AMMAN, UBN NEWSROOM — Ahad, 7 Jumadil Awal 1448 H / 17 Oktober 2026 M.
Gerakan boikot terhadap sejumlah merek yang dipersepsikan terkait dengan Israel ikut mengubah pilihan konsumsi sebagian masyarakat Jordania. Di sektor makanan cepat saji, Junior’s muncul sebagai salah satu alternatif lokal yang dipilih konsumen untuk menggantikan McDonald’s, termasuk karena menawarkan menu dan cita rasa yang dinilai serupa.
Fenomena tersebut ditemukan Tim UBN Newsroom saat mewawancarai seorang warga Jordania di Amman. Ia mengatakan keputusan beralih dari McDonald’s berkaitan langsung dengan isu Palestina.
“Setelah apa yang mereka lakukan terhadap Palestina, semua warga Jordania lebih memilih pergi ke Junior’s,” ujarnya kepada Tim UBN Newsroom.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan narasumber dan tidak dapat dengan sendirinya mewakili seluruh masyarakat Jordania. Namun, kemunculan Junior’s sebagai alternatif McDonald’s juga terlihat dalam percakapan konsumen lokal dan ulasan kuliner di Amman.

Boikot McDonald’s Menguat Sejak Perang Gaza
Gelombang boikot terhadap McDonald’s menguat di berbagai negara setelah pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023. Salah satu pemicunya adalah tindakan operator waralaba McDonald’s di Israel saat itu yang mengumumkan pemberian makanan gratis kepada tentara Israel.
Namun, tindakan tersebut dilakukan oleh pemegang waralaba McDonald’s di Israel dan bukan kebijakan seluruh jaringan global. McDonald’s juga menyatakan tidak mendanai atau mendukung pemerintah mana pun dalam konflik tersebut. Kontroversi itu tetap memicu reaksi konsumen dan gerakan boikot di sejumlah negara, khususnya di kawasan dengan populasi Muslim yang besar. McDonald’s kemudian mengambil alih bisnis waralabanya di Israel pada 2024.
Junior’s Hadir dengan Menu yang Familiar
Di tengah perubahan tersebut, Junior’s berkembang sebagai jaringan makanan cepat saji lokal di Amman. Sejumlah menu, mulai dari burger, kentang goreng, nugget, menu sarapan hingga minuman kopi, memiliki konsep yang dinilai konsumen familiar dengan McDonald’s.
Hal serupa disampaikan warga Jordania yang ditemui Tim UBN Newsroom. “Rasa burgernya benar-benar mirip dengan McDonald’s. Menunya juga hampir sama,” katanya.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa boikot tidak selalu berarti konsumen harus meninggalkan kebiasaan menikmati makanan cepat saji. Ketika alternatif lokal tersedia dengan produk yang familiar, pilihan konsumsi dapat bergeser dari merek global menuju pemain lokal.

Comment