SELAT HORMUZ, UBN NEWSROOM — Senin, 8 Jumadil Awal 1448 H / 19 Oktober 2026 M.
Sebuah kapal tanker minyak dilaporkan terbakar setelah mengalami ledakan di ruang mesin ketika melintasi bagian selatan Selat Hormuz. Dalam laporan yang dipublikasikan Senin, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan kapal tersebut terkena ranjau laut saat mencoba melewati jalur yang dianggap tidak sah oleh otoritas Iran.
Menurut pernyataan IRGC yang dikutip Anadolu Agency, kapal tersebut diduga menonaktifkan sistem pemosisian dan navigasinya serta menggunakan rute yang tidak diizinkan. Namun, identitas kapal, bendera negara, kondisi awak, dan tingkat kerusakan belum dijelaskan secara lengkap dalam laporan tersebut. Klaim mengenai penyebab ledakan juga belum terverifikasi secara independen.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ancaman terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz. Al Jazeera melaporkan pada 18 Oktober bahwa IRGC menyebut dua kapal tanker mengalami kebakaran setelah menghantam ranjau laut. Iran menuding kapal-kapal tersebut menggunakan jalur tidak resmi, sementara Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) membantah klaim Iran mengenai ranjau dan menyatakan bahwa kapal-kapal mengalami serangan proyektil. Perbedaan keterangan tersebut membuat penyebab setiap insiden perlu diperiksa secara terpisah.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang sebelum perang menyalurkan sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. Gangguan lalu lintas di kawasan ini berdampak pada kekhawatiran pasokan, biaya pengiriman, dan volatilitas pasar energi internasional. Reuters melaporkan Brent ditutup pada US$109,86 per barel pada Jumat, 16 Oktober, sebelum turun sekitar 1,7% menjadi US$107,95 pada Senin, 19 Oktober, di tengah perubahan sentimen pasar dan ketidakpastian geopolitik.
Iran terus membatasi pelayaran melalui selat tersebut dan menuntut kapal mengikuti ketentuan transit yang ditetapkan Teheran. Sementara itu, Amerika Serikat mempertahankan tekanan militernya terhadap Iran. Kondisi ini membuat perusahaan pelayaran menghadapi risiko keamanan yang tinggi, meskipun tingkat gangguan dan penyebab setiap serangan tidak selalu dapat dipastikan secara independen.
Rangkaian insiden tersebut memperlihatkan bahwa Selat Hormuz bukan hanya titik rawan konflik militer, tetapi juga jalur penting bagi stabilitas energi dunia. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kondisi keamanan di laut, kebijakan kedua pihak, serta kemungkinan tercapainya kesepakatan yang menjamin keselamatan pelayaran internasional.

Comment