SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasional
Home » AQL Humanity Salurkan Bantuan ke Penyintas Gempa di Manggarai, NTT

AQL Humanity Salurkan Bantuan ke Penyintas Gempa di Manggarai, NTT

MANGGARAI | UBN Newsroom — Senin, 5 Rabiul Awal 1448 H / 17 Agustus 2026 M.AQL Humanity menyalurkan bantuan sembako dan makanan ringan untuk anak-anak penyintas gempa bumi di Kampung Batok, Desa Salama, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (17/8/2026).

Bantuan tersebut merupakan bagian dari program Kedaulatan Pangan, Ketangguhan Bangsa yang digelar dalam rangka menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia. Program tersebut menargetkan penyaluran 81 ribu paket makanan dan 81 ribu paket sembako.

Kampung Muslim Masih Bertahan di Pengungsian

Kampung Batok merupakan perkampungan Muslim di Desa Salama. Warga setempat menyebut terdapat sekitar 80 kepala keluarga (KK) dengan jumlah penduduk sekitar 200 jiwa.

Pascagempa, warga masih bertahan di tenda-tenda pengungsian dan mengoperasikan tiga dapur umum. Warga juga belum berani kembali ke rumah karena gempa susulan masih terjadi.

Ribuan warga masih mengungsi, bantuan gempa Flores terus dikebut

Mereka hanya masuk ke rumah untuk mengambil pakaian atau barang yang diperlukan.

“Masuk ambil pakaian saja kita. Hitungan detik saja cepat ke luar, tidak boleh lama di dalam,” kata warga Kampung Batok, Irwan Yusuf (49), kepada tim.

Irwan mengatakan kebutuhan utama warga saat ini adalah makanan, terutama makanan ringan bagi anak-anak. Selain itu, warga membutuhkan obat-obatan karena terdapat sejumlah anak yang mengalami sakit selama berada di pengungsian.

“Yang dibutuhkan hari-hari ini kebutuhan snack, makanan. Nanti baru obat-obatan, ada juga anak-anak yang sakit di sini,” ujarnya.

Bantuan Belum Menjangkau Warga

Prabowo Ajukan Penjualan KRI Ki Hajar Dewantara ke DPR

Menurut Irwan, sebelum bantuan AQL Humanity tiba, warga belum menerima bantuan dari pihak lain. Kebutuhan sehari-hari dipenuhi secara swadaya melalui dapur umum yang didirikan warga.

“Belum ada bantuan masuk. Bantuan sekecil apa pun belum tersentuh di sini,” katanya.

Ia menuturkan, warga biasanya makan tiga kali sehari dari dapur umum. Namun, kebutuhan makanan untuk anak-anak terkadang lebih banyak karena mereka tidak mengikuti pembatasan porsi seperti orang dewasa.

Kondisi tersebut membuat bantuan makanan ringan bagi anak-anak menjadi salah satu kebutuhan yang cukup mendesak di lokasi pengungsian.

Gempa Susulan Masih Menimbulkan Trauma

Titiek Soeharto Soroti Bantuan Presiden Belum Tiba di Pengungsian Gempa NTT

Selain persoalan pangan, warga menghadapi trauma akibat gempa susulan yang masih dirasakan.

Irwan mengatakan gempa susulan masih terjadi, termasuk gempa yang dirasakan sekitar 20 menit sebelum wawancara berlangsung.

“Begitu anak-anak lihat (gempa), langsung lari. Masih lumayan tinggi, masih kuat,” ujarnya.

Gempa juga menyebabkan dua warga Kampung Batok meninggal dunia. Keduanya adalah Ruslin Ahmad Iskandar, sekitar 58 tahun, dan Maimunah Ahmad, sekitar 54 tahun.

Irwan menuturkan, salah seorang korban meninggal ketika berusaha kembali masuk ke rumah untuk menolong cucunya. Korban sebelumnya telah berada di luar rumah, tetapi kembali masuk ketika situasi gempa terjadi.

Menurut dia, kedua korban merupakan satu laki-laki dan satu perempuan. Salah satu korban bahkan masih sempat berkomunikasi sebelum akhirnya meninggal dunia.

Listrik Kembali Menyala, Warga Tetap Waspada

Sementara itu, listrik yang sempat padam total setelah gempa kembali menyala pada Ahad malam sekitar pukul 23.00 waktu setempat.Selama listrik padam, warga menggunakan minyak tanah dan obor untuk penerangan.

Meski listrik telah kembali menyala, warga masih memilih bertahan di tenda-tenda pengungsian karena khawatir terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Masjid Rusak, Aktivitas Al-Qur’an Tetap Berjalan

Kampung Batok merupakan perkampungan yang seluruh warganya beragama Islam. Di wilayah tersebut terdapat Masjid Baiturrahman Batok yang menjadi pusat aktivitas keagamaan warga.

Masjid tersebut juga mengalami kerusakan akibat gempa.Meski demikian, aktivitas keagamaan, termasuk pembelajaran Al-Qur’an bagi anak-anak, tetap dilakukan di masjid tersebut dengan pendampingan penyuluh dari Kantor Urusan Agama (KUA).

Kondisi ini menunjukkan bahwa di tengah keterbatasan akibat bencana, masyarakat tetap berupaya mempertahankan kehidupan keagamaan dan aktivitas pendidikan anak-anak.

Warga Berharap Bantuan Terus Berdatangan

Irwan berharap bantuan untuk warga penyintas dapat terus berdatangan, terutama berupa makanan, kebutuhan anak-anak, dan obat-obatan.Ia mengatakan warga masih membutuhkan dukungan karena belum berani kembali ke rumah dan masih menghadapi ancaman gempa susulan.

“Belum ada bantuan masuk. Kebutuhan di sini masih banyak,” kata dia.

Perspektif UBN Newsroom

Ketika Bantuan Harus Menjangkau yang Belum Tersentuh

Kondisi Kampung Batok menunjukkan bahwa distribusi bantuan pascabencana perlu terus dipetakan hingga ke wilayah-wilayah yang belum tersentuh bantuan.

Bagi warga yang masih bertahan di pengungsian, bantuan bukan hanya soal jumlah, tetapi juga ketepatan kebutuhan. Makanan anak-anak, obat-obatan, penerangan, perlengkapan pengungsian, serta dukungan psikososial menjadi bagian penting dalam memastikan penyintas dapat melewati masa tanggap darurat.

Kehadiran AQL Humanity di Kampung Batok juga memperlihatkan pentingnya peran masyarakat sipil dalam melengkapi respons kebencanaan. Bantuan harus diberikan secara terukur, terkoordinasi, dan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.

Di tengah musibah, solidaritas tidak boleh berhenti pada rasa iba. Ia harus diwujudkan dalam tindakan yang mampu menjaga kehidupan, meringankan beban, dan menguatkan masyarakat agar mampu bangkit kembali.

Menolong Penyintas adalah Amanah

SyariatIslam memerintahkan umatnya untuk saling menolong dalam kebaikan. Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.”(QS. Al-Ma’idah [5]: 2)

Dalam perspektif maqāṣid al-syarī‘ah, bantuan kepada penyintas berkaitan erat dengan ḥifẓ al-nafs atau penjagaan jiwa. Memenuhi kebutuhan pangan, obat-obatan, tempat berlindung, dan perlindungan bagi anak-anak merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan manusia.

Terlebih ketika masyarakat masih menghadapi gempa susulan dan belum dapat kembali ke rumah, membantu mereka bertahan dengan aman merupakan bentuk nyata dari kepedulian dan tanggung jawab sosial.

Bencana menguji ketahanan masyarakat, tetapi juga menguji kepedulian kita. Karena itu, setiap bantuan yang diberikan dengan ikhlas bukan sekadar bantuan material, melainkan bagian dari amal kebajikan dan amanah kemanusiaan.

Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom serta Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui:

BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban

IslamIkuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Penulis: Tim UBN Newsroom

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement