Sosok Mbah Riyan jadi perbincangan, ulama bersahaja yang disebut menolak hadiri penerimaan MUI Awards
JAKARTA | UBN Newsroom–Nama Ibnu Harjo Al-Jawi, yang lebih dikenal sebagai Mbah Riyan, menjadi perbincangan luas di media sosial setelah beredar berbagai kisah mengenai kesederhanaan hidupnya serta kabar bahwa dirinya memilih tidak menghadiri prosesi penerimaan MUI Awards, meski disebut sebagai salah satu penerima penghargaan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, UBN Newsroom masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait informasi mengenai keikutsertaan Mbah Riyan sebagai penerima penghargaan maupun kabar ketidakhadirannya dalam acara tersebut.
Di tengah masyarakat, Mbah Riyan dikenal sebagai sosok ulama yang menjalani kehidupan sangat sederhana. Sejumlah warga menyebut ia pernah bekerja sebagai kuli bangunan dan kerap mengisi waktu luangnya dengan memancing. Penampilannya yang bersahaja membuat banyak orang tidak mengetahui latar belakang keilmuan yang dimilikinya.
Perbincangan publik semakin berkembang setelah muncul kesaksian dari seseorang yang mengaku sebagai kakak tingkat sekaligus pernah tinggal satu rumah indekos bersama Mbah Riyan semasa kuliah di Jakarta.
Dalam kesaksiannya, sahabat tersebut mengenang Mbah Riyan—yang saat itu dikenal dengan nama Supri—sebagai pribadi yang pendiam, rendah hati, serta sangat tekun menuntut ilmu. Ia disebut telah menghafal Al-Qur’an sejak muda dan istiqamah menjaga hafalannya melalui muroja’ah.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup selama menempuh pendidikan, Mbah Riyan juga disebut pernah berjualan kebab di kawasan Masjid Al-Ikhlas, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kisah tersebut melengkapi berbagai cerita lain mengenai perjuangannya yang pernah bekerja serabutan demi melanjutkan pendidikan.
Di media sosial juga beredar foto dan narasi yang menyebut Mbah Riyan merupakan lulusan terbaik LIPIA angkatan 2013. Narasi tersebut menyebut kapasitas akademiknya mendapat pengakuan para dosen karena ketelitian dalam melakukan tahqiq dan kajian terhadap kitab-kitab turats. Namun hingga kini, UBN Newsroom belum memperoleh konfirmasi resmi dari pihak LIPIA terkait klaim tersebut.
Sejumlah kalangan menilai kiprah Mbah Riyan lebih banyak diwujudkan melalui penelitian, tahqiq, ta’liq, serta pengkajian kitab-kitab turats daripada tampil di ruang publik. Jika informasi mengenai ketidakhadirannya pada MUI Awards benar adanya, sikap tersebut dipandang sebagian pihak sebagai cerminan sifat tawadhu’ dan khumul, yakni tidak mencari popularitas serta lebih mengutamakan keikhlasan dalam berkhidmat kepada ilmu.
Terlepas dari berbagai narasi yang masih memerlukan verifikasi, kisah Mbah Riyan mengingatkan bahwa kemuliaan seorang alim tidak selalu diukur dari ketenaran ataupun penghargaan yang diterimanya, melainkan dari ilmu yang diamalkan, karya yang diwariskan, dan manfaat yang dirasakan oleh umat.
Perspektif UBN Newsroom: Peradaban Islam & Soft Power Global
Peradaban Islam sepanjang sejarah dibangun oleh para ulama yang lebih mengutamakan ilmu, adab, dan pengabdian daripada popularitas. Warisan mereka bertahan bukan karena pencitraan, melainkan melalui karya ilmiah, pendidikan, dan pembinaan generasi. Di era media sosial yang sering menjadikan popularitas sebagai ukuran keberhasilan, kisah seperti Mbah Riyan menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah peradaban lahir dari ketulusan, keilmuan, dan akhlak yang kokoh.
Perspektif Syariah Compliance
Islam memuliakan orang-orang yang berilmu sekaligus mengajarkan sifat tawadhu’ dan ikhlas dalam beramal. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang merendahkan diri karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya. Semangat khumul tidak berarti menolak penghormatan, tetapi mengingatkan bahwa tujuan utama seorang penuntut ilmu adalah mencari ridha Allah SWT serta menghadirkan manfaat sebesar-besarnya bagi umat.
Penulis: Tim UBN Newsroom

Comment