SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Inspirasi Pendidikan
Home » Cerita Lucu Bachtiar Nasir Saat Nyantri di Gontor

Cerita Lucu Bachtiar Nasir Saat Nyantri di Gontor

JAKARTA | UBN Newsroom — Senin, 10 Rabiul Akhir 1448 H / 21 September 2026 M.

PONOROGO — Ada satu cerita lucu yang masih melekat dalam ingatan Bachtiar Nasir sejak menjadi santri Pondok Modern Darussalam Gontor. Cerita itu terjadi puluhan tahun lalu di kamar santri, tepatnya di Rayon Arinda.

Malam itu, para santri hendak salat berjamaah. Di antara mereka ada seorang santri bernama Zainal yang tiba-tiba punya keinginan kuat untuk menjadi imam.

Keinginan menjadi imam tentu bukan sesuatu yang aneh. Namun, malam itu Zainal ternyata memiliki “misi” lain yang baru diketahui para makmum setelah salat berlangsung.

Al-Kafirun yang Diulang-Ulang

MUI Dorong Kesiapan Pelaksanaan Wajib Halal Oktober 2026

Salat pun dimulai. Zainal berdiri di depan sebagai imam, sementara para santri lainnya menjadi makmum.

Ketika membaca Surah Al-Kafirun, suasana mulai terasa berbeda.

Zainal melafalkan ayat demi ayat. Para makmum mengikuti dengan khusyuk. Namun, ketika bacaan mendekati bagian akhir surah, sesuatu yang aneh terjadi.

Ayat “Lakum diinukum wa liya diin” tak kunjung dibaca.

Zainal malah kembali mengulang ayat sebelumnya.

Prof Sudarnoto Dorong OKI Tindak Lanjuti Resolusi PBB untuk Palestina

Sekali.

Lalu sekali lagi.

Diulang lagi.

Para makmum mulai saling melirik. Ada yang menahan senyum. Ada pula yang mungkin mulai bertanya-tanya, mengapa Zainal tidak segera sampai ke ayat terakhir.

Padahal, Surah Al-Kafirun bukan surah yang asing bagi para santri. Mereka semua sudah hafal.

Pemerintah Membatasi Penggunaan Gawai di Lingkungan Sekolah Binaan Kemenag

Lama-kelamaan, para makmum mulai memahami. Zainal rupanya memang sengaja memperpanjang bacaan.

Ada sesuatu yang ingin ia lakukan setelah salat.

Ternyata Ada Misi Sepak Bola

Jawabannya muncul ketika salat memasuki bagian doa.

Ternyata, Zainal ingin mendoakan firqoh-nya.

Dalam istilah yang digunakan para santri ketika itu, firqoh berarti klub atau kelompok sepak bola. Klub yang didukung Zainal bernama Darussalam.

Dengan penuh keyakinan, Zainal pun berdoa:

“Allahummaj’al firqoh Darussalam ghalib.”

Artinya, “Ya Allah, jadikanlah klub Darussalam sebagai pemenang.”

Sebagai imam, tentu Zainal berharap para makmum menyambut doanya dengan serempak.

“Aamiin.”

Namun, yang terdengar justru jawaban yang sama sekali berbeda.

“Laa takun, ya Allah!”

“Jangan, ya Allah!”

Imam Berdoa, Makmum Melawan

Doa sang imam untuk kemenangan Darussalam langsung mendapat “perlawanan” dari barisan makmum.

Bukannya mengamini, mereka justru kompak menolaknya.

Kelucuan itu tentu tidak lepas dari persaingan kecil antarklub sepak bola di kalangan santri. Bachtiar Nasir sendiri ketika itu bermain untuk klub rival, Meteor.

Jadi, ketika Zainal mendoakan Darussalam menjadi pemenang, para pendukung klub lain tentu memiliki kepentingan yang berbeda.

Sepak bola pun seolah ikut masuk ke dalam salat berjamaah.

Tawa yang Bertahan Puluhan Tahun

Bachtiar Nasir kembali menceritakan kisah tersebut dalam acara silaturahim 100 tahun Pondok Modern Gontor, saat ramah tamah bersama para alumni senior di BPPM atau Qo’ah, Sabtu malam, 19 September 2026.

Cerita itu sederhana. Hanya tentang seorang santri yang ingin menjadi imam dan diam-diam ingin menyelipkan doa untuk klub sepak bola kesayangannya.

Namun, justru kesederhanaan itulah yang membuatnya menjadi kenangan.

Kehidupan santri memang penuh cerita. Mereka tinggal bersama dalam satu kamar, makan bersama, belajar bersama, salat berjamaah, bermain sepak bola, sekaligus saling menggoda.

Kelucuan-kelucuan kecil seperti itulah yang kemudian berubah menjadi kenangan besar ketika usia telah jauh meninggalkan masa-masa nyantri.

“Laa Takun, Ya Allah!”

Zainal mungkin sudah lupa detail kejadian malam itu. Tetapi bagi para makmum di Rayon Arinda, ada satu bagian yang sulit dilupakan.

Ketika sang imam berusaha mendoakan agar Darussalam menang, para makmum justru kompak menjawab:

“Laa takun, ya Allah!”

“Jangan, ya Allah!”

Puluhan tahun berlalu. Para santri telah menjadi alumni dengan jalan hidup masing-masing. Namun, satu doa sepak bola dari seorang imam bernama Zainal tetap menjadi cerita yang mampu menghidupkan kembali suasana masa lalu.

Sebab di Gontor, kenangan nyantri tidak selalu lahir dari pelajaran di kelas. Kadang, ia justru muncul dari sebuah kamar, sebuah salat berjamaah, sebuah klub sepak bola, dan jawaban makmum yang membuat semua orang tertawa.

Perspektif UBN Newsroom | Kenangan yang Menjadi Perekat Persaudaraan

Cerita tentang Zainal dan doa untuk klub Darussalam memperlihatkan sisi lain kehidupan santri yang tidak selalu tercatat dalam pelajaran formal. Kehidupan bersama di pesantren juga dibentuk oleh interaksi sehari-hari, persahabatan, permainan, candaan, serta pengalaman sederhana yang kemudian melekat sepanjang usia.

Kenangan semacam itu dapat menjadi bagian dari kekuatan persaudaraan alumni. Perbedaan pilihan klub sepak bola pada masa lalu tidak menghapus hubungan yang dibangun melalui kehidupan bersama di pondok.

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

(QS. Al-Hujurat [49]: 10)

Persaudaraan yang tumbuh di lingkungan pendidikan tidak selalu terbentuk melalui nasihat formal. Ia juga dapat tumbuh dari pengalaman hidup bersama: tidur dalam kamar yang sama, belajar bersama, beribadah bersama, bermain, bercanda, hingga menghadapi berbagai dinamika sebagai santri.

Dalam konteks ini, cerita lucu bukan sekadar hiburan. Kenangan yang dibagikan dengan cara yang baik dapat menjadi jembatan yang mempertemukan kembali orang-orang yang pernah tumbuh dalam satu lingkungan.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa menghadirkan kegembiraan dalam hubungan antarsaudara merupakan bagian dari kebaikan. Dalam hadis riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa tersenyum kepada saudara termasuk sedekah.

Karena itu, humor dalam kisah kehidupan santri dapat menjadi bagian dari kehangatan persaudaraan selama tetap berada dalam batas adab, tidak mengandung kebohongan, penghinaan, atau merendahkan pihak lain.

Yang juga penting, kelucuan dalam kisah tersebut berada pada kenangan dan persaingan ringan antarklub, bukan menjadikan ibadah sebagai bahan permainan. Justru dari kisah itu dapat terlihat bagaimana pengalaman sederhana di masa muda dapat menjadi memori yang mempererat hubungan ketika para santri telah menjalani kehidupan masing-masing.

Menghargai Masa Lalu dengan Rasa Syukur

Perjalanan pendidikan tidak hanya meninggalkan pengetahuan, tetapi juga membentuk pengalaman, kedisiplinan, dan ikatan emosional antargenerasi. Kisah-kisah ringan seperti ini mengingatkan bahwa masa nyantri memiliki banyak dimensi, termasuk kegembiraan dan kebersamaan.

Dalam momentum seabad Gontor, kenangan para alumni dapat menjadi bagian dari refleksi tentang perjalanan panjang pendidikan, persaudaraan, dan nilai-nilai kehidupan yang terus dibawa setelah seseorang meninggalkan pondok.

Mengenang masa lalu bukan berarti berhenti di masa lalu. Kenangan justru dapat menjadi pengingat tentang orang-orang yang pernah membersamai perjalanan, nilai yang pernah ditanamkan, dan persaudaraan yang patut terus dijaga.

Dukungan Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom hadir sebagai bagian dari ikhtiar dakwah dan jurnalisme peradaban untuk menyampaikan informasi yang teruji, mencerdaskan umat, serta menghadirkan perspektif Islam dalam membaca berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat dan dunia.

Keberlangsungan kerja dakwah dan jurnalisme membutuhkan dukungan bersama. Setiap dukungan yang diberikan menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga keberlanjutan produksi konten, peliputan, riset, verifikasi informasi, dan penyebaran narasi yang membawa kemaslahatan bagi umat.

Dukungan operasional dapat disalurkan melalui:

BSI 7779700091

a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.

Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement