalam merespons bencana dan kehadiran masyarakat sipil di titik-titik yang membutuhkan bantuan.
Respons kemanusiaan yang efektif juga membutuhkan koordinasi, bukan duplikasi. Tim AQL Humanity memasuki wilayah yang telah mendapatkan respons dari berbagai unsur pemerintah dan organisasi kemanusiaan.
Nilai tambah yang dapat diberikan antara lain peliputan dari sumber primer serta pemenuhan kebutuhan spesifik yang belum tercakup dalam respons formal, termasuk dukungan kemanusiaan, pendampingan masyarakat, dan perhatian terhadap kelompok rentan.
Bagi masyarakat yang ingin membantu, bantuan melalui lembaga kemanusiaan yang memiliki jalur distribusi di wilayah terdampak perlu disalurkan secara tepat sasaran.
Bagi jurnalis, perubahan data korban pada hari pertama bencana menjadi pengingat bahwa setiap angka harus disampaikan berdasarkan sumber resmi dan waktu pembaruan yang jelas.
Kehati-hatian dalam menyebut angka korban bukan berarti lambat dalam merespons, melainkan bagian dari standar profesional dalam pemberitaan bencana.
Amanah di Tengah Musibah
Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia akan diuji dengan berbagai bentuk kesulitan, termasuk kehilangan harta dan jiwa.
Allah SWT berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 155)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa kesabaran dalam menghadapi musibah bukan berarti pasif. Kesabaran harus berjalan bersama ikhtiar, kepedulian, dan upaya menyelamatkan kehidupan.
Rasulullah SAW juga menggambarkan hubungan sesama orang beriman seperti satu tubuh: ketika salah satu bagian merasakan sakit, bagian lainnya turut merasakan penderitaan tersebut.
(HR. Muslim dari Nu’man bin Basyir)
Dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, tanggap bencana berkaitan erat dengan penjagaan jiwa (ḥifẓ al-nafs), penjagaan harta (ḥifẓ al-māl), serta penjagaan keturunan dan keluarga (ḥifẓ al-nasl).
Karena itu, membantu korban gempa, menyelamatkan mereka yang membutuhkan, menyediakan kebutuhan dasar, melindungi anak-anak dan kelompok rentan, serta menjaga harta masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan sekaligus amanah syariat.
Catatan Redaksi
Transparansi afiliasi: AQL Humanity berada di bawah Yayasan Pusat Peradaban Islam, yayasan yang sama yang menaungi UBN Newsroom. Pemberitaan ini disusun dengan standar verifikasi yang sama dengan berita non-afiliasi.
Data korban bersumber dari BNPB berdasarkan pembaruan pukul 15.00 WIB, Sabtu (15/8/2026). BNPB menyatakan data masih bersifat sementara dan dapat berubah. Angka korban telah mengalami beberapa kali pembaruan sepanjang hari.
Informasi gempa bersumber dari BMKG. Data kerusakan bersumber dari BNPB dan BPBD NTT.
Naskah akan diperbarui setelah tim AQL Humanity menyampaikan hasil asesmen lapangan.
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam (via AQL Humanity)
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom dan Dukungan tanggap bencana gempa NTT
dapat disalurkan melalui: BSI
BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment