JAKARTA, UBN NEWSROOM — Ahad, 15 Rabiul Akhir 1448 H / 27 September 2026 M.
Iran menawarkan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari apabila Amerika Serikat menyetujui sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran.
Tawaran tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi dalam pernyataan kepada media di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, pada 25 September 2026. Dalam keterangan resmi UN Web TV, Araghchi mengatakan Iran telah menyampaikan kepada Amerika Serikat melalui Qatar sebuah rencana konkret selama tujuh hari untuk memulihkan pelayaran normal di Selat Hormuz.
IRAN AJUKAN RENCANA TUJUH HARI
Araghchi menjelaskan bahwa hitungan tujuh hari akan dimulai setelah Amerika Serikat menerima rencana tersebut.
Menurut penjelasan Araghchi, terdapat sejumlah tindakan yang perlu dilakukan Amerika Serikat. Iran memperkirakan langkah-langkah tersebut dapat diselesaikan dalam waktu empat hingga lima hari.
Pada hari keenam, menurut rencana tersebut, Selat Hormuz dapat kembali dibuka untuk lalu lintas perdagangan. Pada hari ketujuh, Iran dan Amerika Serikat akan memulai pembicaraan untuk mencapai kesepakatan akhir mengenai sejumlah isu yang disepakati bersama.
SYARAT YANG DIAJUKAN TEHERAN
Dalam pernyataannya, Araghchi menyebut langkah-langkah yang diminta Iran telah tercantum dalam nota kesepahaman (MOU) yang sebelumnya disepakati kedua negara.
Laporan Associated Press menyebut persyaratan yang disampaikan Iran antara lain penghentian blokade laut terhadap pelabuhan Iran, keringanan atau penghapusan sanksi terhadap penjualan minyak Iran, serta gencatan senjata yang mencakup Lebanon. Proposal tersebut juga berkaitan dengan dimulainya kembali pembicaraan mengenai program nuklir Iran.
Araghchi mengatakan Iran menilai langkah-langkah tersebut bukan tuntutan baru karena telah tercantum dalam kesepakatan sebelumnya.
DIPLOMASI MELALUI QATAR
Menurut Araghchi, rencana tujuh hari tersebut disampaikan kepada Amerika Serikat melalui Qatar.
Dalam pernyataan resminya di PBB, Araghchi mengatakan Iran tetap membuka jalur diplomasi, tetapi menginginkan adanya jaminan yang dapat dipercaya sebelum pembicaraan baru dilakukan.
Ia juga menyatakan bahwa Iran tidak menerima tekanan, ancaman, atau intimidasi dalam proses diplomasi tersebut.
HORMUZ MENJADI TITIK PENTING PERDAGANGAN ENERGI
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Sebelum konflik berlangsung, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia melewati jalur tersebut. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan ini kemudian berdampak pada pasar energi dan perdagangan internasional.
Karena itu, tawaran pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi bagian penting dalam pembicaraan mengenai penghentian konflik dan pemulihan aktivitas pelayaran.
BELUM MENJADI KESEPAKATAN
Rencana tujuh hari yang disampaikan Iran masih merupakan proposal yang menunggu persetujuan Amerika Serikat.
Araghchi mengatakan bahwa apabila Washington menerima rencana tersebut, hitungan tujuh hari dapat segera dimulai. Ia menyatakan Iran telah mempersiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk pembukaan kembali jalur pelayaran.
Dengan demikian, tawaran tersebut belum dapat disebut sebagai kesepakatan damai ataupun keputusan pembukaan Selat Hormuz yang telah berlaku. Implementasinya masih bergantung pada respons dan persetujuan pihak Amerika Serikat serta pemenuhan persyaratan yang diajukan.
PERSPEKTIF UBN NEWSROOM
HORMUZ, DIPLOMASI, DAN KEPENTINGAN PERDAGANGAN DUNIA
Selat Hormuz bukan hanya persoalan hubungan Iran dan Amerika Serikat. Jalur tersebut memiliki posisi strategis dalam perdagangan energi dunia sehingga gangguan berkepanjangan dapat berdampak kepada banyak negara.
Proposal Iran memperlihatkan bahwa persoalan keamanan pelayaran, sanksi ekonomi, dan perundingan mengenai program nuklir telah saling berkaitan dalam proses diplomasi yang sedang berlangsung.
Karena itu, setiap perkembangan perlu dibedakan antara proposal yang diajukan, persyaratan yang diminta, respons pihak lain, dan kesepakatan yang benar-benar telah disetujui.
AMANAH DALAM MEMBUKA JALAN PERDAMAIAN
Ketika konflik telah memberikan dampak luas terhadap masyarakat dan perdagangan dunia, setiap ruang untuk mengurangi permusuhan perlu ditempuh dengan prinsip keadilan, kejelasan komitmen, dan amanah dalam menjalankan kesepakatan.
Allah SWT berfirman:
فَإِن جَنَحُوا۟ لِلسَّلْمِ فَٱجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(Q.S. Al-Anfal [8]: 61)
Ayat tersebut memberikan prinsip bahwa ketika terdapat jalan menuju perdamaian, kesempatan tersebut perlu disambut. Namun, perdamaian juga membutuhkan kesungguhan dalam memenuhi komitmen agar kesepakatan tidak berhenti sebagai pernyataan, melainkan benar-benar menghadirkan keamanan dan kemaslahatan.
CATATAN REDAKSI
Sumber utama: United Nations Web TV, pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi pada 25 September 2026. Konteks mengenai persyaratan proposal juga diperiksa melalui Associated Press.
UBN Newsroom mencatat bahwa rencana pembukaan Selat Hormuz dalam tujuh hari merupakan proposal yang disampaikan Iran dan belum menjadi kesepakatan yang berlaku.
DUKUNGAN OPERASIONAL DAKWAH & JURNALISME PERADABAN
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Keberlangsungan kerja dakwah dan jurnalisme membutuhkan dukungan bersama. Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom serta dukungan tanggap bencana dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.
UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment