JAKARTA, UBN NEWSROOM — Kamis, 23 Rabiul Akhir 1448 H / 14 Oktober 2026 M.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031 dijadwalkan dilantik di Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Sehari sebelumnya, jajaran pengurus akan mengikuti rapat koordinasi perdana untuk mempersiapkan dan menyelaraskan program kerja organisasi.
Wakil Ketua Umum PBNU H. Saifullah Yusuf mengatakan, persiapan pelantikan dan rapat koordinasi tersebut tengah dilakukan. Adapun lokasi rapat koordinasi pada Jumat, 23 Oktober 2026, masih dalam tahap pencarian dan kemungkinan akan dilaksanakan di salah satu hotel di Jakarta.
“Untuk pelantikan, nanti di tempatnya di (Pesantren) Al-Hamid, di Cilangkap, di Jakarta Timur, di tempat Gus Lukman. Di sana nanti pelantikannya tanggal 24 pagi, hari Sabtu. Sementara rakornya ini lagi kita cari tempatnya masih. Mungkin di salah satu hotel di Jakarta,” ujar Gus Ipul, sapaan akrabnya, seusai Rapat Gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (14/10/2026), sebagaimana dikutip dari NU Online.
RAKOR PERDANA MATANGKAN PROGRAM KERJA
Menurut Gus Ipul, rapat koordinasi perdana menjadi bagian penting dari persiapan kepengurusan baru. Forum tersebut akan digunakan untuk membahas dan menyelaraskan program kerja sekaligus memperkuat koordinasi antarpengurus sebelum pelantikan.
“Lalu tanggal 23-nya akan ada rakor, Rapat Koordinasi Perdana di Jakarta. Tanggal 24-nya nanti akan ada pengukuhan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tahun 2026 sampai tahun periode tahun 2026–2031,” ucapnya.
Gus Ipul berharap seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar. Ia menyebut para pengurus memiliki semangat yang sama untuk mendampingi, mendukung, dan membantu Rais Aam serta Ketua Umum PBNU dalam menjalankan hasil-hasil Muktamar NU.
“Dalam kaitan itu, tentu semua sedang dipersiapkan, mudah-mudahan semua berjalan dengan lancar. Ini yang, saya kira, menjadi bahasan dalam rapat pertama ini. Kita bersyukur semua pengurus punya semangat yang sama, semangat untuk mendampingi, mendukung, membantu Rais Aam dan Ketua Umum melaksanakan hasil-hasil muktamar,” ungkapnya.

KEHADIRAN PRESIDEN MASIH MENUNGGU ARAHAN
Terkait kemungkinan kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam pelantikan tersebut, Gus Ipul mengatakan bahwa hal itu belum dibahas lebih lanjut. Kepastian mengenai kehadiran Presiden masih menunggu arahan dari Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
“Belum sampai ke sana, itu nanti semua menunggu arahan dari Rais Aam dan Ketua Umum,” ujarnya.
Sementara itu, Katib Aam PBNU Prof. Mohammad Nuh menjelaskan bahwa rapat koordinasi pada Jumat, 23 Oktober 2026, akan menjadi kesempatan bagi para wakil ketua umum untuk memaparkan program kerja masing-masing. Dengan demikian, pengurus diharapkan dapat mempersiapkan agenda organisasi sebelum pengukuhan kepengurusan pada hari berikutnya.
“Nanti 24 akan dilakukan pengukuhan kepengurusan ini insyaallah di Al Hamid, tapi diawali dulu dari rapat koordinasi ya rakor di Jakarta nanti kita cari tempatnya itu. Jadi Jumat (23 Oktober), rapat koordinasi saja itu. Setiap wakil ketua umum sudah menyiapkan programnya apa saja,” kata Mohammad Nuh.
SARUNG JADI SIMBOL IDENTITAS KESANTRIAN
Selain persiapan program kerja dan pelantikan, pengurus PBNU juga berencana mengenakan sarung dalam agenda pengukuhan. Mohammad Nuh menjelaskan, pilihan tersebut merupakan simbol identitas kesantrian sekaligus bentuk kepedulian untuk merawat tradisi pesantren.
“Menunjukkan kesantrian. Iya. Bagian dari ngeman-ngeman atau ngopen-ngopen tradisilah,” tuturnya.
Rangkaian rapat koordinasi dan pengukuhan ini menjadi bagian dari persiapan PBNU masa khidmah 2026–2031 untuk menjalankan hasil Muktamar NU. Selain menyelaraskan program, agenda tersebut diharapkan memperkuat kebersamaan pengurus dalam mendukung kepemimpinan organisasi dan menjaga tradisi Nahdlatul Ulama.

Comment