JAKARTA | UBN Newsroom — Sabtu, 14 Rabiul Awal 1447 | 26 September 2026 M.
Al Jazeera Media Network menolak keras pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyerang jaringan media tersebut dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kamis (24/9/2026). Al Jazeera menilai pernyataan tersebut sebagai bagian terbaru dari kampanye berkelanjutan Israel terhadap jaringan media itu dan para jurnalisnya.
Dalam pernyataan resmi pada Jumat (25/9/2026), Al Jazeera menyebut retorika Netanyahu berpotensi mengancam keselamatan jurnalis yang bekerja di lapangan, terutama di Gaza, di tengah tingginya jumlah korban dari kalangan pekerja media Palestina.
Netanyahu Sebut Al Jazeera Media Beracun
Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB, Netanyahu menyebut Al Jazeera sebagai salah satu media “beracun” di dunia yang menurutnya bermaksud mencuci otak generasi muda agar membenci Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Netanyahu juga menyerang para pengkritik Israel terkait tindakan militernya di Gaza dan kekerasan di Tepi Barat yang diduduki.
Al Jazeera secara tegas menolak tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa jaringan media itu menjalankan tugas jurnalistik untuk melaporkan fakta di lapangan, mendokumentasikan peristiwa, memberikan konteks, serta memastikan berbagai suara dan perspektif dapat didengar.
Al Jazeera Soroti Ancaman terhadap Jurnalis
Al Jazeera menyatakan bahwa penggunaan podium PBB untuk menyampaikan retorika yang menyerang media menjadi perhatian serius, mengingat potensi ancamannya terhadap keselamatan jurnalis yang bekerja di lapangan.
“Retorika ini tidak dapat dipisahkan dari besarnya pengorbanan yang ditanggung oleh para jurnalis Al Jazeera di Gaza,” demikian pernyataan jaringan media tersebut.
Al Jazeera menyebut sejumlah jurnalis dan operator kameranya telah kehilangan nyawa ketika menjalankan tugas. Sebagian di antaranya, menurut jaringan media itu, mengalami kampanye hasutan dan pencemaran nama baik sebelum menjadi sasaran serangan.
Sementara itu, Serikat Jurnalis Palestina menyebut sedikitnya 706 anggota keluarga jurnalis Palestina termasuk di antara lebih dari 73.000 orang yang tewas di Gaza, berdasarkan angka yang dikutip dalam laporan tersebut.
Israel Pernah Menutup Kantor Al Jazeera
Perselisihan antara Israel dan Al Jazeera bukan kali pertama terjadi. Israel sebelumnya mengambil langkah pembatasan terhadap jaringan media tersebut dan melakukan tekanan terhadap Qatar.
Dua tahun lalu, kabinet Israel memutuskan menutup Al Jazeera di wilayahnya, termasuk memerintahkan penutupan kantor dan pelarangan siaran jaringan tersebut.
Keputusan itu diambil setelah Knesset Israel mengesahkan undang-undang yang memungkinkan pemerintah menutup sementara media asing yang dinilai sebagai ancaman terhadap keamanan.
Al Jazeera menilai langkah tersebut tidak hanya menyasar satu jaringan media, tetapi juga melemahkan hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar dan liputan jurnalistik independen.
Kebebasan Pers dan Hak Masyarakat atas Informasi
Al Jazeera menegaskan bahwa tugas jurnalisme adalah menyampaikan fakta dan konteks kepada masyarakat dunia, sekaligus menghormati hak setiap individu untuk menilai sumber informasi dan membentuk pandangannya sendiri.
Jaringan media tersebut menyatakan bahwa kebebasan pers dan akses terhadap informasi yang dapat dipercaya merupakan bagian penting dari kehidupan publik.
Pernyataan itu kembali menempatkan keselamatan jurnalis, independensi media, dan hak masyarakat memperoleh informasi sebagai persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam konflik Gaza.
Perspektif UBN Newsroom | Menjaga Kebenaran dan Amanah Informasi
Dalam Islam, menyampaikan berita bukan sekadar aktivitas komunikasi, melainkan amanah yang menuntut kejujuran, ketelitian, dan tanggung jawab. Informasi yang disampaikan kepada masyarakat dapat memengaruhi pemahaman, keputusan, serta kehidupan banyak orang.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 6)
Ayat tersebut memberikan prinsip penting bagi dunia jurnalistik: berita harus diperiksa kebenarannya sebelum disebarluaskan. Tuduhan, pernyataan, dan klaim dari pihak yang terlibat konflik perlu ditempatkan secara jelas sebagai keterangan pihak terkait, bukan otomatis dianggap sebagai fakta yang telah terbukti.
Dalam konflik Gaza, keselamatan jurnalis dan hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang dapat dipercaya menjadi bagian penting dari perlindungan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Jurnalis yang bekerja mendokumentasikan peristiwa memiliki tanggung jawab profesional, sementara pihak-pihak yang memiliki kekuasaan harus menghormati perlindungan terhadap pekerja media sesuai hukum yang berlaku.
Kebenaran tidak seharusnya ditentukan oleh siapa yang paling kuat menyampaikan narasi, melainkan melalui fakta yang dapat diperiksa, bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, dan keberanian untuk menyampaikan keadaan secara jujur.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment