SOLO, UBN NEWSROOM — Sabtu, 21 Rabiul Akhir 1448 H / 3 Oktober 2026 M.
Pesantren tidak cukup hanya memiliki gedung, aset, jaringan, atau sumber pembiayaan yang besar untuk mampu bertahan lintas generasi. Kekuatan pesantren, menurut pendakwah sekaligus alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor KH Dr (HC) Bachtiar Nasir, justru terletak pada keteguhan nilai, sistem kelembagaan, regenerasi kepemimpinan, dan kemandirian ekonomi yang membuatnya tidak mudah didikte kekuatan di luar pesantren.
Bachtiar menjadikan perjalanan seratus tahun Gontor sebagai salah satu contoh bagaimana sebuah lembaga pendidikan Islam dapat bertahan melewati perubahan politik dan sosial yang sangat panjang. Ustad Bachtiar Nasir mengatakan hal tersebut ketika berbicara pada acara MULTAQO Mudara Maahid Forum Maahid Dan Madaris Qur’an Indonesia (FORMAKIN) di Solo, Sabtu (3/10). Gontor berdiri pada 1926 dan kemudian mengembangkan Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah atau KMI pada 1936.

Menurut Bachtiar, keberlangsungan sebuah pesantren tidak bisa dilepaskan dari kemampuan pendirinya membangun sistem yang tidak bergantung pada satu figur. Ketergantungan berlebihan kepada seorang kiai mungkin menjadi kekuatan ketika sang tokoh masih hidup, tetapi dapat berubah menjadi kelemahan ketika proses regenerasi tidak disiapkan.
“Kalau titik sentral di kita menjadi kekuatan, memang kuat di awal, tetapi rawan di akhir,” kata Bachtiar.
Ia menilai pengalaman sejarah Gontor memperlihatkan pentingnya transformasi dari kepemimpinan yang bertumpu pada individu menuju tata kelola kelembagaan yang mampu hidup melampaui usia pendirinya.
Dalam sejarah Gontor, tiga bersaudara yang kemudian dikenal sebagai Trimurti: KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi, membangun kembali pesantren yang sebelumnya mengalami kemunduran. Pada 1958, para pendiri kemudian mewakafkan Gontor kepada umat melalui Badan Wakaf.
Bagi Bachtiar, keputusan tersebut menjadi salah satu tonggak terpenting yang menjelaskan mengapa Gontor mampu bertahan hingga memasuki usia satu abad.
“Di situlah keberkahan demi keberkahan datang. Ini mukadimah mengapa Gontor bisa seratus tahun,” ujarnya.
JANGAN BERGANTUNG PADA SATU KIAI
Bachtiar melihat keberadaan Badan Wakaf dan model kepemimpinan kolektif sebagai salah satu jawaban atas persoalan klasik yang kerap muncul dalam keberlanjutan pesantren.
Sebuah lembaga pendidikan yang terlalu bergantung pada figur tunggal menghadapi risiko besar ketika pendirinya wafat atau tidak lagi mampu memimpin. Persoalan kemudian bukan hanya mengenai kepemimpinan, tetapi dapat merembet ke kepemilikan aset, pewarisan, arah pendidikan, hingga perpecahan internal.
Karena itu, menurut Bachtiar, regenerasi tidak boleh hanya terjadi pada orang. Sistem nilai dan manajemen juga harus diwariskan.
“Jadi ada regenerasi sistem nilai yang tidak terputus,” katanya.
Ia mengatakan pola kepemimpinan kolektif-kolegial dapat menjadi salah satu cara mengurangi ketergantungan lembaga terhadap satu figur. Dalam konteks Gontor, pimpinan pesantren bekerja dalam sistem kelembagaan yang berada di bawah Badan Wakaf.
Bachtiar melihat mekanisme tersebut sebagai salah satu unsur yang menjaga kesinambungan pondok ketika generasi pendiri telah tiada.
“Riskan kalau hanya satu kiai,” ujarnya.

NILAI TIDAK BOLEH IKUT BERUBAH
Namun kelembagaan saja tidak cukup. Bachtiar mengatakan pesantren harus terlebih dahulu mengetahui nilai apa yang tidak boleh berubah, sekalipun zaman berubah sangat cepat.
Ia menggunakan perumpamaan syajarah thayyibah atau pohon yang baik untuk menggambarkan landasan tersebut. Sebuah pohon dapat tumbuh tinggi dan menghasilkan buah apabila akarnya kuat.
“Kalau pondok kehilangan syajarah thayyibah-nya, maka hilanglah pesantren,” kata Bachtiar.
Menurut dia, pesantren yang sejak awal dibangun hanya berdasarkan kepentingan duniawi tidak mempunyai fondasi yang cukup kuat untuk bertahan lama.
Ia mengingatkan keberhasilan sebuah pesantren tidak boleh semata-mata diukur dari ekspansi aset atau besarnya kegiatan ekonomi. Semua itu harus tetap berangkat dari tujuan pendidikan dan dakwah.
Asas kedua yang ia tekankan adalah tafaquh fiddin atau pendalaman agama.
Bachtiar mengingatkan pesantren memang harus mampu mengikuti perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, dan perubahan kebutuhan masyarakat. Namun modernisasi tidak boleh membuat fungsi dasarnya sebagai tempat mendalami agama menghilang.
Menurut dia, sejarah menunjukkan sejumlah lembaga pendidikan mencoba menggabungkan pesantren dengan berbagai bidang khusus. Eksperimen semacam itu dapat berkembang apabila fondasi keagamaannya tetap kuat.
Masalah muncul ketika identitas pesantren justru semakin jauh dari tafaquh fiddin.
“Yang bermasalah adalah ketika hilang tafaquh fiddin-nya,” kata Bachtiar.
PESANTREN HARUS MEMBACA ZAMAN
Keteguhan terhadap nilai, menurut Bachtiar, tidak berarti menutup diri terhadap perubahan.
Pesantren justru harus mempunyai kemampuan membaca arah zaman. Perkembangan teknologi, perubahan perilaku generasi muda, dan transformasi sosial menuntut cara pendidikan yang terus diperbarui.
“Kalau kita tidak baca peta sekarang ini, teknologi ini, maka kita akan tergilas oleh zaman,” ujarnya.
Generasi muda hari ini, kata dia, mempunyai pola berpikir yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Karena itu, metode pendidikan tidak dapat sekadar menyalin cara lama tanpa memahami perubahan masyarakat.
Namun perubahan metode tidak berarti mengganti prinsip.
Dalam kerangka yang dikemukakannya, pesantren membutuhkan tiga unsur sekaligus: nilai yang tetap, kelembagaan yang mampu beradaptasi, serta sumber daya ekonomi yang membuat lembaga tetap mandiri.
Ketiganya saling berkaitan.
Pesantren dapat memiliki gagasan pendidikan yang kuat, tetapi tanpa kelembagaan yang baik ia rawan mengalami krisis regenerasi. Sebaliknya, lembaga yang mempunyai manajemen modern tetapi kehilangan nilai dasarnya berisiko kehilangan identitas.
BIAYA ADA, TETAPI TIDAK DIDIKTE
Persoalan berikutnya adalah kemandirian ekonomi.
Bachtiar mengatakan salah satu pertanyaan mendasar bagi setiap pesantren ialah bagaimana lembaga mendapatkan sumber pembiayaan tanpa kehilangan kebebasan menentukan arah pendidikannya.
“Bagaimana biaya ada tetapi tidak didikte,” katanya.
Ia mengingatkan ketergantungan yang terlalu besar kepada donor tertentu dapat menciptakan kerentanan. Bantuan dari pihak luar tidak salah, tetapi akan menjadi persoalan jika sejak awal sebuah lembaga tidak berusaha membangun kemampuan berdiri sendiri.
Menurut Bachtiar, prinsip tersebut menjadi salah satu alasan wakaf memiliki kedudukan penting dalam pengembangan pesantren.
Wakaf membuat aset tidak lagi menjadi milik pribadi pendiri atau keluarganya. Aset tersebut dikunci untuk tujuan yang lebih besar dan manfaatnya diteruskan kepada generasi berikutnya.
Bachtiar menggunakan konsep habsul ashl wa tasbil ats-tsamrah, menahan pokok harta dan mengalirkan manfaatnya, untuk menjelaskan kekuatan wakaf.
Baginya, seorang kiai tidak cukup hanya mengajak orang lain berwakaf.
“Jadi kiai harus genius. Cirinya, kebaikannya tidak bisa dihentikan oleh kematiannya,” katanya.
Ia kemudian menyampaikan kalimat yang lebih tajam.
“Jangan cuma menyuruh wakaf, tetapi dirinya sendiri tidak wakaf.”
Menurut Bachtiar, keberanian pendiri melepas kepemilikan pribadi menjadi salah satu ujian terbesar dalam membangun lembaga yang ingin hidup jauh melampaui usia manusia.
TIDAK TERGADAI KEKUASAAN
Kemandirian ekonomi mempunyai kaitan langsung dengan independensi politik.
Bachtiar melihat Gontor mampu melalui berbagai fase sejarah Indonesia karena tidak mengikat dirinya secara institusional kepada satu partai politik, organisasi massa, atau kekuatan pemerintahan tertentu.
Pondok tersebut hidup melalui masa kolonial, kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, hingga perubahan politik kontemporer.
Namun identitas kelembagaannya tetap dipertahankan.
“Gontor tak tergadai oleh kekuasaan,” kata Bachtiar.
Ia mengatakan independensi tersebut bukan berarti alumni Gontor tidak boleh berpolitik. Para alumninya justru tersebar di berbagai organisasi, partai, profesi, dan kelompok masyarakat.
Yang dijaga adalah pondok sebagai institusi.
Prinsip “berdiri di atas dan untuk semua golongan” membuat pesantren tidak berubah menjadi instrumen kelompok tertentu.
Menurut Bachtiar, pilihan itu juga menjelaskan mengapa Gontor lebih menekankan pembangunan manusia melalui pendidikan daripada menjadikan institusi pesantren sebagai kendaraan politik.
PENDIDIKAN MENJADI MESIN PERAWAT
Tetapi nilai dan wakaf tidak akan bertahan hanya karena dituliskan dalam dokumen.
Menurut Bachtiar, dibutuhkan sebuah “mesin” yang terus menerus mentransmisikan nilai tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Mesin itu adalah pendidikan.
“Mesin perawatnya pendidikan. Bagaimana nilai ini lintas generasi,” katanya.
Dalam kasus Gontor, Bachtiar menunjuk sistem KMI, kehidupan asrama selama 24 jam, organisasi santri, disiplin, penugasan, serta pengabdian alumni sebagai mekanisme yang membuat nilai tidak berhenti sebagai slogan.
Santri tidak hanya mempelajari teori mengenai kepemimpinan. Mereka dilatih mengatur organisasi, bertanggung jawab terhadap kegiatan, menjalankan disiplin, dan kemudian mengabdi setelah menyelesaikan pendidikan.
Dari sistem semacam itulah regenerasi berlangsung.
Bukan hanya kiai yang berganti, tetapi kader untuk mengelola sekolah, pesantren, ekonomi, organisasi, dan berbagai bagian kehidupan lembaga terus dipersiapkan.
BELAJAR DARI GONTOR DAN TAZAKKA
Bachtiar mengatakan model seperti Gontor tidak harus disalin secara persis oleh pesantren lain.
Setiap lembaga mempunyai kondisi sosial, sejarah, dan lingkungan yang berbeda. Namun prinsip-prinsip mengenai wakaf, kaderisasi, kemandirian, kepemimpinan, dan kesinambungan dapat dipelajari.
Ia juga menyebut Pondok Modern Tazakka sebagai salah satu contoh konkret pesantren yang mengembangkan sistem pemberdayaan dengan akar pendidikan Gontor tetapi berkembang sesuai konteksnya sendiri.
“Saran saya, boleh studi banding ke sana. Lihat langsung bagaimana sistem dikembangkan,” katanya.
Menurut Bachtiar, pesantren membutuhkan contoh nyata untuk melihat bagaimana prinsip kemandirian diterjemahkan dalam organisasi dan kehidupan sehari-hari.
Bukan sekadar teori mengenai pesantren berdaya, tetapi praktik tentang bagaimana aset dikelola, kader dipersiapkan, sumber ekonomi dibangun, dan kepemimpinan diteruskan.
SERATUS TAHUN KEDUA
Bagi Bachtiar, pertanyaan yang sekarang jauh lebih penting bukan lagi sekadar bagaimana Gontor berhasil mencapai usia seratus tahun.
Pertanyaannya adalah bagaimana nilai tersebut dibawa memasuki seratus tahun kedua.
Sebab tantangan yang akan dihadapi pesantren tidak akan sama dengan tantangan pada 1926.
Teknologi berkembang dengan cepat. Pola pikir generasi muda berubah. Struktur ekonomi berubah. Hubungan masyarakat dengan agama, pendidikan, politik, dan pekerjaan juga terus mengalami transformasi.
Karena itu, kemampuan bertahan tidak dapat hanya mengandalkan nostalgia terhadap masa lalu.
Pesantren harus mempertahankan asas sambil terus memperbarui cara.
Bachtiar menyebut Panca Jiwa, Panca Jangka, moto pendidikan, prinsip berdiri di atas dan untuk semua golongan, serta sistem wakaf sebagai bagian dari nilai yang membuat kesinambungan tersebut mungkin dijaga.
Namun semua instrumen itu pada akhirnya kembali pada kualitas manusia yang menjalankannya.
Ia merangkum sikap yang harus terus dirawat dengan empat kata: sabar, tawakal, ikhlas, dan ridha.
Bachtiar kemudian menggunakan ungkapan yang kuat untuk menggambarkan tugas seorang kiai.
“Kalau jadi kiai, tugas pertama adalah bocorkan rahmat. Bikin kanal, pipa rahmah dari langit. Tak usah sibuk cari proposal.”
Pesannya sederhana tetapi mendasar.
Pesantren yang ingin berumur panjang tidak dapat hanya sibuk membangun gedung atau mengumpulkan aset. Ia harus terlebih dahulu membangun alasan mengapa lembaga tersebut layak untuk terus hidup.
Gontor, dalam pembacaan Bachtiar Nasir, memberi satu pelajaran penting setelah melewati satu abad: manusia dapat meninggal, pemimpin dapat berganti, dan zaman dapat berubah.
Tetapi apabila nilai telah berubah menjadi sistem, sistem melahirkan kader, dan aset telah diwakafkan untuk kepentingan umat, sebuah pesantren dapat hidup jauh lebih lama daripada para pendirinya.

Comment